Plt. Kepala SMPN 9 Jayapura, Panjaitan, S.Pd.I., M.Pd menunjukkan hasil proyek guru dalam penerapan pembelajaran mendalam. (TIFAPOS/La Ramah)
TIFAPOS.id Strategi SMP Negeri 9 Jayapura, Kota Jayapura, Papua untuk mencapai pembelajaran mendalam yang efektif dengan menekankan pada pemahaman konsep secara menyeluruh.
Selain itu, pengembangan keterampilan berpikir kritis, serta penerapan pengetahuan dalam konteks nyata.
Strategi ini melibatkan pendekatan pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning), pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), diskusi mendalam, refleksi, serta pembelajaran kolaboratif yang berpusat pada siswa.
“Guru berperan sebagai fasilitator yang mendorong siswa aktif menggali dan mengembangkan pemahaman, bukan hanya menghafal materi,” ujar Plt. Kepala SMPN 9 Jayapura, Panjaitan, S.Pd.I., M.Pd di Jayapura, Senin (11/8/2025).
Konsep pembelajaran mendalam juga didasari oleh tiga prinsip utama, yaitu mindful (berkesadaran penuh dalam proses belajar).
Selain itu, meaningful (menemukan makna dan relevansi dari materi yang dipelajari), dan joyful (menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga siswa termotivasi secara intrinsik).
Melalui pendekatan ini, siswa-siswi SMPN 9 Jayapura akan lebih mampu mengaitkan pengetahuan dengan kehidupan nyata dan mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi seperti analisis, evaluasi, dan kreasi.
Strategi konkret yang efektif dalam pembelajaran mendalam di SMPN 9 Jayapura, yaitu siswa mengerjakan proyek nyata yang menuntut penerapan konsep dan keterampilan secara aktif.
Siswa didorong untuk mengungkapkan pemikiran, berdiskusi dengan teman, dan melakukan refleksi atas pembelajaran mereka.
Kerja kelompok yang mengembangkan keterampilan sosial dan memperkaya pemahaman lewat pertukaran ide.
Selain itu, menyesuaikan metode dan materi dengan kebutuhan dan minat masing-masing siswa agar belajar lebih efektif.
Serta, memanfaatkan aplikasi dan alat digital untuk mendukung praktik belajar yang interaktif dan umpan balik yang cepat.
“Guru juga penting untuk membangun budaya belajar yang menghargai motivasi intrinsik, kreativitas, serta kesadaran diri siswa agar pembelajaran mendalam dapat terwujud secara berkelanjutan di kelas,” ujar Panjaitan.
Dia juga menjelaskan, pembelajaran mendalam di SMPN 9 Jayapura terintegrasi dengan baik dalam kurikulum yang berlaku, khususnya dalam Kurikulum Merdeka.
Sebagai pendekatan yang menekankan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Pendekatan ini berfokus pada pengalaman peserta didik dengan penekanan pada pengembangan olah pikir (intelektual), olah hati (etika), olah rasa (estetika), dan olah raga (kinestetik) secara holistik terpadu.
Kurikulum Merdeka mengalokasikan sekitar 10% jam pelajaran untuk pembelajaran mendalam yang bersifat interdisipliner.
Dengan tujuan membentuk profil lulusan yang memiliki dimensi keimanan, kewargaan, kreativitas, penalaran kritis, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.
Implementasi ini didukung oleh pemanfaatan teknologi digital, lingkungan pembelajaran yang kondusif, kemitraan ekosistem pendidikan, dan peningkatan kompetensi guru serta kepala sekolah.
Pembelajaran mendalam dalam kurikulum diatur untuk menumbuhkan keterlibatan aktif siswa, pembelajaran bermakna yang relevan dengan kehidupan nyata, dan suasana belajar yang menyenangkan serta memotivasi,” ujar Panjaitan.
Guru berperan sebagai fasilitator dan penggerak yang membangun budaya belajar kolaboratif dan inovatif, serta mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu secara terpadu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan daya saing peserta didik di abad 21.
Sehingga pembelajaran mendalam tidak hanya terpaku pada transfer pengetahuan tetapi mengarah pada transformasi paradigma pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk belajar sepanjang hayat dan mampu menerapkan pengetahuan secara kontekstual dalam kehidupan nyata.
Sebagai pemimpin di SMPN 9 Jayapura, Panjaitan memastikan pengawasan dan pendampingan terhadap guru agar pembelajaran menyentuh aspek berpikir tingkat tinggi dan pengalaman belajar bermakna serta membentuk karakter siswa.
Selain itu, memastikan penyelarasan pembelajaran mendalam dengan visi misi serta tujuan sekolah sebagai acuan implementasi.
Mendorong perubahan pola pikir guru dari mindset tetap ke pola pikir bertumbuh agar terbuka menerima inovasi pembelajaran.
Penyediaan pelatihan, forum diskusi, dan kegiatan peningkatan kompetensi guru untuk mendukung penerapan pembelajaran mendalam.
Pengelolaan sumber daya pembelajaran dan memantau pelaksanaan program secara berkelanjutan melalui evaluasi dan refleksi.
“Peran kepala sekolah sangat menentukan keberhasilan implementasi pembelajaran mendalam melalui pengawasan komprehensif mulai dari kesiapan guru, bahan ajar, metode pembelajaran, hingga penilaian yang mengukur berpikir kritis dan kolaboratif siswa,” ujar Panjaitan.
(lrh)






