Pemotongan hewan kurban oleh Pengurus Pusat Yapis di Tanah Papua dalam rangka Hari Raya Iduladha 1446 Hijriah/2025 Masehi. (TIFAPOS/Ist)
TIFAPOS.id Pemotongan hewan kurban saat Iduladha tidak hanya sebagai ibadah, tetapi juga memperkuat persaudaraan dan toleransi antarumat beragama.
Pembagian daging kurban tidak hanya untuk umat Islam, tetapi juga diberikan kepada warga nonmuslim, yang menjadi bukti nyata semangat berbagi dan toleransi sosial dalam masyarakat.
Selain itu, tradisi kurban mengajarkan nilai-nilai ketaatan, solidaritas, dan empati yang sejalan dengan moderasi beragama, yakni menjaga keseimbangan antara kewajiban religius dan tanggung jawab sosial.
Ibadah kurban menjadi momen untuk mempererat persatuan dan kebhinekaan, serta meningkatkan kepedulian sosial dengan berbagi kepada yang membutuhkan.
Di lingkungan pendidikan, kegiatan kurban juga dipakai sebagai sarana menanamkan pendidikan karakter, memperkuat semangat kerukunan, persaudaraan, dan toleransi antarwarga sekolah.
Salah satunya Yayasan Pendidikan Islam (Yapis) di Tanah Papua melaksanakan pemotongan hewan kurban dalam rangka merayakan Hari Raya Iduladha 1446 Hijriah/2025 Masehi.
Melalui Pengurus Pusat Yapis di Tanah Papua, sebanyak 35 hewan kurban disembelih, terdiri dari 28 sapi dan tujuh kambing, yang tersebar diseluruh Cabang Yapis.
Ketua Umum Yapis di Tanah Papua, Dr. Drs. Mohammad Musa’ad, M.Si mengatakan, pemotongan hewan kurban rutin dilakukan sebagai wujud memperkuat persaudaraan dan toleransi antar sesama.
Dia juga mengatakan, kegiatan pemotongan hewan kurban khususnya civitas Yapis di Tanah Papua, yaitu menanamkan nilai pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian sosial terhadap sesama, terutama fakir miskin dan dhuafa yang menjadi penerima daging kurban.
Memupuk rasa empati, solidaritas, dan kebersamaan antar siswa dan masyarakat sekitar yayasan, meneladani kesabaran dan ketundukan Nabi Ibrahim AS sebagai teladan dalam berkurban.
Selain itu, kegiatan ini bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga sarana pendidikan karakter dan sosial yang menguatkan nilai-nilai keimanan, kepedulian, dan kebersamaan dalam komunitas yayasan dan masyarakat luas.
“Pemotongan hewan kurban adalah ibadah yang harus dilakukan dengan niat ikhlas, sesuai aturan syariat Islam, memperhatikan kesejahteraan hewan, dan prosedur kesehatan agar hasilnya halal dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Musa’ad dalam rilisnya di Jayapura, Minggu (8/6/2025).
Kesempatan tersebut, Musa’ad mengatakan, daging kurban yang dibagikan kepada sesama, terutama yang membutuhkan, menjadi simbol nyata kepedulian dan perhatian antarwarga, mempererat ikatan sosial.
Selain itu, proses bersama mulai dari persiapan, penyembelihan, hingga pembagian daging melibatkan banyak warga menciptakan suasana kekeluargaan dan rasa memiliki yang kuat.
Kegiatan ini, juga menyatukan berbagai lapisan masyarakat, dari yang mampu hingga kurang mampu, sehingga memperkuat rasa persatuan dan toleransi di tengah keberagaman.
Penerima manfaat merasa dihargai dan diperhatikan, yang menumbuhkan rasa persaudaraan dan saling menghargai antaranggota komunitas.
“Selain sebagai ibadah, kurban menjadi sarana berbagi kebahagiaan dan menumbuhkan semangat kemanusiaan yang tinggi, tetapi juga aktivitas sosial yang efektif memperkuat persaudaraan, solidaritas, dan toleransi,” ujar Musa’ad.
Musa’ad berharap, agar pemotongan hewan kurban tidak hanya menjadi bentuk ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga sebagai wujud nyata semangat berbagi kepada sesama dengan menyisihkan sebagian harta secara ikhlas.
Dia juga mengharapkan agar para mudhohi (pemberi kurban) dapat mempertahankan niat dan terus melaksanakan kurban dengan mengajak lebih banyak orang sehingga peran kampus dalam pengabdian kepada masyarakat semakin meningkat.
Selain itu, kegiatan kurban menjadi momentum mempererat ukhuwah Islamiyah, memperkuat sinergi antara dunia akademik dan masyarakat, serta sebagai media pendidikan karakter yang menanamkan nilai gotong royong, kepedulian, dan integritas.
“Saya juga menginginkan agar kegiatan ini dapat terus berlanjut dan meningkat jumlah hewan kurban yang disembelih agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat sekitar,” ujar Musa’ad.
Pj. Sekum Yapis Papua, Dr. Najamuddin Gani, SH., juga menyerahkan tiga sapi sebagai hewan kurban, untuk dipotong di kompleks Yapis Dok V Jayapura, dan dagingnya dibagikan kepada guru dan siswa yang tidak mampu.
“Pemotongan hewan kurban pada saat Hari Raya Iduladha dilakukan setiap tahun sebagai wujud rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT,” ujar Najamuddin.
Dia juga mengatakan, manfaat spiritual dan sosial dari berkurban dalam rangka Iduladha, yaitu mengajarkan untuk mengorbankan sifat egois dan menumbuhkan kecintaan kepada Allah, meneladani Nabi Ibrahim.
Berkurban dapat menghapus dosa kecil dan menjadi sarana pengampunan atas kesalahan yang lalu. Setiap bagian hewan kurban menjadi saksi di akhirat, menjadikan kurban sebagai investasi amal kebaikan yang pahalanya besar dan berkelanjutan.
Dia juga mengatakan, pemotongan hewan kurban mendorong rasa empati, kepedulian, dan jiwa filantropi dalam masyarakat, membangun kesalehan sosial.
Serta, membantu pemerataan kesejahteraan dan memperkuat ikatan sosial antaranggota komunitas, dan momen untuk menebar kasih sayang dan kebahagiaan bersama, sekaligus meningkatkan kesadaran kolektif untuk berbagi dan peduli.
“Berkurban di Iduladha bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga sarana spiritual dan sosial yang mendalam bagi individu dan masyarakat,” ujar Najamuddin.
Dikutip dari Wikipedia, pemotongan hewan kurban adalah ibadah yang dilakukan umat Islam saat Iduladha, dengan syarat hewan yang disembelih harus sehat, tidak cacat, dan memenuhi usia minimal tertentu (kambing minimal 1 tahun, sapi minimal 2 tahun).
Proses pemotongan dilakukan dengan menyebut nama Allah (“Bismillahi, Allahu Akbar”) dan memotong urat leher hewan secara cepat dan tepat agar hewan mati dengan segera dan tidak menderita.
Pemotongan idealnya dilakukan di Rumah Potong Hewan (RPH) atau tempat khusus yang memenuhi standar kebersihan, kesehatan, dan kesejahteraan hewan.
Jika tidak ada RPH, tempat pemotongan harus memenuhi persyaratan teknis seperti akses air bersih, fasilitas pemotongan, pengelolaan limbah, dan tidak mengganggu ketertiban umum.
Setelah penyembelihan, darah harus dikeluarkan sepenuhnya dan daging dibersihkan sebelum didistribusikan kepada fakir miskin, tetangga, dan keluarga sebagai bagian dari ibadah sosial.
Proses ini diawasi oleh petugas yang memahami tata cara penyembelihan sesuai syariat dan biasanya melibatkan dokter hewan untuk memastikan keamanan pangan.






