Kepala SMPN 9 Jayapura, Panjaitan, S.Pd.I., M.Pd berbincang dengan muridnya yang sedang membaca buku di perpustakaan sekolah. (TIFAPOS/La Ramah)
Ringkasan Berita
• Sekolah terus tingkatkan budaya literasi murid program kreatif agar perpustakaan jadi bagian keseharian, bukan gudang buku berdebu.
• Kunjungan harian ke perpustakaan minim (20 orang/hari).
• Perpustakaan dijadikan pusat transformasi. Membaca kunci masa depan anak Kota Jayapura.
SEKOLAH Menengah Pertama Negeri (SMPN) 9 Jayapura, Kota Jayapura, terus berupaya meningkatkan budaya literasi di kalangan peserta didik.
Melalui berbagai program kreatif dan inovatif, sekolah ini mendorong murid agar lebih akrab dengan perpustakaan dan gemar membaca sebagai bagian dari keseharian mereka.
Sejumlah program literasi dikembangkan, salah satunya lomba perpustakaan yang mencakup pembuatan konten, poster, dan resensi buku dengan tajuk “Perpustakaan sebagai Wadah Literasi dan Peningkatan Kreativitas Murid”.
Kompetisi ini menyasar murid di seluruh jenjang kelas di SMPN 9 Jayapura dan digelar pada tahun pelajaran 2025/2026.
Kepala SMPN 9 Jayapura, Panjaitan, S.Pd.I., M.Pd menjelaskan, program tersebut lahir dari keprihatinan terhadap menurunnya kunjungan murid ke perpustakaan sekolah.
Berdasarkan pemantauan internal sekolah, kunjungan harian ke perpustakaan masih minim, rata-rata tak mencapai 20 orang per hari.
Hal ini dianggap jauh di bawah target untuk ukuran sekolah dengan 1.000 lebih murid, karena banyak murid yang lebih memilih menggunakan gawai dan mengakses media sosial di waktu luang dibandingkan membaca buku.
“Kami sadar, membaca bukan hanya kewajiban, tapi kunci masa depan anak-anak Papua. Lomba perpustakaan ini dirancang untuk membuat perpustakaan jadi tempat favorit, bukan lagi gudang buku berdebu,” ujar Panjaitan di SMPN 9 Jayapura, Jumat, 13 Maret 2026.
Ia menegaskan, pihak sekolah memandang perpustakaan bukan lagi sekadar tempat peminjaman buku, tetapi pusat transformasi pendidikan dan ruang tumbuhnya kreativitas murid.
Karena itu, desain dan pengelolaan perpustakaan secara bertahap disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik remaja masa kini.
Terkait lomba perpustakaan, murid diajak menghasilkan berbagai karya. Untuk kategori konten, misalnya, peserta dapat membuat video pendek, infografis, atau cerita bergambar yang mempromosikan buku-buku koleksi perpustakaan.
Sementara itu, pada kategori poster, murid diberi kebebasan berkreasi dengan tema literasi, pentingnya membaca, hingga ajakan berkunjung ke perpustakaan.
Adapun pada kategori resensi buku, murid dilatih untuk membaca tuntas satu judul buku, kemudian menuliskan ulasan yang memuat ringkasan isi, tokoh, alur, serta pesan moral yang mereka dapatkan.
Guru bahasa Indonesia dan pustakawan terlibat sebagai pembimbing dan juri, sehingga momen lomba sekaligus menjadi sarana pembelajaran menulis yang terarah.
“Kami ingin anak-anak bukan hanya datang meminjam buku karena tugas, tetapi juga mampu mengungkapkan kembali isi bacaan dengan cara yang kreatif. Dengan begitu, kemampuan berpikir kritis mereka juga berkembang,” ujar Panjaitan.
Selain lomba perpustakaan, SMPN 9 Jayapura juga menyiapkan program unggulan lain bernama “Taman Baca”.
Ruang ini dirancang sebagai area terbuka dan nyaman yang bisa dimanfaatkan murid maupun pengunjung untuk membaca buku, berdiskusi, ataupun sekadar bersantai sambil mengisi waktu luang.
Taman Baca dilengkapi rak buku ringan yang mudah dijangkau, kursi dan meja yang tertata santai, serta sudut baca dengan karpet untuk murid yang ingin membaca sambil duduk lesehan.
Sekolah berharap, suasana yang lebih santai itu dapat menghilangkan kesan kaku terhadap kegiatan membaca, sehingga murid merasa lebih rileks ketika berinteraksi dengan buku.
Menurut Panjaitan, ke depan sekolah akan terus mengevaluasi efektivitas program-program tersebut melalui pemantauan jumlah kunjungan perpustakaan, partisipasi murid dalam lomba, serta kualitas karya yang dihasilkan.
Hasil evaluasi akan menjadi dasar pengembangan kegiatan literasi selanjutnya, termasuk kemungkinan menjalin kerja sama dengan pihak luar seperti perpustakaan daerah, komunitas literasi, maupun pegiat pendidikan di Kota Jayapura.
Sehingga, SMPN 9 Jayapura menargetkan peningkatan signifikan minat baca murid sekaligus menjadikan perpustakaan sebagai ruang belajar yang menyenangkan dan relevan dengan perkembangan zaman.
“Sekolah berharap, budaya literasi yang tertanam sejak SMP akan menjadi bekal penting bagi generasi muda Papua untuk menghadapi tantangan masa depan,” ujar Panjaitan.
(ldr)









