Beranda / Ragam Berita / Pertama kali, SD YPK II Senasaba Jayapura gelar festival P5 dan Pentas Seni

Pertama kali, SD YPK II Senasaba Jayapura gelar festival P5 dan Pentas Seni

Peserta didik menampilkan pakaian adat masing-masing dalam kegiatan festival P5 dan Pentas Seni. (TIFAPOS/La Ramah)

TIFAPOS.id Yayasan Pendidikan Kristen di Tanah Papua melalui SD YPK II Senasaba Jayapura menggelar gestival P5 (Pekan Projek Profil Pelajar Pancasila) dengan tema jajanan sehat dan pentas seni, Rabu (28/5/2025).

Kepala SD YPK II Senasaba Jayapura, Sisca F.A. Imbiri, S.Pd., Gr., M.Pd, mengatakan kegiatan edukatif yang mengajak siswa mengenal, membuat, dan mempromosikan makanan sehat serta menampilkan bakat seni mereka.

Dia juga menjelaskan, melalui festival jajanan sehat siswa diajarkan kriteria jajanan sehat, merancang, memproduksi, dan menjual jajanan sehat dalam bazar yang melibatkan kerja sama dengan orang tua dan guru.

Kegiatan ini juga mengajarkan kewirausahaan dan karakter siswa aktif dalam produksi dan promosi jajanan sehat serta mengadakan festival dengan stand makanan sehat.

Festival jajanan sehat ini, menghadirkan menu kearifan lokal seperti olahan sagu, pisang, ikan, es kuwut melon, salad buah, asinan buah, es buah alvovado, rujak buah, brown sugar friead cassava, cheese fried cassava, keripik pisang, dan steak keju.

Kemeriahan acara bazar jajanan sehat yang dijalankan siswa bersama orang tua dan guru menambah semangat pelaksanaan festival P5 dan pentas seni, yang berlangsung di halaman sekolah.

Bersamaan dengan festival jajanan sehat, dikatakan pentas seni menjadi bagian penting yang menampilkan tari tradisional, musik, nyanyian, dan puisi yang melatih kreativitas dan keberanian siswa tampil di depan umum.

Kostum dan properti mendukung estetika pertunjukan, dan pentas seni menjadi hiburan sekaligus ruang pengembangan bakat siswa.

“Festival P5 mengintegrasikan pembelajaran karakter, kewirausahaan, kesehatan, dan seni dalam satu rangkaian kegiatan yang melibatkan siswa, guru, dan orang tua secara aktif,” ujar Imbiri.

Peserta didik menampilkan pakaian adat masing-masing dalam kegiatan festival P5 dan Pentas Seni. (TIFAPOS/La Ramah)

Dia juga mengatakan, pentas seni berfungsi sebagai hiburan dan sarana pengembangan bakat siswa, sekaligus mendukung suasana festival jajanan sehat agar lebih meriah dan menarik perhatian pengunjung.

Jenis pertunjukan seni yang ditampilkan selama festival P5 ini, yaitu tari tradisional dan tari daerah, seperti tari yosim pancar, lagu Papua yamko rambe yamko, tarian kolosal lainnya, cerita rakyat dan kisah budaya lokal.

Selain itu, peragaan busana batik eco print dan fashion show baju adat tradisional, puisi dan story telling yang mengembangkan kemampuan ekspresi siswa.

Atraksi seni bela diri tradisional seperti pencak silat, pertunjukan yang menggabungkan tari, musik, dan drama dengan tema budaya lokal.

“Festival P5 menampilkan beragam seni yang tidak hanya menghibur tetapi juga mengangkat kearifan lokal dan kreativitas siswa dalam mengapresiasi budaya daerah,” ujar Imbiri.

Peserta didik menampilkan pakaian adat masing-masing dalam kegiatan festival P5 dan Pentas Seni. (TIFAPOS/La Ramah)

Ketua Yayasan Pendidikan Kristen di Tanah Papua Joni Y. Betaubun, S.H., M.H, mengatakan siswa mengintegrasikan tema kesehatan dalam karya seni mereka dengan menggunakan seni sebagai sarana ekspresi dan edukasi yang mendukung kesehatan mental dan fisik.

Melalui seni visual, musik, tari, dan teater, siswa dapat menyalurkan perasaan dan emosi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, sehingga membantu mengelola stres dan kecemasan serta meningkatkan kesejahteraan emosional mereka.

Selain itu, karya seni yang dibuat siswa sering mengangkat pesan-pesan tentang pentingnya pola hidup sehat, gizi seimbang, dan kebersihan, yang secara langsung mengedukasi teman sebaya dan masyarakat sekitar tentang gaya hidup sehat.

Seni juga digunakan sebagai media kreatif untuk menyampaikan informasi kesehatan secara menarik dan mudah dipahami, misalnya melalui poster, drama pendek, atau tarian bertema kesehatan.

“Integrasi tema kesehatan dalam karya seni tidak hanya meningkatkan kesadaran dan pengetahuan siswa tentang kesehatan, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan kesehatan mental dan emosional mereka melalui proses kreatif,” ujar Joni.

Kepala SD YPK II Senasaba Jayapura, Sisca F.A. Imbiri, S.Pd., Gr., M.Pd mendampingi Ketua Yayasan Pendidikan Kristen di Tanah Papua Joni Y. Betaubun, S.H., M.H saat berbelanja kuliner hasil kerajinan siswa, guru, dan orang tua. (TIFAPOS/La Ramah)

Dia berharap, guru mendukung siswa agar karya seni mereka berfokus pada aspek kesehatan dengan memberikan pemahaman dan pemantik yang jelas tentang tema kesehatan sehingga siswa dapat mengekspresikan ide dan pesan terkait kesehatan secara terarah dalam karya seni mereka.

Guru juga sebagai fasilitator yang mendorong siswa untuk menghubungkan seni dengan aspek emosional, psikologis, dan kesehatan mental.

Integrasi pendidikan seni dengan pendekatan psikologis dan kesehatan mental, sehingga siswa tidak hanya belajar teknik seni, tetapi juga memahami bagaimana seni dapat digunakan sebagai alat ekspresi diri untuk mengelola stres dan meningkatkan kesejahteraan emosional.

Lingkungan belajar yang mendukung eksplorasi kreativitas siswa dalam konteks kesehatan, misalnya dengan memberikan tugas atau proyek seni yang mengangkat tema pola hidup sehat, gizi, atau kesehatan mental.

Memberikan bimbingan dan umpan balik yang konstruktif agar karya seni siswa dapat menyampaikan pesan kesehatan secara efektif dan menarik, sekaligus membantu siswa mengembangkan kemampuan kreatif dan emosional secara seimbang.

“Guru seni tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga membantu siswa memahami dan menginternalisasi nilai-nilai kesehatan melalui proses kreatif seni,” ujar Joni.

Kepala SD YPK II Senasaba Jayapura, Sisca F.A. Imbiri, S.Pd., Gr., M.Pd mendampingi Kepala Kelurahan Gurabesi, Kepala Kelurahan Gurabesi, Maria Jochu, S.IP., M.Sc saat berbelanja hasil kerajinan siswa, orang tua, dan guru. (TIFAPOS/La Ramah)

Kesempatan tersebut, Joni menegaskan keluarga besar YPK mendukung program Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo, S.H., M.H dan program Pemerintah Kota Jayapura dan Pemerintah Pusat terutama penyelenggaraan pendidikan.

Asisten III Bidang Administrasi Umum, Frederik Awarawi, S.H., M.Hum mewakili Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo, S.H., M.H, mengatakan seni digunakan sebagai media edukasi yang menarik, seperti pembuatan poster, video edukatif, dan pertunjukan drama yang menyampaikan pesan pentingnya pola makan sehat secara kreatif dan mudah dipahami oleh siswa.

Melalui kegiatan seni, siswa dapat lebih terlibat secara aktif dalam kampanye pola makan sehat, misalnya dengan membuat dan menampilkan karya seni yang mengangkat tema gizi seimbang dan dampak negatif makanan tidak sehat.

Pentas seni dan festival yang menggabungkan seni dengan promosi jajanan sehat menciptakan suasana yang menyenangkan dan memotivasi siswa untuk lebih peduli terhadap pilihan makanannya.

Kegiatan seni juga membantu meningkatkan kesadaran dan pemahaman siswa tentang manfaat pola makan sehat, sehingga mereka terdorong untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, seperti yang terlihat pada program sarapan sehat dan edukasi gizi di sekolah.

Interaksi sosial dan pengalaman positif dalam kegiatan seni yang berhubungan dengan kesehatan memperkuat motivasi siswa untuk membentuk kebiasaan makan sehat secara berkelanjutan.

“Seni menjadi alat efektif yang tidak hanya mengedukasi tetapi juga memotivasi siswa untuk menerapkan pola makan sehat melalui pendekatan yang interaktif dan menyenangkan,” ujar Awarawi.

Menu kearifan lokal olahan siswa, guru, dan orang tua ditampilkan dalam kegiatan festival P5 dam pentas seni SD YPK II Senasaba Jayapura. (TIFAPOS/La Ramah)

Dia juga berharap, peran orang tua dalam festival P5 (jajanan sehat) dan pentas seni di SD sangat penting, yaitu mendukung penyediaan jajanan sehat di rumah dengan menyediakan makanan bergizi seperti buah, sayur, dan kacang-kacangan serta menghindari makanan tidak sehat.

Menjadi panutan dengan menunjukkan kebiasaan makan sehat agar anak meniru perilaku tersebut.

Bekerja sama dengan sekolah dan komunitas dalam persiapan dan pelaksanaan festival, seperti membantu siswa menyiapkan jajanan sehat untuk dijual dan mendukung kegiatan promosi.

Mendampingi dan mendukung anak dalam pentas seni, yang menjadi bagian dari festival, sehingga anak dapat mengekspresikan bakat seni dan mengembangkan karakter.

Berperan sebagai pendidik di rumah yang melanjutkan nilai-nilai gizi dan karakter yang diajarkan di sekolah.

“Keterlibatan orang tua membantu menciptakan lingkungan yang mendukung pola makan sehat dan pengembangan karakter anak melalui kegiatan edukatif dan kreatif seperti Festival P5 dan pentas seni di SD,” ujar Awarawi.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *