Plt. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Rocky Bebena, S.Pd., M.Pd. (TIFAPOS/La Ramah)
TIFAPOS.id Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Jayapura, mendorong pembinaan ekstrakurikuler di sekolah sebagai upaya memperkuat akhlak siswa.
Salah satunya kegiatan ekstrakurikuler keagamaan dan rohani serta kegiatan sosial keagamaan dalam membentuk karakter dan moral siswa, termasuk nilai religius, disiplin, tanggung jawab, dan kreativitas.
“Dukungan sekolah yang komprehensif dan terpadu menjadi kunci utama keberhasilan pembinaan dan pelaksanaan kegiatan keagamaan yang berdampak positif pada karakter dan spiritualitas siswa,” ujar Plt. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Rocky Bebena, S.Pd., M.Pd di Kantor Wali Kota Jayapura, Rabu (11/6/2025).
Meski ada tantangan seperti keterbatasan sumber daya dan waktu, dikatakan Rocky, sekolah terus berupaya meningkatkan kualitas dan keberlanjutan program ekstrakurikuler untuk mendukung pembangunan karakter siswa secara menyeluruh.
Selain itu, Disdikbud Kota Jayapura mendorong ekstrakurikuler sebagai wahana penting untuk pembinaan akhlak siswa yang berkontribusi pada pembentukan karakter positif dan keimanan yang kuat di sekolah.
Kegiatan ekstrakurikuler dapat meningkatkan akhlak siswa secara efektif, dikatakan Rocky, melalui pembiasaan nilai dan etika, pengembangan karakter sosial, pembinaan yang terstruktur, penguatan keimanan dan rasa cinta tanah air, peningkatan kepercayaan diri dan kemandirian.
Dijelaskan Rocky, pembiasaan nilai dan etika seperti ekstrakurikuler kajian agama, dan kegiatan sosial menanamkan nilai moral, disiplin, tanggung jawab, dan solidaritas secara berulang sehingga menjadi kebiasaan siswa.
Pengembangan karakter sosial, yaitu kegiatan seperti Pramuka dan PMR mengajarkan kepedulian, kerja sama, komunikasi, dan sikap proaktif membantu siswa menginternalisasi nilai sosial dan etika dalam kehidupan sehari-hari.
Metode pembinaan yang terstruktur, yaitu dengan metode keteladanan, pemberian sanksi disiplin, dan pembelajaran rutin, siswa dididik untuk menjadi religius, disiplin, dan kreatif dalam berperilaku.
Penguatan keimanan dan rasa cinta tanah air, ekstrakurikuler keagamaan dan kebangsaan membantu siswa memahami dan mengamalkan nilai-nilai agama serta nasionalisme yang mendukung pembentukan akhlak mulia.
Peningkatan kepercayaan diri dan kemandirian, yaitu melalui partisipasi aktif dalam ekstrakurikuler membangun kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan tanggung jawab yang memperkuat karakter positif siswa.
Rocky menambahkan, keberhasilan pembinaan akhlak melalui ekstrakurikuler sangat bergantung pada perencanaan matang, dukungan sekolah, keterlibatan guru, siswa, dan orang tua, serta kesinambungan kegiatan tersebut.
“Ekstrakurikuler menjadi sarana efektif untuk membentuk karakter dan akhlak siswa secara menyeluruh dan berkelanjutan,” ujar Rocky.
Dia juga mengatakan, guru sebagai teladan dalam menjalankan nilai-nilai keagamaan, juga sangat berpengaruh dalam membentuk sikap dan perilaku siswa sehari-hari.
Pasalnya, lingkungan sekolah yang mendukung dengan nuansa religius memperkuat pembentukan karakter positif siswa secara holistik dengan mengintegrasikan nilai spiritual dan sosial, membangun sikap religius, jujur, disiplin, dan bertanggung jawab yang menjadi bekal mereka menghadapi tantangan kehidupan.
Dia juga mengatakan, Disdikbud Kota Jayapura mendorong pembinaan ekstrakurikuler keagamaan di sekolah sebagai upaya meningkatkan pemahaman, penghayatan, dan pembentukan karakter siswa melalui kegiatan di luar jam pelajaran formal.
Kegiatan ekstrakurikuler keagamaan ini, bertujuan mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, serta kepribadian dan kemandirian peserta didik, sekaligus memperkokoh keimanan dan ketaqwaan.
Kegiatan ini, direncanakan secara terstruktur dan menjadi bagian dari program tahunan sekolah dengan dukungan penuh dari kepala sekolah dan guru Pendidikan Agama Islam (PAI).
Termasuk, pengembangan keterampilan kepemimpinan lewat pelatihan berbasis nilai agama, yang menumbuhkan rasa solidaritas, tanggung jawab sosial, dan kemampuan interpersonal.
Meningkatkan disiplin dan komitmen dengan rutinitas kegiatan keagamaan seperti tadarus dan sholat berjamaah yang berdampak positif pada aspek akademik dan sosial siswa.
Serta, membangun rasa percaya diri dan kemampuan komunikasi melalui lomba pidato dan presentasi keagamaan, sikap toleransi dan penghargaan keberagaman dalam konteks sosial dan keagamaan.
Kepala sekolah, dikatakan Rocky, memiliki peran penting dalam pengelolaan dan pendampingan kegiatan agar dapat berjalan optimal dan berdampak positif pada pembentukan akhlak siswa.
Selain itu, meningkatkan mutu pembelajaran agama, dan membina moral siswa, karena
dukungan dari sekolah sangat mempengaruhi keberhasilan kegiatan keagamaan siswa, sehingga materi yang diajarkan guru lebih mudah dipahami dan diaplikasikan siswa.
Peningkatan minat dan motivasi belajar siswa terhadap pendidikan agama karena kegiatan ekstrakurikuler memberikan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan menyenangkan dibandingkan pembelajaran formal.
Memberikan ruang bagi guru pembimbing untuk mengenal lebih dekat kebutuhan dan potensi siswa dalam bidang keagamaan sehingga pengajaran dapat lebih personal dan efektif.
Serta, dukungan penerapan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari siswa lewat kegiatan sosial dan amal berbasis agama yang memperkuat pemahaman praktis ajaran agama yang diajarkan guru di kelas.
Untuk itu, Rocky berharap, komitmen dan peran aktif kepala sekolah serta guru dalam merancang, mengelola, dan membimbing kegiatan keagamaan sehingga berjalan lancar dan terarah.
Penyediaan fasilitas ibadah yang memadai seperti musholla atau ruang shalat yang nyaman, yang meningkatkan motivasi dan kenyamanan siswa dalam beribadah di sekolah.
Pengaturan waktu khusus untuk kegiatan keagamaan seperti shalat berjamaah dan pengajian yang terjadwal secara rutin, mendukung konsistensi pelaksanaan kegiatan.
Kerja sama dan dukungan seluruh warga sekolah termasuk guru, staf, siswa, dan orang tua yang saling mendukung dan mengawasi pelaksanaan kegiatan keagamaan.
“Interaksi positif antara guru dan siswa yang memotivasi siswa untuk lebih memahami dan mengamalkan nilai-nilai agama,” ujar Rocky.






