Beranda / Ragam Berita / SMAN 4 Jayapura gelar workshop penyusunan silabus Tahun Pelajaran 2025/2026

SMAN 4 Jayapura gelar workshop penyusunan silabus Tahun Pelajaran 2025/2026

TIFAPOS.id SMA Negeri 4 Jayapura, Kota Jayapura, Papua, menggelar workshop penyusunan silabus Tahun Pelajaran 2025/2026.

Kegiatan ini berlangsung di aula SMAN 4 Jayapura, menghadirkan 90 peserta civitas akademika SMAN 4 Jayapura, dengan pemateri Inspektorat Kota Jayapura terkait Penjelasan Penggunaan BOSP oleh Nurhadi, M.Pd.

Kepsek SMAN 4 Jayapura, Anton Djoko Martono, S.Pd., M.Pd terkait Penetapan RKAS 2025, Penyusunan KOSP dan Pembelajaran Mendalam.

Sementara panitia yang juga Wakasek Humas SMAN 4 Jayapura menyampaikan tentang Lanjutan Penyusunan Modul Ajar, Presentasi Silabus, tujuan pembelajaran dan modul ajar, dan pengumpulan perangkat pembelajaran.

Selain itu, kebijakan dinas pendidikan yang disampaikan Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Rocky Bebena, S.Pd., M.Pd, dan Pengawas Pembina SMA/SMA Disdikbud Kota Jayapura, Krecencia Lesomar, M.Pd terkait Penyusunan Modul Ajar.

Ketua Panitia sekaligus Wakasek Humas SMAN 4 Jayapura, Jeane Diane Maramis, S.Pd., M.Pd, mengatakan, workshop selama tiga hari dari tanggal 16 s.d 18 Juli 2025, terfokus pada penyusunan tujuan pembelajaran dan alur tujuan pembelajaran sesuai Kurikulum Satuan Pendidikan terbaru.

Selain itu, konsep pembelajaran mendalam dan penjelasan visi dan misi satuan pendidikan termasuk program tahunan, program semester, RPP, modul ajar, pola pikir tetap, bertumbuh, pembahasan Rancangan Kegiatan Anggaran Sekolah, dan ekstrakurikuler.

“Targetnya, perangkat pembelajaran sudah disiapkan dalam proses belajar mengajar,” ujar Jeane di SMAN 4 Jayapura, Kota Jayapura, Papua, Kamis (17/7/2025).

Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Rocky Bebena, S.Pd., M.Pd menyampaikan sambutan pada kegiatan workshop penyusunan silabus. (TIFAPOS/Istimewa)

Dia juga mengatakan, peserta dibagi per mata pelajaran untuk merumuskan tujuan pembelajaran yang jelas, terukur, dan sesuai kebutuhan peserta didik di tiap jenjang.

Selain itu, setiap guru mendapat umpan balik atas rancangan silabus yang disusun dan didorong untuk melakukan refleksi bersama demi perbaikan berkelanjutan.

Kepala SMAN 4 Jayapura, Anton Djoko Martono, S.Pd., M.Pd, mengatakan, secara rutin menyelenggarakan workshop penyusunan silabus dan tujuan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar.

Tujuannya untuk peningkatan kompetensi guru dalam menyusun silabus dan tujuan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan siswa dan perkembangan zaman.

Mempersiapkan materi ajar untuk tahun ajaran baru agar pembelajaran lebih terstruktur, sistematis, dan sesuai dengan Capaian Pembelajaran (CP) yang ditetapkan.

Penyelesaian dokumen kurikulum dengan regulasi terbaru dan kebutuhan di satuan pendidikan masing-masing.

“Dampak workshop diharapkan guru lebih siap merancang dan mengimplementasikan pembelajaran sesuai dengan tuntutan KSP,” ujar Anton.

Dia juga mengatakan, dokumen silabus menjadi panduan yang lebih sistematis untuk seluruh guru dalam melaksanakan pembelajaran.

Peningkatan kualitas dan relevansi pembelajaran di sekolah demi mewujudkan pendidikan yang berkeadilan dan berorientasi pada pengembangan kompetensi siswa.

Kesempatan tersebut juga bedah wawasan dan pengetahuan tentang pola pikir tetap dan pola pikir bertumbuh.

Dijelaskan, pola pikir seseorang sangat menentukan bagaimana individu belajar, berkembang, dan menghadapi tantangan dalam hidupnya.

Pola Pikir Tetap (Fixed Mindset), yaitu meyakini bahwa bakat, kecerdasan, dan kemampuan seseorang bersifat tetap, tidak dapat berkembang secara signifikan melalui usaha atau pembelajaran.

Ciri-cirinya adalah menghindari tantangan karena takut gagal, mudah menyerah saat menghadapi kesulitan, melihat usaha sebagai sesuatu yang sia-sia jika sudah merasa tidak mampu.

Selain itu, merasa terancam oleh keberhasilan orang lain, menganggap kegagalan sebagai cerminan kurangnya kemampuan diri.

“Dampak pola pikir ini dapat menghambat perkembangan, membuat seseorang tidak mau mencoba hal baru, serta mudah putus asa ketika menghadapi hambatan,” ujar Anton.

Kepala SMAN 4 Jayapura, Anton Djoko Martono, S.Pd., M.Pd mendampingi Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Rocky Bebena, S.Pd., M.Pd foto bersama peserta kegiatan workshop penyusunan silabus. (TIFAPOS/Istimewa)

Sementara, Pola Pikir Bertumbuh (Growth Mindset), yaitu meyakini bahwa setiap individu dapat mengembangkan kecerdasan, bakat, dan kemampuan melalui proses belajar, latihan, serta usaha yang konsisten.

Ciri-cirinya adalah melihat tantangan sebagai peluang untuk belajar, tidak mudah menyerah saat menghadapi hambatan, gigih dan kreatif mencari solusi, menganggap proses dan usaha sebagai kunci utama perkembangan dan keberhasilan.

Selain itu, terinspirasi oleh sukses orang lain, bukan merasa iri atau terancam, memandang kritik dan kesalahan sebagai pelajaran untuk memperbaiki diri.

“Dampak pola pikir ini mendorong individu untuk terus belajar, beradaptasi, dan mencapai potensi terbaik dalam berbagai aspek kehidupan. Orang dengan pola pikir bertumbuh terbukti memiliki ketahanan mental lebih baik dan motivasi tinggi untuk berkembang,” ujar Anton.

Dia juga mengatakan, pola pikir tetap dan pola pikir bertumbuh dalam mengimplementasikan pembelajaran mendalam, yaitu berkesadaran, bermakna, dan mengembirakan serta pengalaman belajar adalah memahami, menganalisis, dan merefleksikan.

Sementara, kerangka pembelajaran mendalam terbagi empat, yaitu praktik pedagogi, lingkungan pembelajaran, kemitraan pembelajaran, dan pemanfaatan digital.

“Semuanya ini bisa kami lakukan, dan kami terapkan dengan menyusun perangkat pembelajaran dalam bentuk RPP maupun modul ajar,” ujar Anton.

Dalam modul ajar, dilanjutkan Anton, tidak boleh melupakan delapan dimensi profil lulusan, yaitu keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kewarganegaraan, bernalar kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, kesehatan, dan kemandirian.

“Semuanya itu tujuannya adalah untuk memuliakan peserta didik menjadi fokus utama kami dalam proses belajar mengajar. Dalam setiap pertemuan minimal ada tiga di dimensi profil lulusan,” ujar Anton.

“Workshop seperti ini menjadi momentum strategis bagi sekolah untuk memperkuat kualitas pendidikan sekaligus memastikan kesiapan guru dalam menghadapi dinamika dan tantangan pembelajaran abad ke-21,” sambungnya.

 

(lrh)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *