Mahasiswa Universitas Cenderawasih Jayapura saat menjajakan dagangan mereka. (TIFAPOS/Istimewa)
Oleh: Raymond Axel Mara, Zahrah Nur Salzabila, Nur Hidayah, Putri Widarajati, Vika Febrianti, Yolenta A. Bung
“Kalau enak tong beli, kalau tra enak tong tra beli kecuali gratis”. Kutipan ini kami gunakan karena menggambarkan cara pembeli menilai makanan yang kami jual.
Jika rasanya enak, orang tentu akan tertarik membeli. Namun jika rasanya tidak enak, maka orang cenderung tidak akan membeli produk jualan kami.
Oleh karena itu, dalam menjalankan usaha makanan kami harus menjaga kualitas rasa agar pelanggan tertarik untuk membeli dan merasa puas dengan produk yang kami jualkan. Menjalankan sebuah usaha bukanlah hal yang mudah yang sering dibayangkan.
Di balik sebuah makanan yang terlihat sederhana, terdapat proses panjang yang melibatkan persiapan bahan, cara pengelohan, hingga kerja sama antara orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Setiap langkah membutuhkan usaha, kesabaran, dan tanggung jawab agar produk yang dihasilkan dapat dinikmati oleh orang lain.
Pengalaman itulah yang kami rasakan ketika mendapatkan tugas dari mata kuliah Komunikasi dan Presentasi Bisnis Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Cenderawasih, yang diampu oleh Kurniawan Patma dan Maylen Kathrin Petra Kambuaya untuk membuat dan menjual produk olahan berbahan pangan lokal papua.
Tugas tersebut mengharuskan kami bekerja dalam sebuah kelompok dan memikirkan bagaimana cara menghasilkan produk yang dapat menarik minat pembeli.
Dalam kelompok yang kami beri nama Pizz & Roll, kami sepakat memilih risol ubi ungu dan nugget pisang sebagai produk yang akan kami olah dan jual. Kedua makanan tersebut dipilih karena cukup dikenal oleh banyak orang serta memiliki harga yang terjangkau bagi mahasiswa maupun masyarakat sekitar.
Proses pembuatan produk ternyata tidak selalu berjalan dengan mudah. Kami harus membagi tugas mulai dari membeli bahan, menyiapakan adonan, memasak, hingga menjualnya kepada pembeli. Setiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab masing-masing agar semua pekerjaan dapat selesai tepat waktu.
Namun, dalam perjalanan itu, kami juga menghadapi berbagai tantangan. Perbedaan karakter dan kebiasaan diantara anggota kelompok terkadang menimbulkan kesalahpahaman. Ada yang ingin bekerja cepat, ada yang lebih santai, sehingga beberapa kali terjadi perdebatan di antara kami.
Meskipun demikian, pengalaman tersebut memberikan banyak pelajaran bagi kami. Kami belajar bahwa sebuah usaha tidak hanya membutuhkan produk yang baik, tetapi juga kerja sama, komunikasi, dan saling pengertian agar tujuan bersama dapat tercapai.
Perjalanan usaha kecil yang kami jalani mungkin terlihat sederhana, tetapi pengalaman tersebut memberikan banyak pembelajaran bagi kami. Dalam proses membuat dan menjual risol ubi ungu dan nugget pisang.
Kami tidak hanya belajar tentang bagaimana menghasilkan produk makanan yang baik, tetapi juga belajar menghadapi berbagai perbedaan yang ada di antara kami, seperti perbedaan karakter, cara berpikir, dan kebiasaan yang sempat menimbulkan konflik dalam kelompok kami.
Namun, melalui pengalaman tersebut kami menyadari bahwa kerja sama tidak selalu berjalan dengan mulus. Dibutuhkan komunikasi, saling pengertian, serta kesediaan untuk saling memaafkan agar sebuah tim dapat kembali berjalan bersama.
Pada akhirnya, pengalaman ini menjadi kenangan yang berharga bagi tim kami. Tidak hanya tentang bagaimana kami menjalankan sebuah usaha, tetapi juga tentang bagaimana kami belajar untuk saling memahami, menghargai perbedaan, dan tetap berjalan bersama sebagai sebuah tim.
(Penulis adalah mahasiswa jurusan Akuntansi Universitas Cenderawasih Jayapura)
(ldr)










