TIFAPOS.id – Provinsi Papua sudah memiliki sembilan dari 40 Sekolah Menengah Peetama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) baik negeri dan swasta yang menjadi sekolah penggerak yang siap mewujudkan visi pendidikan Indonesia.
Sembilan sekolah penggerak tersebut adalah SMP Negeri 1 Jayapura, SMP Negeri 3 Jayapura, SMP Negeri 7 Jayapura, SMP YPPK Santu Paulus Abepura, SMP Kalam Kudus Jayapura, SMP Pembangunan Yapis Waena, SMP Kristus Raja, SMPIT Qurrota Ayun Abepura.
“Yang belum menjadi sekolah penggerak tetap melaksanakan Kurikulum Merdeka secara mandiri,” Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP/MTs Kota Jayapura, Purnama Sinaga di SMP Negeri 1 Jayapura, Selasa (4/6/2024).
Program sekolah penggerak berfokus pada hasil belajar siswa secara holistik yang mencakup kompetensi (literasi dan numerasi) dam karakter, diawali dengam sumber daya yang unggul (kepala sekolah dan guru).
Program sekolah pengerak merupakan penyempurnaam program transformasi sekolah sebelumnya, yang mengakselerasi sekolah negeri/swasta di seluruh kondisi sekolah untuk bergerak 1-2 tahap lebih maju.
“Program sekolah penggerak dilakukan bertahap dan terintegrasi dengam ekosistem hingga seluruh sekolah menjadi sekolah penggerak,” ujar Purnama yang juga menjabat senagai Kepala SMP Negeri 1 Jayapura.
Untuk menjadi sekolah pengerak harus melalui proses seleksi diantaranya memiliki sisa masa tugas sebagai kepala sekolah sekurang-kurangnya satu kali masa tugas dan terdaftar dalam data pokok pendidikan atau DAPODIK.
Perbedaan sekolah penggerak adalah menerapkan suatu kurikulum yang meliputi bernagai aspek esensial dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa yang berhubungan langsung dengan kemampuan serta kepribadian peserta didik.
Sedangkan kurikulum sekolah biasa tidak mengacu hal-hal itu. Untuk itu, sekolah penggerak dapat meningkatkan layanan stimulasi pertumbuhan dan perkembangan peserta didik agar memiliki kompetensi yang berlandaskan profil pelajar Pancasila.
“Sekarang tidak ada lagi seleksi untuk sekolah penggerak tapi guru penggerak. Belajar dari sekolah yang sudah menjadi sekolah penggerak untuk tetap mengimplementasikan Kurikulum Merdeka sesuai petunjuk,” ujarnya.
“Manfaat sekolah penggerak dapat meningkatkan kompetensi guru menjadi lebih baik, karena ada pendampingan dan pemgimbasan kepada sekolah lain. Sebagai Ketua MKKS SMP/MTs, saya selalu memberikan sosialisasi dan pengimbasan,” ujarnya.






