Beranda / Ragam Berita / Program penanaman sagu di Kampung Omon: Upaya kepala kampung cegah nomadenisme warga

Program penanaman sagu di Kampung Omon: Upaya kepala kampung cegah nomadenisme warga

Ondoafi Kampung Omon hidup selaras dengan hutan di gubuk sederhana beratap daun di tengah lebatnya rimba, menjaga tradisi dan alam yang menjadi rumah mereka. Ia menyambut hangat tim Komunitas Medis Papua Tanpa Batas. (TIFAPOS/La Ramah)

 

Ringkasan Berita

• Pola nomaden mengganggu stabilitas sosial, pembangunan infrastruktur, dan pendidikan.

• Program penanaman sagu berbasis dana Respek diluncurkan untuk mencegah migrasi warga.

• Ubah pola hidup nomaden menjadi menetap, dengan sagu sebagai penopang utama.

 

DI TENGAH tantangan kehidupan nomaden yang masih melekat pada masyarakat Kampung Omon, Distrik Gresi Selatan, Kabupaten Jayapura, Papua, Kepala Kampung Frans Tabisu mengambil langkah inovatif.

Program penanaman sagu berbasis dana Respek (Rekomendasi Penggunaan Dana Perimbangan) resmi diluncurkan untuk menahan warga tetap bertahan di kampung.

Inisiatif ini bertujuan mengubah pola hidup migrasi akibat ketiadaan makanan pokok, khususnya sagu yang menjadi andalan masyarakat setempat.

Frans Tabisu, yang telah memimpin Kampung Omon selama dua tahun, menyampaikan kekhawatirannya dalam wawancara khusus dengan awak media saat dijumpai, Kamis, 18 Desember 2025.

“Dulu, makanan pokok kami sagu. Begitu sagu habis, kami pindah lagi ke hutan. Kami mau tinggal di kampung, tapi makanan tidak ada,” ujar Tabisu.

Menurutnya, pola nomaden ini bukan hanya mengganggu stabilitas sosial, tapi juga menghambat pembangunan infrastruktur dan pendidikan di kampung.

“Kami buka pertanian dengan menanam sagu menggunakan dana Respek. Ini solusi jangka panjang agar warga betah di sini,” tambahnya.

Program ini memanfaatkan anggaran Respek sebesar Rp 100 juta yang dialokasikan Pemerintah Kabupaten Jayapura untuk pengembangan ekonomi masyarakat adat.

Dana tersebut digunakan untuk membeli 500 bibit sagu unggul dari Balai Penelitian Tanaman Pangan Papua.

Sebanyak 50 kepala keluarga dari 300 jiwa penduduk Kampung Omon dilibatkan langsung.

Lahan seluas 10 hektare di pinggir Sungai Omon telah dibebaskan dan ditanami bibit sagu muda yang tahan terhadap iklim tropis basah Papua.

Keberhasilan awal terlihat dari dua hektare lahan percobaan tahun lalu.

Kini, dengan penanaman terstruktur, sagu bisa dipanen secara berkelanjutan dalam 5-7 tahun pertama, dan pohon dewasa bertahan hingga puluhan tahun.

Inisiatif ini sejalan dengan program Pemerintah Provinsi Papua dalam mengurangi kemiskinan ekstrem di wilayah perbatasan dan pegunungan.

Sagu, sebagai tanaman endemik Papua, bukan hanya makanan pokok tapi juga potensi ekonomi.

Frans Tabisu berencana mengembangkan agroindustri sagu, seperti produksi tepung sagu untuk diekspor ke kota-kota besar.

“Kami koordinasi dengan Dinas Pertanian dan Kementerian Desa untuk tambahan bantuan bibit dan teknologi pengeringan,” ujar Tabisu.

Namun, tantangan masih ada. Akses jalan menjadi ancaman utama, warga kesulitan untuk keluar masuk.

Jalan setapak yang digunakan sepanjang 15 kilometer berlubang dan berlumpur saat hutan. Bahkan harus melalui sungai dengan aliran airnya yang deras.

Dengan penanaman sagu, Kampung Omon tak lagi sekadar tempat tinggal sementara, tapi rumah abadi bagi warganya.

Frans Tabisu optimis warganya takkan lagi hidup nomaden, karena sagu akan jadi penopang hidup sehari-hari.

“Sagu yang kami tanam sudah berbuah. Sekarang, kami tak lagi keluar kampung mencari makanan,” ujar Yuliana Tet.

Ia mengaku dulu keluarganya sering pindah setiap enam bulan karena pohon sagu liar habis dipanen.

(ldr)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *