Beranda / Ragam Berita / Perspektif PGRI Papua dalam implementasi pembelajaran mendalam

Perspektif PGRI Papua dalam implementasi pembelajaran mendalam

Ketua PGRI Papua, Dr. Elia Waromi, M.Pd. (TIFAPOS/ La Ramah)

TIFAPOS.id Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Papua menegaskan bahwa implementasi pembelajaran mendalam (deep learning) di tanah Papua bukanlah pilihan tambahan, melainkan sebuah keharusan.

Hal itu disampaikan Ketua PGRI Papua, Dr. Elia Waromi, M.Pd dalam rilisnya di Jayapura, Rabu (20/8/2025).

Namun kenyataannya, lanjut Dr. Waromi, guru dan sekolah masih berjuang dengan keterbatasan sarana, akses, dan dukungan nyata dari pemerintah.

Pasalnya, dalam implementasi pembelajaran mendalam menekankan transformasi pendidikan yang terstruktur dan masif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan karakter siswa.

“Bagaimana mungkin kita berbicara tentang pembelajaran abad 21, sementara listrik, internet, dan buku pelajaran masih menjadi barang mewah di sebagian besar wilayah Papua?,” ujar Dr. Waromi.

Dr. Waromi juga mengatakan, guru-guru di Papua siap menjalankan pembelajaran mendalam, tetapi mereka tidak boleh dibiarkan berjalan sendirian.

Negara, melalui kebijakan pusat maupun daerah, wajib memastikan kesejahteraan guru, pemerataan infrastruktur, serta dukungan pelatihan berkelanjutan.

Guru yang diperlengkapi adalah kunci agar pembelajaran mendalam tidak hanya berhenti sebagai jargon, tetapi nyata memberi transformasi dalam kelas-kelas Papua.

Lebih dari itu, PGRI Papua mengingatkan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama.

Orang tua, masyarakat adat, dunia usaha, dan gereja perlu digandeng sebagai mitra sejajar dalam membangun ekosistem belajar yang hidup. Tanpa keterlibatan kolektif ini, pembelajaran mendalam akan kehilangan ruhnya.

“Kami, PGRI Papua, menyerukan dengan tegas: pemerintah pusat maupun daerah jangan lagi menunda tanggung jawab. Saatnya berpihak pada guru dan anak-anak Papua,” ujar Dr. Waromi.

Dr. Waromi menegaskan, pembelajaran mendalam hanya bisa terjadi jika negara sungguh-sungguh hadir, tidak setengah hati, dan menempatkan Papua pada prioritas pembangunan pendidikan nasional.

“Guru Papua bukan beban, melainkan aset. Pembelajaran mendalam di Papua bukan mimpi, tetapi jalan menuju masa depan yang lebih adil, berdaya, dan bermartabat,” ujar Dr. Waromi.

Dr. Waromi menambahkan, PGRI Papua memandang pembelajaran mendalam sebagai pendekatan yang tidak hanya berpusat pada penguasaan materi, tetapi juga pada kemampuan berpikir kritis, analitis, evaluatif, dan reflektif siswa.

Pendekatan ini mengajak siswa untuk memahami, mengaplikasikan, memaknai, dan merefleksikan pembelajaran secara menyeluruh.

Dalam implementasinya, juga menekankan prinsip pembelajaran yang mindful (berkesadaran penuh), meaningful (bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata), dan joyful (menggembirakan).

Hal ini untuk memastikan bahwa siswa tidak sekadar menghafal materi, tetapi juga terlibat emosi dan mengalami proses belajar yang menyenangkan serta kontekstual.

PGRI mengedepankan inovasi metode pengajaran berbasis teknologi dan pendekatan kontekstual yang mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman nyata siswa di luar kelas, seperti kegiatan observasi dan refleksi.

PHRI juga menekankan juga pentingnya peran guru yang tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai motivator dan fasilitator yang mengedepankan nilai kasih sayang, kehadiran, serta cara mengajar yang menarik sehingga siswa lebih mudah terlibat dan mengingat pembelajaran.

Selain itu, terus mengadakan pelatihan secara berkala untuk membekali guru dengan strategi inovatif dalam perencanaan, implementasi, dan refleksi pembelajaran mendalam guna menjawab tantangan pendidikan abad ke-21 dan mempersiapkan generasi yang kompeten dan berkarakter.

Pendekatan pembelajaran mendalam juga dianggap sebagai peluang untuk mengatasi permasalahan mutu pendidikan, meningkatkan literasi dan numerasi.

Serta, menjaga kesehatan mental siswa dengan memberikan ruang bagi pengembangan minat dan bakat siswa dalam kegiatan intra dan ekstrakurikuler.

“PGRI Papua mempersepsikan pembelajaran mendalam sebagai kunci transformasi pendidikan yang harus diimplementasikan secara luas dan berkesinambungan untuk menyiapkan generasi yang adaptif, kreatif, dan berdaya saing tinggi di masa depan,” ujar Dr. Waromi.

“Pembelajaran mendalam bukan sekadar metode, tetapi sebuah mandat moral dan politik bagi negara untuk sungguh-sungguh hadir di Papua,” jelasnya.

 

(lrh)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *