Beranda / Ragam Berita / Siswa SMAN 4 Jayapura rayakan Valentine Day dengan berbagi kasih Ke Pondok Pesantren

Siswa SMAN 4 Jayapura rayakan Valentine Day dengan berbagi kasih Ke Pondok Pesantren

Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan SMA Negeri 4 Jayapura, Widya Kusmayanti, M.Pd bersama peserta didik. (TIFAPOS.id/Istimewa)

TIFAPOS.id – Sungguh mulia dan inspiratif, aksi siswa SMA Negeri 4 Jayapura, Kota Jayapura, Papua, yang merayakan Hari Valentine dengan berbagi kasih ke Pondok Pesantren.

Ini adalah cara yang sangat positif untuk memaknai Valentine, jauh dari kesan hura-hura dan lebih menekankan pada nilai-nilai kemanusiaan serta kepedulian sosial.

Hari Valentine atau Valentine Day dirayakan setiap 14 Februari.

Pembina OSIS SMAN 4 Jayapura, Kris, mengatakan anjangsana sekaligus silaturahmi ke Pondok Pesantren Yaa Bunayya Jayapura adalah bagian dari pembinaan karakter untuk saling berbagi.

Ia juga mengatakan, dipilihnya Ponpes tersebut karena sebagian besar dari luar Kota Jayapura, seperti Kabupaten Keerom dan Kabupaten Sarmi.

“Memberikan bantuan dari hasil partisipasi siswa berupa sembako (sembilan bahan pokok) dan uang,” ujar Kris di SMAN Jayapura, Rabu (26/2/2025).

Selain itu, anjangsana yang diikuti 39 siswa dan empat guru pendamping termaksud Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan SMA Negeri 4 Jayapura, Widya Kusmayanti, M.Pd, mengajarkan peserta didik untuk saling berbagi.

Sekaligus menjadi sarana edukasi untuk mengembangkan diri melaut game guna menemukan kekurangan dan kelebihan agar meningkatkan potensi diri.

Ia juga mengatakan, seringkali Valentine identik dengan cinta romantis antar pasangan.

Kegiatan ini berhasil mengubah stereotip tersebut menjadi momen untuk berbagi kasih sayang kepada sesama, tanpa memandang status hubungan.

Berinteraksi dengan lingkungan Pondok Pesantren dapat menumbuhkan rasa empati dan kepedulian siswa terhadap kehidupan orang lain. Mereka jadi lebih peka terhadap kebutuhan sesama dan termotivasi untuk membantu.

“Kegiatan ini menjadi jembatan silaturahmi antara siswa SMA dan warga Pondok Pesantren. Interaksi positif seperti ini dapat memperkaya wawasan dan pengalaman kedua belah pihak,” ujar Kris.

Ia berharap, aksi siswanya menjadi contoh yang baik bagi generasi muda lainnya. Bahwa Valentine bisa dirayakan dengan cara yang lebih bermanfaat dan bermakna bagi masyarakat.

Siswa SMAN 4 Jayapura dan siswa Ponpes Yaa Bunayya Jayapura. (TIFAPOS.id/Istimewa)

Kesempatan tersebut, dikatakan Kris, reaksi siswa yang berbagi kasih di Pondok Pesantren terlihat dan antusias. Mereka antusias untuk bertemu dengan teman-teman di pesantren dan berbagi kebahagiaan.

Saat berinteraksi langsung dengan para santri, siswa mungkin akan merasa terharu melihat kondisi dan semangat belajar mereka. Hal ini bisa menumbuhkan rasa empati dan keinginan untuk membantu lebih banyak lagi.

“Berbagi kebahagiaan dengan orang lain tentu akan memberikan perasaan senang dan bahagia bagi para siswa. Mereka merasa puas karena telah melakukan sesuatu yang positif dan bermanfaat,” ujar Kris.

Ia juga mengatakan, kunjungan ke pesantren memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar tentang kehidupan di pesantren, nilai-nilai agama, dan budaya yang mungkin berbeda dari lingkungan mereka sehari-hari, sehingga memberikan pengalaman berharga yang memperluas wawasan mereka.

Setelah kegiatan, siswa merasa lebih bersyukur atas apa yang mereka miliki. Mereka menyadari bahwa banyak orang yang kurang beruntung dan terinspirasi untuk lebih menghargai hidup.

Pengalaman tersebut bisa menjadi motivasi bagi siswa untuk terus berbuat baik dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Mereka mungkin akan terinspirasi untuk melakukan kegiatan sosial lainnya di masa depan.

“Tentu saja, reaksi individu bisa berbeda-beda tergantung pada latar belakang, kepribadian, dan pengalaman masing-masing siswa. Kegiatan berbagi kasih di Pondok Pesantren akan memberikan pengalaman positif dan berkesan bagi para siswa kami,” ujar Kris.

Siswa SMA Negeri 4 Jayapura berbagi kasih ke Ponpes Yaa Bunayya Jayapura. (TIFAPOS.id/Istimewa)

Kepala SMA Negeri 4 Jayapura, Anton Djoko Martono, S.Pd., M.Pd, mengatakan faktor yang membuat siswanya tertarik untuk berbagi kasih di Pondok Pesantren, yaitu kesadaran sosial.

Selain itu, termotivasi untuk mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam tindakan nyata, ingin melakukan sesuatu yang unik dan memberikan dampak positif.

Sekolah bisa memberikan izin, menyediakan transportasi, atau membantu menggalang dana, pengaruh positif dari teman sebaya sangat kuat dalam membentuk perilaku dan minat siswa.

Siswa tertarik untuk belajar lebih banyak tentang kehidupan di Pondok Pesantren, nilai-nilai yang diajarkan, dan bagaimana mereka bisa berkontribusi sekaligus ingin memperluas wawasan dan memahami perbedaan budaya.

“Berbagi kasih di Pondok Pesantren bisa menjadi salah satu cara untuk menemukan makna tersebut dan merasa lebih berarti,” ujar Anton.

Ia juga mengatakan, kegiatan berbagi kasih di Pondok Pesantren bukan hanya sekadar kegiatan sesaat, tetapi merupakan investasi jangka panjang.

Baik dalam pengembangan diri siswa dan pembentukan generasi muda yang peduli, bertanggung jawab, dan berpotensi untuk menjadi pemimpin masa depan.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *