Mahasiswa Program Magister Manajemen Pendidikan FKIP Universitas Cenderawasih Jayapura, Haryati Ghalib. (TIFAPOS/ist)
Oleh : Haryati Ghalib
TIFAPOS.id Pendidikan dan teknologi pada era globalisasi dan digitalisasi seperti sekarang ini sudah tidak dapat dipisahkan lagi.
Dunia pendidikan harus mampu menyesuaikan diri dalam segala kompetensinya baik itu dari strategi maupun kurikulumnya untuk menciptakan generasi yang mampu bersaing dan menciptakan lapangan kerja.
Suatu lulusan pada sebuah sekolah kejuruan tentu harus memiliki kompetensi akademik, daya saing dan keterampilan yang dibutuhkan oleh dunia usaha dan industri (dudi) yang dituju nantinya.
Oleh karena itu, pengembangan keahlian dan keterampilan lulusan pada sebuah sekolah kejuruan menjadi sangat penting untuk meningkatkan peluang kerja.
Berbicara mengenai kompetensi dan keterampilan lulusan maka secara akademik institusi pendidikan harus melakukan penyesuaian kurikulum sesuai kebutuhan industri.
Salah satu strateginya adalah mata pelajaran dan praktek lapangan harus mencerminkan teknologi terbaru, tren pasar dan soft skill yang dibutuhkan dunia kerja.
Pendidikan berbasis industri akan menciptakan lulusan yang terampil dan siap kerja.
Hal ini, sekolah dapat melakukannya dengan mengadakan magang atau melakukan proyek kerjasama dengan dunia usaha atau industri yang menjadi basis belajar murid di sekolah.
Selain menyesuaikan kurikulum strategi lainnya untuk menciptakan kompetensi lulusan yang berdaya saing, yaitu pengembangan keterampilan lunak, karena dalam dunia kerja sangat dibutuhkan lulusan yang berkemampuan dalam komunikasi, teamwork dan leadership.
Sekolah dapat memberikan pengalaman kerja pada setiap individu untuk muridnya, sehingga mereka bisa mendapatkan sertifikasi kompetensi sebagai pengakuan atas keterampilan dan kompetensi yang dimiliki lulusan.
Murid, semakin banyak mengikuti pelatihan maka kesempatan untuk memperoleh sertifikat akan semakin besar, sehingga dengan sertifikat yang mereka miliki akan menciptakan peluang kerja pada individu murid tersebut.
Bila lulusan telah dibekali kemampuan akademik, softskill dan pengalaman kerja maka lulusan akan mendapatkan peluang kerja yang besar.
Sertifikasi kompetensi menjadi satu indikator yang nyata bahwa lulusan memiliki keahlian tertentu yang diakui secara professional.
Sertifikasi dari Lembaga terakreditasi seperti BNSP maupun internasional seperti Google dan Microsoft akan memiliki nilai tambah pada lembaga atau instansi rekruter.
Hal lain yang dapat dilakukan agar lulusan sekolah kejuruan berpeluang lebih besar adalah apabila satuan pendidikan para lulusan ini, dapat memperluas jaringan dan koneksi.
Selain itu, pengembangan karir dan fasilitas informasi lowongan kerja, sehingga para lulusan tidak akan kehilangan informasi mengenai penyerapan tenaga kerja.
Pengembangan keahlian dan keterampilan lulusan sangat penting untuk meningkatkan peluang kerja pada dunia usaha dan dunia industri.
Oleh karena itu, satuan pendidikan perlu menjalin kerjasama dengan industri dan usaha dalam mengembangkan keahlian dan keterampilan pada lulusan.
Sehingga, kerja sama tersebut dapat memberikan pengalaman kerja bagi siswa dan pada akhirnya akan meningkatkan peluang terserapnya tenaga lulusan menjadi tenaga kerja pada dunia usaha dan dunia industri.
Kolaborasi antara sekolah dengan dunia usaha dan dunia industri akan menjadi kunci utama untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja.
Kolaborasi ini dapat terwujud dalam bentuk keterlibatan bersama menyusun kurikulum, magang, guru tamu dalam kalangan prakisi, hingga kerja sama rekrutmen.
Di era digital seperti saat ini, penguasaan teknologi informasi dan digitalisasi menjadi keharusan.
Lulusan harus mampu memanfaatkan teknologi untuk mendukung pekerjaan, baik itu melalui penguasaan perangkat lunak tertentu, analisis data, maupun pengembangan konten digital.
Pendidikan berbasis teknologi seperti e-Learning, simulasi digital, dan laboratorium virtual dapat meningkatkan akses terhadap pembelajaran praktis dan inovatif.
Sekolah kejuruan juga perlu membekali siswanya dengan keterampilan digital yang bersifat lintas sektor (cross-functional digital skills), seperti pemrograman dasar, penggunaan platform kolaboratif daring, serta literasi media dan informasi.
Mengingat tidak semua lulusan akan bekerja di perusahaan, pengembangan jiwa kewirausahaan harus menjadi alternatif solusi untuk menciptakan lapangan kerja baru.
Siswa perlu dibekali dengan kemampuan berwirausaha, perencanaan bisnis, dan pengelolaan keuangan.
Pembinaan kewirausahaan dapat dilakukan melalui penyediaan inkubator bisnis sekolah, pelatihan UMKM, hingga pemberian akses permodalan bagi lulusan yang ingin membuka usaha.
Semangat kewirausahaan juga dapat menumbuhkan kemandirian dan inovasi di kalangan generasi muda.
Oleh karena itu, nantinya lulusan tidak harus terus mencari lowongan kerja tetapi dapat membuka lowongan kerja berdasarkan kemampuan kewirausahaan yang telah mereka miliki.
Untuk meningkatkan peluang kerja lulusan di dunia usaha dan industri, diperlukan strategi pengembangan keahlian dan keterampilan secara menyeluruh.
Institusi pendidikan harus mampu bertransformasi menjadi pusat pengembangan SDM yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi masa depan.
Melalui penyelarasan kurikulum, peningkatan praktik industri, sertifikasi kompetensi, penguatan soft skill, kemitraan strategis.
Selain itu, digitalisasi pembelajaran, dan pembinaan kewirausahaan, lulusan akan memiliki daya saing tinggi dan lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja yang terus berubah.
(Penulis adalah mahasiswa Program Studi Magister Manajemen Pendidikan FKIP Universitas Cenderawasih)






