Plt. Asisten I Kota Jayapura, Evert Nicolas Merauje, S.Sos., M.Si menutup kegiatan peluncuran buku cerita rakyat Port Numbay jilid 2. (TIFAPOS/La Ramah)
Ringkasan Berita
• Sekolah ujung tombak dalam mengajarkan muatan lokal melalui buku cerita rakyat Port Numbay jilid 2.
• Pembuatan buku untuk pendokumentasian, pelestarian, dan revitalisasi cerita-cerita lokal.
• Meningkatkan literasi generasi muda yang masih rendah.
PELESTARIAN budaya lokal menjadi salah satu perhatian utama dalam dunia pendidikan, terutama di Kota Jayapura, Papua, yang kaya akan warisan budayanya.
Sekolah-sekolah di Kota Jayapura (Port Numbay) kembali menguatkan perannya sebagai ujung tombak dalam mengajarkan muatan lokal melalui peluncuran buku cerita rakyat Port Numbay jilid 2.
“Buku ini hadir sebagai sumber belajar yang penting bagi anak-anak agar cerita rakyat tetap lestari dan dapat dinikmati generasi masa depan,” ujar Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Grace L. Yoku, S.Pd., M.Pd di Hotel Suni Abepura, Rabu, 12 November 2025.
Dia juga mengatakan, buku yang telah diluncurkan ini tidak hanya sebagai media belajar, tetapi juga menjadi sarana pendokumentasian, pelestarian, dan revitalisasi cerita-cerita lokal yang asli dari Port Numbay.
Dengan menghadirkan narasumber penulis buku agar sekolah mendengar langsung maksud cerita, termasuk penyebutan bahasa yang baik dan benar sesuai kebudayaan asli masyarakat.
Buku cerita rakyat ini berisi sebanyak 30 kisah yang berasal langsung dari kampung-kampung di Port Numbay. Uniknya, buku ini disajikan dalam dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa ibu setempat.
Pendekatan ini dapat meningkatkan pemahaman berbagai kalangan, terutama bagi generasi muda yang mulai tergerus pengaruh budaya modern dan bahasa global.
Adanya dua bahasa, anak-anak tidak hanya mengenal cerita rakyat secara utuh, tapi juga dapat mempelajari bahasa ibu mereka dengan cara menyenangkan.
Proses pembuatan buku cerita rakyat Port Numbay jilid 2 memakan waktu selama tiga bulan. Tahap utama dalam proses ini adalah pengumpulan kisah-kisah langsung dari narasumber utama, yaitu para pemilik cerita dari kampung-kampung.
Pendekatan ini dilakukan untuk menjaga keaslian cerita dan memastikan bahwa setiap detail tetap sesuai dengan budaya asli masyarakat Port Numbay tanpa adanya perubahan yang merusak nilai-nilai tradisional.
Selain bertujuan melestarikan budaya, buku ini juga dibuat untuk meningkatkan literasi generasi muda, yang selama ini masih rendah dalam membaca dan memahami bahan bacaan lokal.
“Metode pembelajaran yang mengangkat muatan lokal melalui cerita rakyat yang menarik dan mudah dipahami, anak-anak diharapkan dapat lebih tertarik membaca sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya daerahnya sendiri,” ujar Yoku.
Plt. Asisten I Kota Jayapura, Evert Nicolas Merauje, S.Sos., M.Si mewakili Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo, S.H., M.H berharap agar kehadiran buku cerita rakyat Port Numbay jilid 2 dapat dimanfaatkan secara optimal oleh sekolah-sekolah.
Ia menekankan pentingnya peran sekolah sebagai pelopor dalam pengenalan dan pelestarian budaya lokal melalui kurikulum dan muatan pembelajaran yang relevan.
Menurut Evert, generasi muda harus memiliki akses mudah terhadap bahan bacaan yang mengandung nilai-nilai lokal agar mereka tidak kehilangan akar budaya di tengah perkembangan zaman.
Peluncuran buku ini juga diharapkan dapat menjadi langkah konkret pemerintah dan dinas terkait dalam mendukung upaya pelestarian budaya Papua melalui pendidikan.
Selain itu, buku cerita rakyat ini dapat menjadi referensi penting bagi guru dan pendidik dalam menyusun materi pembelajaran yang mengutamakan muatan lokal, sehingga tidak hanya fokus pada pendidikan nasional, tetapi juga memahami dan menghargai keunikan budaya daerah.
Upaya ini diharapkan agar cerita rakyat Port Numbay tidak hanya menjadi kenangan masa lalu tetapi terus hidup dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, terutama generasi penerus.
“Peran aktif sekolah dalam mengajarkan buku cerita rakyat dua bahasa ini sebagai muatan lokal, semangat melestarikan budaya dan meningkatkan literasi anak-anak Papua dapat semakin berkobar,” ujar Merauje.
(ldr)








