Aifa Community sedang mengemas kepiting dari Distrik Demba yang akam dikirim menggunakan kapal perintis Sabuk Nusantara ke Kota Jayaputa dari Kabupaten Waropen. (TIFAPOS/Sudjarwo)
TIFAPOS.id – Masyarakat di Kampung Mayaghaido, Distrik Demba, Kabupaten Waropen, Provinsi Papua, banyak yang menggantungkan hidup sebagai nelayan pencari kepiting.
Daerah ini merupakan habitat kepiting berkualitas bagus. Hutan mangrove yang mendominasi kawasan tersebut menghadirkan potensi kepiting yang melimpah.
Demianus Filho Bubuy, pemuda asli Kampung Mayaghaido melihat potensi kepiting itu sebagai sebuah peluang untuk menjadi sumber ekonomi menjanjikan bagi masyarakat maupun anak-anak muda setempat.
Ia mengajak beberapa rekannya membentuk sebuah komunitas pemuda yang mereka beri nama Aifa Community (Aifa adalah sebutan kepiting dalam bahasa Waropen).
Komunitas itu terbentuk pada Agustus 2022 dan dikelola secara mandiri.
Demianus bersama 10 anak muda Kampung Mayaghaido yang tergabung di komunitas Aifa kemudian membuat beberapa keramba di hutan mangrove.
Keramba-keramba itu disiapkan untuk menampung kepiting-kepiting yang dibeli langsung dari masyarakat.

Komunitas Aifa memang bertujuan untuk membantu dan memudahkan masyarakat atau nelayan pencari kepiting di Distrik Demba, yang sebelumnya sedikit kesulitan menjual hasil tangkapan mereka lantaran jumlah pembeli yang tak seimbang.
“Selepas kuliah, saya pulang ke kampung melihat kondisi ekonomi masyarakat di sini tidak terlalu baik. Sangat sulit kalau tidak ada penghasilan yang bisa dihasilkan oleh masyarakat di sini. Lalu, kami menyadari bahwa peluang ekonomi dari kepiting ini cukup besar bagi kami yang berada di Waropen,” kata Ketua Aifa Community, Demianus, yang diwawancarai Tifa Pos.
Dengan modal awal Rp 1,5 juta dari hasil patungan, Demianus dan rekan-rekannya membeli kepiting hasil tangkapan masyarakat seharga Rp 25 ribu per tiga ekor. Lalu, ditampung di keramba yang telah mereka buat.
Setelah terkumpul dalam jumlah banyak, kepiting-kepiting itu dikemas. Lalu, diseberangkan untuk dipasarkan ke beberapa restoran ke Kota Jayapura, Ibu Kota Provinsi Papua.
“Kebetulan waktu kuliah di Kota Jayapura saya sudah dapat relasi beberapa restoran sea food di kawasan Pantai Holtekamp. Kepiting-kepiting ini, kami kirim dan jual ke mereka. Awalnya percobaan itu mereka pesan pertama berjumlah 50 kg. Ternyata mereka bilang kualitas kepiting dari Waropen itu bagus, akhirnya itu terus berjalan sampai sekarang,” ujar Demianus.
Wakil Ketua I DPR Provinsi Papua, Yunus Wonda mengangkat topi dan mendukung apa yang dilakukan oleh Aifa Community.
Menurutnya, aksi nyata dari para pemuda Distrik Demba itu bisa meningkatkan potensi perekonomian di daerah tersebut.
“Ini sangat membantu ekonomi masyarakat di kampung ini, dengan menjual hasil tangkapan kepiting mereka. Komunitas ini membeli langsung hasil tangkapan masyarakat, paling tidak ada perputaran uang dan aktivitas ekonomi,” katanya.
Pengiriman Sebulan Dua Kali
Program tol laut lewat armada kapal perintis Sabuk Nusantara yang dioperatori PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) Jayapura mewujudkan asa para pencari kepiting di Distrik Demba untuk memudahkan penjualan hasil tangkapan mereka hingga ke luar Waropen.
“Fungsinya kita mobilisasi barang dari tempat penghasil ke tempat kepulauan karena mau tidak mau harus lewat kapal perintis. Masing-masing wilayah atau pulau pasti punya komoditi yang harus didistribusikan supaya perekonomian mereka bisa berjalan,” kata Kepala Operasi dan Pelayanan PT Pelni Cabang Jayapura, Andang Gumilang kepada Tifa Pos.
Sejak Komunitas Aifa terbentuk, penjualan kepiting-kepiting dari Distrik Demba semakin luas.
