TIFAPOS.id MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) adalah kegiatan yang wajib diikuti oleh siswa baru.
Tujuan MPLS untuk mengenalkan siswa baru dengan lingkungan sekolah, menggali potensi mereka, membantu adaptasi, serta memperkenalkan program, tata kelola, sarana prasarana, dan peraturan sekolah.
Selain itu, menciptakan lingkungan belajar yang aman, ramah anak, dan nyaman, serta membantu siswa baru beradaptasi dengan sistem pembelajaran dan budaya sekolah di kota masing-masing.
Contoh pelaksanaan MPLS SMPN 2 Jayapura, Kota Jayapura, Papua, berlangsung dengan penuh keceriaan dan antusiasme, dengan berbagai aktivitas bermanfaat dan menyenangkan.
Sebanyak 352 (dibagi 11 gugus atau kelas masing-masing 32 orang), antusias mengikuti kegiatan MPLS yang dilaksanakan selama tiga hari di minggu pertama tahun ajaran baru pada Juli 2025/2026, dengan materi pengenalan guru, sarana prasarana, kurikulum, pendidikan karakter, dan organisasi siswa.

SMPN 2 Jayapura mengadakan MPLS dengan jadwal dan kegiatan terstruktur, termasuk pengenalan kelas dan perlengkapan yang harus dibawa siswa.
Namun, kesempatan tersebut ada yang unik dalam pelaksanaan MPLS SMPN 2 Jayapura, yaitu setiap kelas berdasarkan nama-nama kota di Papua, seperti Sentani, Keerom, Kota Jayapura, Sarmi, Mamberamo Raya, Yapen, Waropen, Serui, Biak Numfor, Supiori.
Tujuan mengenalkan nama kota kepada siswa untuk membantu mereka mengenal wilayah dan identitas daerah tempat tinggalnya, yang merupakan bagian penting dari pembelajaran geografi dan budaya lokal.
Dengan mengenal nama kota, siswa dapat memahami keragaman wilayah, sejarah, dan budaya yang ada di sekitarnya, serta menumbuhkan rasa memiliki dan kebanggaan terhadap daerahnya.
Selain itu, pengenalan nama kota juga untuk memudahkan siswa memahami karakteristik daerah dan ibukota provinsi, sehingga mereka lebih mengenal Papua secara administratif dan geografis.
Meningkatkan rasa cinta tanah air dan identitas bangsa sejak dini, karena mengenal tempat tinggal adalah bagian dari mengenal budaya dan sejarah bangsa.
Dukungan terhadap proses adaptasi sosial dan lingkungan, terutama bagi siswa baru, agar mereka dapat berinteraksi dengan lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar dengan lebih baik.
Sebagai media pembelajaran interaktif yang menyenangkan, misalnya melalui aplikasi edukasi atau permainan yang mengenalkan nama-nama kota dan provinsi sehingga siswa lebih mudah menghafal dan memahami.
“Mengenalkan nama kota kepada siswa tidak hanya soal hafalan, tetapi juga membangun pemahaman geografis, budaya, identitas, dan keterikatan emosional terhadap lingkungan dan bangsa,” ujar Wakasek Kesiswaan sekaligus Ketua Panitia MPLS, Dra.Polin Timisela di SMPN 2 Jayapura, Senin (7/7/2025).

Kepala SMPN 2 Jayapura, Dorthea Carolien Enok, S.Pd mengharapkan, MPLS menjadi sarana efektif bagi siswa baru untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah.
Serta, mengenal tata tertib, budaya sekolah, serta membangun interaksi positif dengan teman dan guru, yang dianggap penting agar siswa merasa nyaman dan siap menjalani proses pembelajaran dengan baik.
Dia juga mengharapkan, MPLS dapat menanamkan nilai-nilai karakter seperti kedisiplinan, tanggung jawab, toleransi, dan sikap mental positif sesuai visi dan misi sekolah untuk membentuk pribadi siswa yang berakhlak baik dan bertanggung jawab.
Dapat menciptakan suasana yang kondusif dan menyenangkan, sehingga siswa baru dapat memulai tahun ajaran dengan semangat dan optimisme tinggi.
Sebagai momen untuk membangun persahabatan, kerja sama, dan jaringan sosial yang kuat antar siswa baru, guru, dan staf sekolah, sehingga tercipta komunitas sekolah yang harmonis.
MPLS juga dapat memotivasi siswa untuk mengenal budaya sekolah, ekstrakurikuler, dan mengembangkan potensi diri secara optimal, baik akademik maupun non-akademik.
“Keterlibatan orang tua dalam mendukung kegiatan MPLS sangat penting, agar proses adaptasi siswa menjadi lebih maksimal,” ujar Enok.

Dia juga mengatakan, keterlibatan orang tua dalam mendukung kegiatan MPLS, yaitu dukungan emosional kepada anak, membantu mereka mengelola perasaan cemas atau antusias saat memasuki lingkungan sekolah baru.
Orang tua juga menjadi pendengar yang baik dan memberikan semangat agar anak merasa aman dan nyaman.
Persiapan MPLS, seperti mempersiapkan perlengkapan sekolah, mengatur jadwal, memastikan anak mendapatkan istirahat dan nutrisi yang cukup, serta membicarakan sekolah secara positif agar anak siap secara mental dan emosional.
Berkomunikasi aktif dengan pihak sekolah dan guru, termasuk menghadiri pertemuan orang tua, mengikuti sesi orientasi, serta berbagi informasi dan perkembangan anak selama MPLS sehingga memperkuat sinergi antara rumah dan sekolah dalam mendukung anak.
Mendampingi anak selama MPLS, terutama pada hari-hari awal, untuk memberikan rasa aman dan mendukung adaptasi anak terhadap rutinitas dan lingkungan baru.
Orang tua juga dianjurkan untuk aktif menanyakan pengalaman anak di sekolah agar proses adaptasi berjalan baik.
Berpartisipasi dalam kegiatan MPLS bersama anak, misalnya mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas, membuat kerajinan, menggambar, atau aktivitas lain yang melibatkan orang tua dan anak secara langsung, sehingga mempererat hubungan dan mendukung proses belajar anak.
Melanjutkan penguatan pembelajaran dan nilai-nilai positif di rumah, dengan mendiskusikan kegiatan sekolah, menerapkan aturan dan rutinitas yang sama, serta memberikan pujian dan dorongan atas usaha anak selama masa adaptasi.
“Keterlibatan aktif dan positif dari orang tua, proses MPLS dapat berjalan lancar dan memberikan pengalaman yang menyenangkan serta mendukung perkembangan holistik anak di lingkungan sekolah baru,” ujar Enok.
Terkait nama kelas menggunakan nama kota di MPLS Tahun Ajaran 2025/2026, dengan tema “Menuju lingkungan belajar yang aman, nyaman, menggembirakan, dan berkarakter kuat” untuk mempererat rasa kebersamaan dan identitas siswa baru dengan lingkungan sekolah dan daerahnya.
Peserta MPLS dibagi menjadi gugus yang menggunakan nama-nama kota di Papua, yang dapat meningkatkan semangat kebangsaan dan pengenalan budaya daerah.
Selain itu, menekankan pentingnya MPLS sebagai momentum edukatif untuk mengenalkan siswa baru pada budaya, norma, tata tertib, serta lingkungan sekolah secara menyeluruh, termasuk pengenalan terhadap aturan anti kekerasan dan perundungan.
Hal ini menunjukkan bahwa MPLS bukan sekadar pengenalan fisik sekolah, tapi juga pembentukan karakter dan identitas siswa yang terintegrasi dengan lingkungan sosial dan kulturalnya.
“MPLS dengan nama kota atau nama daerah sebagai bagian dari strategi untuk membangun semangat kekeluargaan, kebanggaan daerah, dan menciptakan suasana sekolah yang inklusif serta kondusif bagi perkembangan siswa baru,” ujar Enok.

Dia juga mengatakan, kearifan lokal mengandung nilai-nilai luhur yang menjadi dasar pembentukan karakter seperti kejujuran, ketekunan, keberanian, rasa hormat, dan sikap positif lainnya.
Benteng dari pengaruh budaya luar yang negatif, sehingga peserta didik dapat mempertahankan identitas dan nilai-nilai budaya bangsa.
Sumber nilai karakter yang relevan dan kontekstual, yang mudah dipahami dan diaplikasikan oleh siswa karena berasal dari lingkungan dan budaya mereka sendiri.
Media pembelajaran yang memotivasi siswa untuk mengembangkan sikap positif seperti ketekunan, toleransi, rasa percaya diri, dan semangat pantang menyerah.
Landasan pembentukan kebiasaan baik karena karakter terbentuk dari kebiasaan yang sering dilakukan, dan kearifan lokal menyediakan norma dan tradisi yang mengarahkan kebiasaan tersebut.
Penguatan mental dan moral peserta didik sejak dini, sehingga mereka siap menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Dalam konteks MPLS, integrasi kearifan lokal membantu siswa baru mengenal dan menghayati nilai-nilai budaya setempat yang sekaligus membangun karakter positif sebagai bekal mereka dalam proses pembelajaran dan kehidupan bermasyarakat.
“Kearifan lokal menjadi fondasi penting dalam pendidikan karakter selama MPLS dengan menanamkan nilai-nilai budaya yang membentuk kepribadian peserta didik yang berakhlak, bertanggung jawab, dan berdaya saing,” ujar Enok.
(lrh)






