Beranda / Ragam Berita / Warga Kampung Omon keluhkan minimnya MCK layak

Warga Kampung Omon keluhkan minimnya MCK layak

MCK sederhana, tapi di sinilah warga sehari-hari membutuhkan untuk mandi, cuci, dan kakus. (TIFAPOS/La Ramah)

 

Ringkasan Berita

• Tidak ada fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK) umum atau pribadi yang layak.

• Warga terpaksa mandi di sungai atau menggunakan kakus sementara yang tidak higienis.

• Diharapkan pemerintah daerah merespons keluhan warga yang hidup terisolir.

 

WARGA Kampung Omon, Distrik Gresi Selatan, Kabupaten Jayapura, Papua, mengeluhkan minimnya fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK) yang layak.

Meski dana kampung tahun 2025 mencapai Rp 907 juta, alokasi untuk pembangunan MCK terhambat biaya ongkos angkut material dari kota yang mahal.

Keluhan ini disuarakan warga di tengah upaya pemerintah daerah meningkatkan kesejahteraan warga termasuk adanya MCK.

Kampung Omon, yang terletak di wilayah hutan tropis di pedalaman Papua memiliki populasi 300 jiwa dari 50 kepala keluarga.

Sebagian besar warga menggantungkan hidup dari berburu. Namun, fasilitas sanitasi menjadi masalah krusial.

Hingga kini, tidak ada MCK umum yang tersedia, bahkan setiap rumah tidak memiliki MCK pribadi.

Akibatnya, banyak warga terpaksa mandi di sungai atau menggunakan kakus sementara yang tidak higienis, berisiko penyakit kulit dan diare.

Warga Kampung Omon Sofia Tet menyampaikan kekecewaannya dan membutuhkan MCK yang memadai.

Dana kampung Rp 907 juta memang ada, tapi belum cukup karena membeli barang di kota habis hanya untuk ongkos angkut.

“Material semen hingga pipa harus diangkut dari Jayapura atau Sentani, ongkosnya bisa puluhan juta. Kalau dana habis untuk itu, MCK-nya mundur terus,” ujar Tet di Kampung Omon, Kamis, 18 Desember 2025.

Kepala Kampung Omon Frans Tabisu membenarkan persoalan tersebut.

“Benar, dana Rp 907 juta kami alokasikan untuk berbagai program, bahkan untuk pengadaan jalan pun tidak mencukupi. Tapi prioritas MCK tinggi karena ini menyangkut kesehatan masyarakat,” ujar Tabisu.

“Ongkos angkut memang membebani, apalagi lokasi kami jauh dari pusat distribusi. Jangankan MCK, listrik dan internet kami tidak ada,” ujar Tabisu.

“Kami siap gotong royong kalau materialnya ada. Yang penting, anak-anak dan perempuan tak lagi kesulitan,” sambungnya.

Pendamping Distrik Gresi Selatan Hermon Asmuruf menambahkan rana kampung memang terbatas, dan biaya logistik memang tinggi.

“Harapan kami agar pemerintah daerah merespons keluhan warga, karena sudah bertahun-tahun mereka hidup terisolir bahkan MCK saja tidak punya,” ujar Asmuruf.

Menurutnya, isu ini mencerminkan tantangan pembangunan di wilayah pedalaman Papua. Data Komunitas Medis Papua Tanpa Batas, warga peling banyak mengalami penyakit malaria, ISPA, dan penyakit kulit.

Faktor geografis seperti jarak dan medan sulit sering menghambat. Warga Omon berharap intervensi cepat agar sanitasi tak lagi jadi momok.

Harapannya, Kampung Omon segera lepas dari belenggu keterbelakangan sanitasi, mendukung visi Papua sehat dan mandiri.

(ldr)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *