Plt. Kepala Bidang Bina Ideologi Wawasan Kebangsaan dan Karakter Bangsa, Dr. Nur Jaya S.Pd, M.KP, menyampaikan materi pada sosialisasi pencegahan kekerasan seksual di Pondok Pesantren DQD Argapura. (TIFAPOS/Istimewa)
Ringkasan Berita
• Komunitas Perempuan Milenial Hebat Papua gelar sosialisasi dan edukasi pencegahan kekerasan seksual di Pondok Pesantren DQD Argapura.
• Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dari 25 November hingga 10 Desember 2025.
• Membangun karakter melalui kesehatan mental, menekankan lingkungan belajar sehat tanpa kekerasan dan pelecehan seksual.
KOMUNITAS Perempuan Milenial Hebat (PULIH Papua) menyelenggarakan sosialisasi dan edukasi pencegahan kekerasan seksual di aula Pondok Pesantren DQD Argapura, Kota Jayapura, Kamis, 4 Desember 2025.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, yang berlangsung dari 25 November hingga 10 Desember, dengan tema “Remaja Cerdas, Tahu Hak, Tahu Batas dan Anti Kekerasan Seksual”.
Acara ini menargetkan 100 santriwati (santri perempuan) di pondok pesantren tersebut, sebagai bagian dari seri ke-11 rangkaian kegiatan yang dirancang untuk menyentuh tiga kelompok strategis, yaitu perempuan muda, remaja, dan tokoh serta pemangku kepentingan lokal.
Kegiatan dibuka dengan paparan materi dari dua narasumber utama, yakni Plt. Kepala Bidang Bina Ideologi Wawasan Kebangsaan dan Karakter Bangsa Badan Kesbangpol Kota Jayapura, Dr. Nur Jaya S.Pd, M.KP, membahas pentingnya membangun karakter melalui kesehatan mental.
Narasumber kedua, Direktur LBH Apik Jayapura, Nur Aida Duwila, S.H, memberikan edukasi tentang hak-hak perempuan, batasan-batasan dalam interaksi sosial, dan mekanisme pertolongan bagi korban kekerasan seksual.
Paparan materi diikuti oleh sesi tanya jawab terbuka yang interaktif, memberikan ruang aman bagi santriwati untuk menyampaikan aspirasi dan pertanyaan mereka.
Kegiatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga bertujuan mendalam untuk memberikan edukasi tentang kekerasan seksual dan mekanisme pertolongan.
Selain itu, menyediakan ruang aman bagi perempuan muda untuk berbagi pengalaman, mengembangkan kapasitas remaja sebagai agen perubahan.
Serta, menguatkan jejaring antara komunitas perempuan, tokoh masyarakat, dan pemerintah kota, serta menghasilkan rekomendasi kebijakan publik berbasis pengalaman perempuan dan remaja.
“Jadi, bagaimana mereka mau belajar dengan baik kalau kondisi mental mereka dalam kondisi yang tidak baik,” ujar Plt. Kepala Bidang Bina Ideologi Wawasan Kebangsaan dan Karakter Bangsa Badan Kesbangpol Kota Jayapura, Dr. Nur Jaya S.Pd, M.KP dalam rilisnya di Jayapura, Jumat, 5 Desember 2025.
Ia menekankan lingkungan belajar yang sehat, tanpa kekerasan dan pelecehan seksual, sangat krusial, terutama di lembaga pendidikan berpola asrama seperti pondok pesantren, di mana banyak kasus kekerasan seksual ditemukan.
Sehingga, Pondok Pesantren DQD Argapura dapat menjadi lingkungan yang lebih aman dan mendukung pengembangan karakter santriwati.
“Kami ingin mencegah terjadinya kekerasan seksual dengan membekali remaja pengetahuan dan keterampilan untuk melindungi diri sendiri serta membantu sesama,” tambahnya.
Dr. Nur Jaya berharap, inisiatif komunitas PULIH Papua dapat berkontribusi pada pengurangan kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan khususnya di Papua, di mana akses terhadap edukasi gender masih terbatas.
(ldr)







