Peserta festival publikasi bahasa dan sastra Port Numbay saat tampil. (TIFAPOS/Ramah)
TIFAPOS.id – Pemerintah Kota Jayapura melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan khususnya Bidang Kebudayaan terus berupaya agar masyarakat menjadi penutur aktif bahasa daerah.
Hal itu dilakukan dalam rangka revitalisasi, pelestarian, pendokumentasian bahasa daerah di masing-masing kampung di Port Numbay agar tidak punah salah satunya melalui festival pubilkasi bahasa dan sastra.
Publikasi Bahasa daerah ini merupakan kebijakan Program Merdeka Belajar Episode ke-17 yang bertajuk Revitalisasi Bahasa Daerah (MB-17: RBD) yang diluncurkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada Selasa, 22 Februari 2022.
Peluncuran kebijakan ini bertepatan dengan momen Hari Bahasa Ibu Internasional pada 21 Februari 2022.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Grace Linda Yoku, mengatakan publikasi bahasa adalah tahapan puncak dari rangkaian kegiatan
revitalisasi bahasa daerah.
“Festival pubilkasi bahasa dan sastra menampilkan peserta didik yang menang pada lomba pesta seni dan budaya 2022, ferstival bahasa ibu (bahasa Tobati 2023) dan festival tunas bahasa ibu (bahasa Tobati 2024),” ujar Grace di Grand Abe Hotel Jayapura, Kota Jayapura, Papua, Kamis (15/8/2024).
Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kota Jayapura merupakan instansi pemerintah yang bertugas melaksanakan pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra daerah.
Selain itu, bertanggung jawab
untuk menumbuhkan, memelihara, dan meningkatkan sikap positif masyarakat Kota Jayapura terhadap bahasa dan sastra Indonesia dan daerah.
“Menampilkan kebolehan mereka dalam berbahasa daerah, seperti stand up komedi, bercerita, menyanyi, mendongeng, cerpen dalam bahasa daerah di Port Numbay,” ujarnya.
Tujuan akhir dari publikasi bahasa adalah agar para penutur muda dapat menjadi penutur aktif bahasa daerah dan memiliki kemauan untuk mempelajari bahasa daerah dengan penuh suka cita melalui media yang mereka sukai.

“Memotivasi masyarakat pemilik bahasa karena peserta adalah masyarakat nusantara, seperti Jawa, Sumatera, Sorong, Biak, Serui, Sulawesi,” ujarnya.
Pelindungan bahasa daerah belum dilandasi pemikiran yang komprehensif/holistik dan integratif.
Dikatakan tidak komprehensif, karena hanya mengambil bagian kecil dari pelindungan bahasa, yaitu mendokumentasikan aspek kebahasaan dan mementaskan sastra lokal bersama masyarakat tutur.
Ada lima bahasa yang ditampilkan dalam festival tersebut, yaitu Bahasa Skouw, Tobati, Nafri, Sentani, Kayu Bayu karena masih banyak penuturnya, sudah diajarikan bahan ajar, kamus.
“Ini merupakan bagian dari melestarikan bahasa yang terancam punah. Jumlah peserta keseluruhan ada 60 orang baik peserta didik SD maupun SMP,” ujar Grace.






