Beranda / Ragam Berita / Sukarelawan tenaga medis menembus pedalaman Papua dengan pelayanan kesehatan gratis

Sukarelawan tenaga medis menembus pedalaman Papua dengan pelayanan kesehatan gratis

Tim Komunitas Medis Papua Tanpa Batas dibantu warga Kampung Omon menyeberangi sungai berlumpur di tengah hutan lebat, saling membantu membawa barang dan perbekalan. Perjuangan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di pedalaman untuk tetap terhubung meski akses transportasi sangat terbatas. (TIFAPOS/La Ramah)

 

Ringkasan Berita

• Komitmen Komunitas Medis Papua Tanpa Batas.

• Pembangunan kesehatan berkelanjutan.

• Pelayanan kesehatan sukarela di pedalaman Papua.

 

DI TENGAH tantangan geografis dan keterbatasan akses, Komunitas Medis Papua Tanpa Batas terus berkomitmen memberikan pelayanan kesehatan sukarela kepada masyarakat pedalaman Papua salah satunya di Kampung Omon, Distrik Gresi Selatan, Kabupaten Jayapura.

Sejak 2021, komunitas ini telah menjalankan enam kali pelayanan kesehatan, menjangkau daerah-daerah terpencil yang minim fasilitas medis.

Koordinator Wilayah Tabi, Rafael J. Morin, menjelaskan inisiatif ini lahir dari semangat gotong royong untuk mengatasi kesenjangan kesehatan di wilayah timur Indonesia.

Pelayanan kesehatan ini sepenuhnya sukarela, didanai melalui swadaya masyarakat dan bantuan dari Bank Mandiri berupa mobil operasional.

“Kami tidak menerima dana dari pemerintah, tapi kami bekerja sama dengan puskesmas setempat untuk penyediaan obat-obatan,” ujar Morin di Kampung Omon Distrik Gresi Selatan, Kabupaten Jayapura, Kamis, 18 Desember 2025.

Mobil pelayanan ini, lanjut Morin, memungkinkan tim untuk menjangkau desa-desa terpencil, jalanan rusak atau bahkan tidak ada sama sekali.

“Harapan besar ke depan adalah pembangunan akses jalan yang lebih baik, agar pelayanan bisa lebih efisien dan rutin,” ujar Morin.

Ketua Komunitas Medis Papua Tanpa Batas, Ruth Yoteni, menceritakan asal-usul komunitas ini berawal dari pelayanan kesehatan pemuda Gereja Kristen Injili (GKI).

“Keinginan untuk terus melayani masyarakat pedalaman mendorong kami membentuk komunitas ini,” ujar Yoteni.

Tim medis yang terlibat sangat beragam, mencakup anggota dari Basarnas, ahli hukum, ekonomi, tenaga medis, pendeta, dan guru.

Mereka juga melibatkan Dinas Kesehatan setempat untuk memastikan koordinasi yang baik.

Komunitas ini berdiri independen sejak 2021 dan kini telah meluas menjadi empat cabang di Tanah Papua.

Fokus utama mereka adalah memberikan pelayanan kesehatan gratis di daerah yang minim akses obat-obatan, jalan, dan tenaga medis profesional.

“Banyak warga pedalaman yang belum pernah mendapat pemeriksaan kesehatan rutin. Kami datang untuk membantu mereka,” ujar Yoteni.

Namun, perjalanan ini tidaklah mudah. Kendala utama adalah faktor geografis yang ekstrem, seperti pegunungan tinggi dan sungai deras, serta perbedaan bahasa yang mempersulit komunikasi.

Selain itu, respons dari pemerintah sering kali lambat, sehingga komunitas ini harus mengandalkan kreativitas dan solidaritas internal.

“Kami berharap pemerintah lebih memperhatikan daerah yang sudah kami layani, seperti dengan meningkatkan infrastruktur kesehatan dan tenaga medis,” ujar Yoteni.

Dalam enam kali pelayanan sejak 2021, komunitas ini telah membantu ribuan warga, mulai dari pemeriksaan umum hingga penanganan darurat.

Mereka juga mengedukasi tentang pencegahan penyakit seperti malaria dan tuberkulosis, yang masih menjadi ancaman di pedalaman.

Dengan mobil operasional dari Bank Mandiri, tim bisa membawa peralatan medis dasar seperti tensimeter, stetoskop, dan obat-obatan esensial.

Meski independen, komunitas ini menekankan pentingnya kolaborasi.

“Kami bukan pengganti pemerintah, tapi pelengkap. Dengan dukungan lebih, kami bisa melayani lebih banyak lagi,” ujar Yoteni.

Harapan mereka adalah agar pemerintah daerah meningkatkan alokasi anggaran untuk kesehatan pedalaman, termasuk pembangunan pos kesehatan dan pelatihan tenaga lokal.

Kepala Kampung Omon Frans Tabisu mengapresiasi sukarelawan Komunitas Medis Papua Tanpa Batas semakin vital.

Menurutnya, mereka tidak hanya menyelamatkan nyawa, tapi juga membangun kepercayaan masyarakat terhadap sistem kesehatan.

“Semangat tanpa batas komunitas ini terus berjuang menembus pedalaman Papua, membuktikan bahwa solidaritas bisa mengubah nasib daerah terpencil, seperti layanan kesehatan yang dilakukan di kampung kami,” ujar Tabisu.

Pendamping Distrik Gresi Selatan, Hermon Asmuruf mengatakan pelayanan kesehatan yang dilakukan Komunitas Medis Papua Tanpa Batas adalah bentuk pengabdian yang menginspirasi.

Selain itu, mereka telah menunjukkan komitmen luar biasa dengan menjangkau masyarakat terpencil agar mendapatkan layanan kesehatan yang diberikan, seperti pemeriksaan dan pengobatan gratis.

“Ini sangat membantu warga yang sering kesulitan mengakses fasilitas medis. Inisiatif ini tidak hanya meningkatkan kesehatan masyarakat, tetapi juga mempererat solidaritas antarwarga,” ujar Asmuruf.

Asmuruf berharap layanan kesehatan ini terus berlanjut untuk mendukung pembangunan kesehatan berkelanjutan di Distrik Gresi Selatan.

(ldr)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *