Beranda / Ragam Berita / Siswa di Sekolah Kampung Kayu Batu pelajari bahasa ibu dengan materi pelestarian kebudayaan

Siswa di Sekolah Kampung Kayu Batu pelajari bahasa ibu dengan materi pelestarian kebudayaan

TIFAPOS.id Delapan siswa di Sekolah Kampung Kayu Batu, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura, Papua, mempelajari bahasa ibu dengan materi pelestarian kebudayaan.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Grace L. Yoku, S.Pd., M.Pd menekankan, bahasa sebagai bagian dari budaya dan identitas.

“Bahasa ibu bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga sarana untuk memahami filosofi, kearifan lokal, tradisi, serta memperkuat ikatan sosial dan kebanggaan etnis,” ujar Yoku di Kantor Wali Kota Jayapura, Senin (21/7/2025).

Dia juga mengatakan, strategi pembelajaran dan pelestarian bahasa ibu bagi siswa, yaitu orang tua dan guru perlu mengenalkan bahasa daerah sejak dini dengan menjelaskan makna budaya di balik bahasa tersebut.

Membiasakan berbicara bahasa daerah dengan anaknya, termasuk mengajarkan kosakata dan melibatkan anak dalam percakapan sehari-hari.

“Hal ini membantu menguatkan kebiasaan berbahasa ibu dan menjaga kelestariannya,” ujar Yoku.

Selain itu, pelibatan siswa dalam kegiatan literasi bahasa ibu seperti membaca, bertutur, mencatat, dan mengkreasi cerita atau tradisi lisan yang terkait dengan bahasa daerah, supaya bahasa ibu tetap hidup dan autentik dalam bentuk tertulis dan lisan.

Integrasi bahasa ibu dalam kurikulum sekolah melalui mata pelajaran muatan lokal atau program revitalisasi bahasa daerah, sehingga siswa bisa mempelajari dan memahami nilai budaya serta sejarah yang terkandung di dalamnya.

Pemanfaatan kegiatan kreatif dan edukatif yang melibatkan siswa untuk mengekspresikan bahasa ibu secara modern dan menyenangkan, sehingga menarik minat anak muda belajar dan melestarikan bahasa daerah.

Pelajaran bahasa ibu yang dikaitkan dengan pelestarian budaya juga mendukung identitas budaya siswa, memperkuat hubungan antar generasi, dan menjaga kelangsungan warisan budaya yang unik di Indonesia.

“Program seperti “Merdeka Belajar” juga menjadi wadah penting dalam revitalisasi bahasa ibu di sekolah,” ujar Yoku.

Dia juga mengatakan, peran aktif orang tua sebagai pembimbing utama dalam penggunaan bahasa sehari-hari secara terarah, terencana, dan berkesinambungan.

Lingkungan keluarga yang hangat dan komunikasi aktif antar anggota keluarga sangat mendukung perkembangan bahasa ibu, karena anak dapat mengamati dan berlatih percakapan secara alami.

Memotivasi dan intervensi orang tua dengan membimbing anak secara konsisten agar menggunakan bahasa ibu dalam situasi informal maupun formal di rumah.

Menciptakan suasana hangat dan terbuka agar anak nyaman berbahasa ibu dan menambah perbendaharaan kata melalui dialog antar anggota keluarga.

Pemanfaatan teknologi dan media digital, seperti kamus bahasa daerah berbasis digital, agar generasi muda lebih mudah mengakses dan menggunakan bahasa ibu.

Pelibatan anak dalam kegiatan kultural dan tradisional yang menggunakan bahasa ibu sebagai sarana pelestarian dan penguatan bahasa serta budaya lokal.

“Bahasa ibu tidak hanya diwariskan secara turun-temurun, tapi juga menjadi bagian hidup sehari-hari anak yang berperan penting dalam identitas dan pelestarian budaya keluarga,” ujar Yoku.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Grace L. Yoku, S.Pd., M.Pd. (TIFAPOS/La Ramah)

Kesempatan tersebut, dikatakan Yoku, pelestarian bahasa daerah sangat berpengaruh positif terhadap identitas budaya suatu komunitas.

Bahasa daerah tidak hanya alat komunikasi, tetapi juga mencerminkan sejarah, nilai-nilai, kebiasaan, serta filosofi hidup masyarakat setempat yang diwariskan secara turun-temurun.

“Dengan menjaga bahasa daerah, identitas budaya lokal tetap hidup dan terjaga keberadaannya dalam masyarakat,” ujar Yoku.

Dia juga mengatakan, bahasa daerah menjadi pilar kebudayaan yang menyatukan masyarakat serta mencerminkan keanekaragaman budaya Indonesia.

Memelihara jendela sejarah dan kearifan lokal. Bahasa daerah menyimpan pengetahuan lokal dan cara unik menyampaikan ide serta nilai-nilai yang sulit diterjemahkan ke bahasa lain.

“Ketika bahasa punah, maka ikut hilang aspek budaya dan kearifan yang melekat pada bahasa tersebut,” ujar Yoku.

Selain itu, upaya pelestarian yang melibatkan generasi muda lewat pendidikan, media sosial, dan kegiatan budaya dapat memperkuat identitas diri dan kebanggaan akan asal-usul sehingga bahasa daerah tetap eksis sebagai warisan budaya yang hidup.

“Pelestarian bahasa daerah adalah tindakan penting untuk menjaga jati diri suatu komunitas, mempertahankan nilai budaya lokal yang unik, serta memastikan keberlanjutan identitas budaya tersebut di tengah perkembangan zaman dan tekanan globalisasi,” ujar Yoku.

 

(lrh)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *