Beranda / Ragam Berita / Respon ancaman kepunahan bahasa daerah, UM Papua hadirkan kamus digital

Respon ancaman kepunahan bahasa daerah, UM Papua hadirkan kamus digital

Mahasiswa dan dosen Universitas Muhammadiyah Papua. (TIFAPOS/Istimewa)

TIFAPOS.id – Universitas Muhammadiyah Papua (UM Papua), merespon ancaman kepunahan bahasa daerah, dengan mengembangan prototipe aplikasi kamus digital.

Pengembangan implementasi algoritma dan peningkatan fitur pada aplikai kamus digital, kolaborasi dosen dan mahasiswa di prodi (program studi) Ilmu Komputer UM Papua, dan Balai Bahasa Papua.

Proyek untuk melestarikan bahasa-bahasa daerah Papua, didukung oleh hibah riset dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Ketua pelaksana riset bantuan luaran prototipe 2024, Nur Fitrianingsih Hasan menyampaikan, dari 400 bahasa daerah yang pernah tercatat, 30 di antaranya telah punah pada tahun 2019.

“Pengembangan aplikasi ini juga selaras dengan Peraturan Bupati Nomor 21 Tahun 2021 tentang implementasi bahasa daerah sebagai muatan lokal di pendidikan dasar,” ujar Nur dalam rilis yang dikeluarkan UM Papua, Selasa (26/11/2024).

Ia juga mengatakan, pengembangan aplikasi kamus digital untuk mendukung platform pembelajaran dalam pelestarian bahasa daerah, progresnya sudah mencapai 80%.

“Kami telah menyelesaikan beberapa luaran utama, termasuk bukti uji laboratorium TKT 4, blueprint aplikasi, video kegiatan, dan poster hasil penelitian. Evaluasi yang dilakukan menunjukkan bahwa hasilnya sudah sangat baik, meskipun aplikasi saat ini masih berada di level laboratorium,” ujar Nur.

Secara teknis, dikatakan Nur, aplikasi kamus digital menggunakan algoritma untuk memastikan pengguna dapat mengakses data, seperti kata dan frasa dengan cepat, akurat, relevan, dan efisien.

 

Ketua pelaksana riset bantuan luaran prototipe 2024, Nur Fitrianingsih Hasan. (TIFAPOS/Istimewa)

“Prof. Yus Mochamad Cholily, sebagai asesor dari Kemendikbudristek Dikti mengapresiasi atas capaian yang telah diraih. Bahkan, ia merekomendasikan agar pengembangan dilanjutkan sampai TKT 6 hingga aplikasi ini memiliki fitur penerjemahan otomatis yang lebih luas, seperti Google Translate,” sambungnya.

Anggota tim penguji, Safrudin Lambae menyampaikan riset ini sudah berjalan sejak 2021. Tahun 2024 fokus pada proses pengembangan prototipenya.

“Dimulai sejak 1 Agustus 2024 dan membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) dari level 3 ke level 4. Saat ini, aplikasi masih berupa prototipe yang mencakup lebih dari 5.000 kata dari empat bahasa daerah, yaitu Sentani, Moi, Tarfia, dan Tamer,” Safrudin.

Ia juga mengatakan, aplikasi ini direncanakan akan diluncurkan pada awal tahun 2025 dan dapat diakses melalui situs web.

Pembagian Tugas Yang Jelas

Tim pengembangan aplikasi ini terdiri dari Ketua tim, Nur Fitrianingsih Hasan, bersama anggota tim dosen lainnya, yaitu Yasinta Bella Fitriana, dan Patmawati Hasan, serta mahasiswa dari prodi ilmu komputer, yaitu Nurfadillah, dan Safrudin Lambae.

“Ibu Bella bertanggung jawab membuat skenario uji, sedangkan saya dan Nurfadillah melakukan pengujian sistem dan menyusun laporan pengujian berdasarkan skenario uji,” ujar Safrudin.

“Hasil pengujian kami kemudian dilaporkan, dan Ibu Patma memberikan kesimpulan, rekomendasi dan tindak lanjut berdasarkan laporan pengujian. Perbaikan sistem sendiri dilakukan oleh Ibu Fitri,” sambungnya.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *