Beranda / Ragam Berita / Warga Kampung Omon bertahan hidup bergantung penuh pada alam di pedalaman Papua

Warga Kampung Omon bertahan hidup bergantung penuh pada alam di pedalaman Papua

Ondoafi Kampung Omon hidup selaras dengan hutan di gubuk sederhana beratap daun sagu di tengah lebatnya rimba, menjaga tradisi dan alam yang menjadi rumah mereka. Ia menyambut hangat tim Komunitas Medis Papua Tanpa Batas. (TIFAPOS/La Ramah)

 

Ringkasan Berita

• Ancaman penebangan liar dan iklim ekstrem terhadap keberlanjutan hutan sebagai warisan.

• Siap belajar bertani modern jika ada akses.

• Anak-anak tidak sekolah karena membantu orang tua.

 

DI TENGAH hutan lebat pedalaman Papua, Kampung Omon di Distrik Gresi Selatan, Kabupaten Jayapura, menjadi saksi ketangguhan masyarakat adat Suku Elseng yang masih bergantung sepenuhnya pada alam untuk bertahan hidup.

Dengan populasi 300 jiwa, warga kampung ini menghadapi keterbatasan akses infrastruktur dasar seperti jalan, listrik, air bersih, sekolah, dan puskesmas, memaksa mereka mengandalkan sumber daya alam secara tradisional.

Kepala Kampung Omon, Frans Tabisu, menegaskan gaya hidup ini merupakan warisan leluhur yang sulit digantikan.

“Mayoritas warga kami mengandalkan alam untuk bertahan hidup. Makanan utama dari berburu binatang liar dan sagu,” ujar Tabisu saat ditemui di kampungnya, Kamis, 18 Desember 2025.

Ia menambahkan kesulitan semakin terasa karena sulit menjual hasil buruan akibat akses jalan yang buruk.

Hanya satu jalur tanah setapak sepanjang 15 kilometer yang sering longsor bisa dilalui, membutuhkan waktu berjam-jam untuk mencapai kampung terdekat.

Meski demikian, dikatakan Tabisu, warga Kampung Omon tetap optimis dan berharap 2026 jadi titik balik dengan bantuan pemerintah.

“Kami siap belajar bertani modern, asal ada akses. Saat ini kami menanam sagu 500 pohon agar warga tidak lagi ke hutan untuk mencari makanan,” ujar Tabisu.

Rutinitas harian warga mencerminkan ketergantungan total ini. Maria Tet, 45 tahun, ibu rumah tangga dengan tiga anak, berbagi pengalaman hidupnya.

“Pagi-pagi saya dan anak laki-laki berburu rusa dengan panah tradisional. Siang cari sagu di hutan, malam masak di dapur terbuka. Air minum direbus dulu dari sungai, tapi listrik tidak ada,” ujar Tet.

Anak-anak kampung pun terpaksa tidak bersekolah karena harus membantu orang tua mencari nafkah.

Meski tangguh, Tet khawatir dampak jangka panjang sebab hutan semakin menipis akibat penebangan liar dan perubahan iklim.

“Buruan semakin langka, sungai kering di musim kemarau. Kami butuh bantuan pemerintah, seperti jalan layak, posyandu tetap, dan pelatihan pertanian modern agar tak selamanya bergantung pada alam mentah,” ujar Tet.

Pendeta Marikinus Koba, tokoh agama setempat, menggambarkan paradoks kaya alam Papua yang tak merata.

“Kekayaan alam berlimpah, tapi akses kesejahteraan terhambat infrastruktur. Saya berharap generasi mendatang tak lagi harus berburu untuk makan malam. Hutan bukan hanya sumber hidup, tapi warisan yang harus dijaga,” ujar Koba.

Menurut Koba, kondisi Kampung Omon mencerminkan tantangan pembangunan di wilayah Papua masih minim infrastruktur.

Ditambah medan sulit membuat aktivitas warga semakin terbatas, ekonomi terpuruk, kesejahteraan semakin tercekik oleh program-program yang tak kunjung terealisasi.

“Ketergantungan alam harus diimbangi konservasi. Penebangan liar dan iklim ekstrem mengancam keberlanjutan. Perlu program agroforestry dan pendidikan untuk suku adat,” ujar Koba.

(ldr)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *