Kepala SMA Negeri 4 Jayapura, Anton Djoko Martono, S.Pd., M.Pd. (TIFAPOS.id/La Ramah)
TIFAPOS.id– Kepala SMA Negeri 4 Jayapura, Anton Djoko Martono, S.Pd., M.Pd, mengatakan pesantren kilat meningkatkan iman, takwa, dan toleransi.
Ia juga mengatakan, keikutsertaan siswa dalam pesantren kilat menawarkan beragam keuntungan yang bermanfaat bagi perkembangan pribadi dan spiritual mereka.
Pesantren kilat memberikan kesempatan untuk mempelajari dasar-dasar agama Islam secara intensif, termasuk Al-Qur’an, hadis, fiqih, dan akidah.
Siswa dapat mempraktikkan ibadah sehari-hari, seperti shalat, puasa (jika diadakan di bulan Ramadan), dan membaca Al-Qur’an dengan bimbingan yang tepat.
Pesantren kilat menekankan nilai-nilai luhur seperti kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kesabaran.
Melalui ceramah, diskusi, dan kegiatan sehari-hari, siswa didorong untuk mengamalkan akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Pesantren kilat membantu siswa untuk lebih mengenal diri sendiri, memahami tujuan hidup, dan meningkatkan kesadaran akan keberadaan Allah SWT, agar siswa dapat merasakan ketenangan dan kedamaian batin.
Selain itu, pesantren kilat yang memerlukan kerja sama tim, sehingga siswa belajar untuk bekerja sama, menghargai perbedaan, dan mencapai tujuan bersama.
Siswa dilatih untuk berkomunikasi secara efektif, baik dalam menyampaikan pendapat maupun mendengarkan orang lain.
Memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan jiwa kepemimpinan, dan kebersamaan dalam pesantren kilat dapat mempererat tali persaudaraan antar siswa.
“Kegiatan pesan kilat dua hari libur awal Ramadan 1446 Hijriah,” ujar Anton di SMA Negeri 4 Jayapura, Kota Jayapura, Papua, Rabu (26/2/2025).
Ia juga mengatakan, dengan mengikuti pesantren kilat, siswa dapat terhindar dari kegiatan-kegiatan negatif yang mungkin dilakukan di luar lingkungan sekolah.
Ceramah dan kisah-kisah inspiratif dalam pesantren kilat dapat memotivasi siswa untuk belajar lebih giat dan meraih cita-cita.
Selain itu, pesantren kilat dapat membantu siswa untuk menyeimbangkan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi, sehingga mereka dapat meraih kesuksesan di dunia dan akhirat.
“Pesantren kilat memberikan manfaat holistik bagi siswa SMA, meliputi aspek spiritual, karakter, sosial, dan intelektual. Kegiatan ini dapat membantu mereka menjadi pribadi yang lebih baik, berakhlak mulia, dan berprestasi,” ujar Anton.
Kesempatan tersebut, dikatakan Anton, pesantren kilat menggunakan berbagai metode untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, menggabungkan pendekatan keagamaan dan psikologis untuk memberikan dampak yang holistik.
Ustadz atau pembicara yang diundang memberikan ceramah dengan tema-tema yang relevan dengan dunia remaja dan pendidikan.
Ceramah ini diselingi dengan kisah-kisah inspiratif dari tokoh-tokoh sukses (baik tokoh agama maupun tokoh dunia) yang dapat membangkitkan semangat belajar siswa.
Siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk membahas topik-topik tertentu terkait dengan motivasi belajar, tujuan hidup, atau tantangan yang dihadapi dalam belajar.
Diskusi ini mendorong siswa untuk berbagi pengalaman, memberikan dukungan satu sama lain, dan menemukan solusi bersama.
Siswa dibimbing oleh mentor (biasanya ustadz, guru, atau alumni) yang memberikan arahan, nasihat, dan dukungan pribadi.
Mentor membantu siswa untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan mereka, menetapkan tujuan belajar yang realistis, dan mengembangkan strategi untuk mencapai tujuan tersebut.
Selain itu, permainan dan kegiatan ice breaking digunakan untuk menciptakan suasana yang menyenangkan dan menghilangkan kejenuhan. Permainan ini mengandung unsur edukatif dan dapat meningkatkan kerjasama tim, kemampuan komunikasi, dan kreativitas siswa.
Kemudian, siswa diberikan studi kasus tentang permasalahan atau tantangan yang dihadapi oleh siswa lain dalam belajar.
Mereka kemudian diminta untuk menganalisis kasus tersebut dan mencari solusi yang tepat. Metode ini melatih kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah siswa.
Siswa diajak untuk membayangkan diri mereka meraih kesuksesan dalam belajar, mencapai cita-cita mereka, dan memberikan kontribusi positif kepada masyarakat.
Visualisasi ini membantu siswa untuk memfokuskan pikiran mereka pada tujuan yang ingin dicapai dan meningkatkan kepercayaan diri mereka.
Kemudian, siswa diajak untuk merenungkan diri, mengevaluasi perilaku dan kebiasaan belajar mereka, serta mengidentifikasi area-area yang perlu diperbaiki.
“Muhasabah (introspeksi diri) membantu siswa untuk menyadari potensi diri mereka dan termotivasi untuk menjadi lebih baik,” ujar Anton.
Selain itu, Siswa diberikan tugas-tugas yang relevan dengan materi yang dipelajari, seperti membuat resume, presentasi, atau proyek kelompok, agar membantu siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka peroleh dan mengembangkan keterampilan belajar mandiri.
Mempelajari kitab-kitab agama yang mengandung hikmah dan nasihat tentang pentingnya ilmu pengetahuan dan motivasi dalam mencari ilmu.
Melaksanakan shalat malam dan berdoa bersama untuk memohon kemudahan dalam belajar dan meraih cita-cita. Kegiatan ini mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan keyakinan diri.
“Metode-metode ini dipilih dan dikombinasikan secara kreatif oleh penyelenggara pesantren kilat untuk menciptakan pengalaman belajar yang menarik, bermakna, dan efektif bagi siswa,” ujar Anton.
Ia juga mengatakan, kombinasi antara pendekatan keagamaan dan psikologis ini diharapkan dapat memberikan dampak yang berkelanjutan pada motivasi belajar siswa dan membantu mereka meraih kesuksesan dalam kehidupan.
Pemerintah melalui Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2025 dan Nomor 400.1/320/SJ telah mengatur jadwal pembelajaran anak sekolah selama Ramadan.
Dalam Surat Edaran tentang pembelajaran di bulan Ramadan Ramadan 1446 Hijrahnya/2025 Masehi tersebut juga terdapat jadwal libur lebaran anak sekolah selama lima hari dari tanggal 27 Februari s.d 5 Maret 2025.
Adapun belajar di sekolah selama bulan Ramadan berlangsung pada tanggal 6 s.d 25 Maret 2025.
Tanggal 26 s.d 28 Maret 2025 libur dan cuti bersama Idulfitri, dan tanggal 9 April 2025 kembali melaksanakan pembelajaran di sekolah.