Permintaan dari pelanggan yang berada di Kota Jayapura terus meningkat. Mereka rutin mengirim kepiting pesanan pelanggan menggunakan tol laut Sabuk Nusantara yang dioperatori PT Pelni.
Pengiriman berjalan dua kali dalam sebulan, dengan jumlah pesanan mencapai 250 kg.
“Dalam satu bulan kita mengirim dua kali. Pengiriman kepiting dari sini ke Kota Jayapura selalu mengggunakan tol laut KM Sabuk Nusantara, biasanya kapal Sabuk Nusantara 58 dan 81. Ongkosnya juga murah, kadang perboksnya Rp 25 ribu, jadi tergantung berapa boks yang kita kirim, kadang paling besar biasanya Rp 200 ribu – Rp 300 ribu,” kata Demianus.
Ia mengaku keberadaan tol laut sangat membantu untuk menunjang sumber ekonomi para pencari kepiting di Distrik Demba yang sebelumnya kesulitan mencari pembeli hasil tangkapan mereka.
“Keberadaan tol laut Sabuk Nusantara ini sangat membantu sekali bagi kami di sini. Terutama ongkos tiket yang tidak terlalu mahal dan menjangkau hingga daerah pesisir. Tol laut ini sangat berdampak pada perekonomian kami dan masyarakat yang hendak menjual hasil tangkapan kepiting ke luar Waropen,” ujarnya.
Dari hasil penjualan kepiting ke Kota Jayapura itu, mereka bisa memperoleh hasil hingga mencapai Rp 16 juta. Keuntungan itu separuhnya akan dipakai untuk modal membeli kepiting dari masyarakat.
“Kalau sekarang harga kepiting perkilonya Rp 80 ribu, jadi sekali kirim kalau 200 kg bisa mencapai Rp16 juta. Tapi penghasilan itu kita pakai lagi separuhnya untuk modal membeli kepiting hasil tangkapan masyarakat dan juga untuk operasional keramba kami,” tuturnya.
Rantai perekonomian yang dirintis oleh Aifa Community untuk membantu masyarakat pencari kepiting itu juga berdampak kepada para pemuda Distrik Demba yang sedang berkuliah di Kota Jayapura.
Mereka bertugas mengantar pesanan kepiting itu ke sejumlah restoran langganan.

“Kepiting yang kami kirim ke Jayapura itu akan dijemput oleh teman-teman sekampung kami yang sedang berkuliah di sana. Mereka yang nanti jemput dan antar kepada pemesan. Jadi dari usaha yang kami lakukan ini juga untuk membantu teman-teman kami yang kuliah di sana untuk kebutuhan dapur mereka,” kata Demianus.
Pelni Jayapura Operasikan Tiga Kapal Perintis
PT Pelni Cabang Jayapura mengoperasikan sebanyak tiga kapal perintis Sabuk Nusantara untuk melayani mobilisasi masyarakat di wilayah 3TP (tertinggal, terpencil, terluar dan perbatasan) yang berada di pesisir Papua, yakni KM Sabuk Nusantara 58, Sabuk Nusantara 81 dan Sabuk Nusantara 100.
Kapal-kapal perintis itu merupakan armada penunjang program tol laut pemerintah yang dioperatori oleh PT Pelni Cabang Jayapura di wilayah pesisir Papua, dengan rute Jayapura, Sarmi, Mamberamo Raya, Waropen, Biak, Serui, hingga Nabire di Papua Tengah.
“Harapan kami bisa menuntaskan program pemerintah dalam menekan batas harga khususnya barang kebutuhan yang sifatnya komoditi di wilayah 3TP,” kata Kepala Operasi dan Pelayanan Pelni Cabag Jayapura, Andang Gumilang.
Pelni berperan sebagai agen pembangunan dengan memperkuat konektivitas antar wilayah termasuk menjamin aksesibilitas masyarakat di wilayah 3TP.
Sejak tahun 2015, Pelni telah dipercaya mengemban penugasan tol laut di Indonesia.
“PT Pelni melalui Kementerian Perhubungan sudah ditugaskan sebagai operator kapal perintis ini dan sudah berjalan sangat lama sekali. Hadirnya kapal perintis ini untuk mendorong perekonomian di daerah 3TP,” ujarnya.
“Dan, juga membantu program Presiden Jokowi terkait kemaritiman laut yaitu mobilitas penumpang melalui konektivitas. Pada prinsipnya menjalankan program pemerintah,” jelasnya.






