Plt. Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Provinsi Papua, Achmad Djalali. (TIFAPOS.id/La Ramah)
TIFAPOS.id – POCADI, atau Pojok Baca Digital, adalah layanan yang menyediakan akses kepada masyarakat untuk membaca bahan pustaka elektronik dan cetak.
Layanan ini bertujuan untuk meningkatkan literasi dan kualitas layanan publik di berbagai daerah di Indonesia terutama di Provinsi Papua.
Plt. Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Provinsi Papua, Achmad Djalali, mengatakan pojok baca digital bantuan Perpustakaan Nasional di tempat-tempat umum, seperti Bandara Sentani, lobi Kantor Gubernur Papua, Lapas Kelas 1A Abepura.
Tujuannya untuk memudahkan akses masyarakat terhadap literatur digital dan meningkatkan minat bagi masyarakat di era digital.
Pojok baca digital dapat mendukung indeks pembangunan literasi masyarakat (IPLM) karena layanan ini berinovasi untuk mengembangkan budaya literasi.
“Manfaat pojok baca digital, yaitu menyediakan tempat membaca dengan koleksi buku digital (e-book), buku cetak, dan bacaan lainnya di pusat keramaian,” ujar Achmad di Kantor DAP Provinsi Papua, Kamis (6/3/2025).
Ia juga mengatakan, POCADI dilengkapi dengan komputer, tablet, dan TV LED yang terhubung ke internet, memungkinkan pengunjung untuk membaca dengan nyaman.
Terdapat permainan edukatif untuk anak-anak dan petugas perpustakaan yang siap membantu pengunjung.
Menyediakan aplikasi iPusnas yang memberikan kemudahan meminjam e-book secara gratis.
Memungkinkan peminjaman buku secara online tanpa harus datang langsung ke perpustakaan konvensional.
IPLM sendiri terdiri dari tujuh unsur, yaitu pemerataan layanan perpustakaan, ketercukupan koleksi, tenaga perpustakaan, tingkat kunjungan masyarakat.
Selain itu, jumlah perpustakaan ber-SNP, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan sosialisasi atau promosi, serta anggota perpustakaan.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Papua terus berupaya meningkatkan nilai IPLM melalui program literasi, yang secara signifikan meningkatkan literasi masyarakat.
Masyarakat dapat terlibat lebih aktif dalam program literasi melalui pojok baca digital dengan berbagai cara, seperti sosialisasi dan promosi.
Mengadakan sosialisasi tentang tujuan dan manfaat pojok baca digital untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang inovasi ini serta menumbuhkan minat baca.
Melakukan kerja sama dengan sekolah dan pondok pesantren agar siswa memahami manfaat, peran, serta tujuan pojok baca digital dan koleksi yang tersedia.
Menggunakan media digital untuk mempermudah akses membaca, sehingga masyarakat lebih terlibat dalam aktivitas literasi.
Menggelar kegiatan kampanye literasi dengan berbagai pihak, seperti LSM atau kantor desa, dengan membagikan buku gratis atau membuka taman bacaan gratis.
Membangun akses yang mudah dan murah ke berbagai jenis bahan bacaan, seperti buku, majalah, koran, dan komik.
Melibatkan masyarakat secara aktif dalam kegiatan literasi melalui pojok baca untuk meningkatkan rasa tanggung jawab dan motivasi.
“Masyarakat umum, pelajar, dan mahasiswa dapat memanfaatkan pojok baca digital untuk mengerjakan tugas dan mencari bahan pembelajaran,” ujar Achmad.
Achmad menambahkan, penerapan layanan pojok baca digital di daerah terpencil menghadapi sejumlah tantangan signifikan, seperti keterbatasan infrastruktur teknologi.
Literasi digital yang rendah di daerah terpencil menjadi kendala, pegunungan atau pulau-pulau terpencil, menghambat digitalisasi, keterbatasan sumber daya manusia dan fasilitas yang dimiliki perpustakaan menjadi kendala.
Selain itu, masyarakat desa atau kampung lebih memprioritaskan memenuhi kebutuhan sehari-hari daripada membeli buku atau menyekolahkan anak.
Sebagian masyarakat desa belum menyadari pentingnya literasi digital. Mereka mungkin menganggap teknologi digital tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari atau merasa tidak memerlukannya.
Minimnya pemahaman tentang literasi digital membuat masyarakat desa rentan terhadap penipuan atau kejahatan online, dan akses internet dianggap tidak dapat membantu program literasi.
Ia juga mengatakan, untuk mengukur efektivitas pojok baca (termasuk pojok baca digital) dalam meningkatkan literasi, yaitu mengukur peningkatan rapor literasi sekolah setelah adanya pojok baca.
Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan observasi dan wawancara untuk melihat bagaimana pojok baca meningkatkan literasi.
Memberikan angket kepada siswa atau pengguna untuk mengetahui frekuensi kunjungan dan pemanfaatan pojok baca. Hasil angket dapat dianalisis untuk melihat apakah pojok baca berhasil meningkatkan minat baca.
Melacak data peminjaman buku (fisik atau digital) untuk melihat jenis buku yang paling diminati dan bagaimana frekuensi peminjaman berubah seiring waktu.
Evaluasi program yang dirancang secara komprehensif, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi, untuk mengukur efektivitas program pojok baca.
Serta, studi literatur yang mendalam untuk memahami berbagai aspek literasi dan bagaimana pojok baca dapat berkontribusi pada peningkatan literasi.






