Foto pertemuan/pertukaran resmi (Sekjen ASEAN dan perwakilan Timor-Leste) untuk diplomasi dan proses akreditasi. (TIFAPOS/Google)
Oleh: Stefani Sara Gardenia Mangar
PERNYATAAN Perdana Menteri Timor-Leste, Xanana Gusmão, “Hari ini, sejarah telah tercipta,” bukan sekadar ungkapan emosional, tetapi cerminan dari perjalanan panjang yang akhirnya berbuah hasil.
Setelah menanti selama 14 tahun, Timor-Leste resmi menjadi anggota ke-11 ASEAN dalam upacara bersejarah di Kuala Lumpur pada 26 Oktober 2025.
Keputusan ini menegaskan bahwa ASEAN berkomitmen untuk menjadi organisasi yang inklusif dengan merangkul seluruh negara di Asia Tenggara dalam satu kerangka kerja sama regional.
Masuknya Timor-Leste menghadirkan peluang besar, baik bagi negara tersebut maupun bagi ASEAN secara keseluruhan.
Bagi Timor-Leste, keanggotaan penuh membuka pintu menuju integrasi ekonomi yang lebih kuat.
Negara ini kini memiliki akses lebih luas ke pasar regional, peluang investasi, dan kerja sama pembangunan yang dapat mempercepat pertumbuhan ekonominya.
ASEAN juga menyediakan wadah bagi Timor-Leste untuk memperkuat kapasitas pemerintahan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta mengembangkan infrastruktur melalui berbagai program pendampingan dan kemitraan.
Dengan posisi geografis yang strategis dan potensi sumber daya alam yang belum sepenuhnya dioptimalkan, Timor-Leste berpeluang meningkatkan daya saingnya dalam beberapa tahun ke depan.
Bagi ASEAN, kehadiran Timor-Leste melengkapi gambaran kawasan Asia Tenggara sebagai satu kesatuan geopolitik.
Secara simbolis, ini menegaskan bahwa ASEAN tidak meninggalkan satu pun negara tetangga dalam upaya membangun stabilitas kawasan.
Namun, integrasi ini juga menghadirkan tantangan baru. Kapasitas birokrasi dan stabilitas ekonomi Timor-Leste masih perlu diperkuat agar mampu mengikuti kesepakatan-kesepakatan ASEAN yang menuntut komitmen tinggi.
ASEAN, yang selama ini berpegang pada prinsip konsensus, juga harus siap menghadapi dinamika baru dengan bertambahnya anggota, yang secara alami membuat proses pengambilan keputusan lebih kompleks.
Selain itu, ASEAN perlu memastikan bahwa dukungan yang diberikan kepada Timor-Leste benar-benar mampu menjawab kebutuhan struktural negara tersebut.
Tanpa pendampingan yang tepat, kesenjangan pembangunan antara Timor-Leste dan anggota lain bisa menjadi hambatan dalam integrasi menyeluruh.
Meski demikian, momentum ini membawa optimisme. Integrasi Timor-Leste dapat memperkuat persatuan ASEAN di tengah persaingan geopolitik global, mendorong pembangunan ekonomi yang lebih merata, serta memperluas kerja sama regional.
Jika dikelola dengan komitmen bersama, kehadiran Timor-Leste dapat menjadi fondasi baru bagi terciptanya Asia Tenggara yang lebih stabil, sejahtera, dan berpengaruh di tingkat internasional.
Dengan demikian, hari bersejarah ini bukan hanya milik Timor-Leste, tetapi juga bagi masa depan ASEAN sebagai komunitas kawasan yang utuh dan inklusif.
(Penulis adalah mahasiswi jurusan Hubungan Internasional Universitas Cenderawasih Jayapura)
(ldr)






