Beranda / Ragam Berita / Perayaan HUT WHDI ke-38 dengan kreativitas dan bakti kepada Tuhan

Perayaan HUT WHDI ke-38 dengan kreativitas dan bakti kepada Tuhan

Perempuan Hindu membuat dan menyusun gebongan dalam rangka HUT WHDI ke-38 2026. (TIFAPOS/La Ramah)

 

Ringkasan Berita

• Menggunakan bahan lokal seperti daun kelapa dan rempah Papua (hemat biaya, dukung ekonomi lokal).

• Bangun kepercayaan diri, kreativitas perempuan Hindu dalam menciptakan sesuatu bermakna.

• Lestarikan budaya, tingkatkan keterampilan tangan, perkuat solidaritas organisasi.

 

BERTEMPAT di Wantilan Praja Loka Pura Agung Surya Bhuvana Skyline Jayapura, perempuan Hindu terlibat dalam lomba membuat dan menyusun gebongan, yang diselenggarakan sebagai bagian dari perayaan Hari Ulang Tahun Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) ke-38 tingkat Kota Jayapura.

Kegiatan yang berlangsung Minggu, 15 Februari 2026 itu menarik perhatian puluhan peserta sekaligus menunjukkan komitmen komunitas Hindu di Provinsi Papua dan Kota Jayapura untuk melestarikan tradisi dan meningkatkan keterampilan.

Lomba ini melibatkan empat kelompok, masing-masing terdiri dari lima orang anggota dan pengurus WHDI Kota Jayapura.

Mereka berkompetisi dalam membuat gebongan dan sampian gebogan atau wadah tradisional dari anyaman daun kelapa, yang kemudian diisi dengan berbagai sesajen dan dipersembahan untuk upacara keagamaan.

Gebogan, juga disebut pajegan, disusun menyerupai menara gunung mengerucut ke atas, dihiasi canang sari dan sampyan. Bentuk ini melambangkan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Pencipta alam semesta.

Tinggi rendahnya gebogan mencerminkan keikhlasan hati, bukan kompetisi atau kemewahan. Buah-buahan melambangkan jenis keturunan seperti mangga (dari bunga) atau pisang (sekali berbuah).

Ketua WHDI Kota Jayapura, Ni Luh Gede Eka Juniati, S.Ag mengatakan kegiatan ini dirancang untuk membangun kepercayaan diri perempuan Hindu.

“Melalui lomba ini, kami ingin perempuan Hindu merasa mampu dan kreatif dalam menciptakan sesuatu yang bermakna,” ujar Juniati.

Juniati menekankan pentingnya memanfaatkan bahan lokal seperti daun kelapa, dan rempah-rempah khas Papua, yang tidak hanya menghemat biaya tetapi juga mendukung ekonomi lokal.

“Ini adalah cara kami melestarikan budaya sambil meningkatkan keterampilan tangan. Kegiatan ini sejalan dengan visi pemberdayaan perempuan Hindu,” ujar Juniati.

Juniati menjelaskan gebongan yang dihasilkan akan digunakan sebagai persembahan atau sesajen saat Hari Raya Hindu, menjadikannya bagian integral dari ritual keagamaan.

“Perempuan Hindu harus aktif dalam tradisi ini, bukan hanya sebagai peserta, tetapi sebagai pelestari. Dengan melibatkan pengurus dan anggota, lomba ini juga memperkuat solidaritas internal organisasi,” ujar Juniati.

Ketua WHDI Provinsi Papua, Ni Ketut Kabeningsih, S.Pd., M.M.Pd mengatakan gebongan memiliki manfaat luar biasa, baik secara spiritual maupun edukatif.

Selain itu, gebongan bukan sekadar benda, melainkan simbol pengorbanan suci dan rasa syukur kepada Tuhan, khususnya dalam Hari Raya Hindu seperti Nyepi atau Galungan.

Menurut Kabeningsih, kegiatan ini merupakan salah satu program kerja WHDI dalam bidang pendidikan, yang bertujuan untuk mengajarkan nilai-nilai kehidupan melalui praktik budaya.

“Isi gebongan mewujudkan rasa bakti kepada Tuhan, mengingatkan kita akan pentingnya pengorbanan dan syukur dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Kabeningsih.

Kabeningsih menambahkan gebongan sering kali diisi dengan bunga, buah-buahan, dan makanan tradisional, yang melambangkan kemakmuran dan harmoni sekaligus pendidikan budaya yang mendalam.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Jayapura, I Ketut Arnaya mengatakan lomba gebongan ini wujud karya seni yang indah, pengorbanan suci, dan nilai manfaatnya sebagai bentuk syukur kepada Tuhan.

Ia menekankan aspek estetika dan spiritual dari gebongan, yang dihias dengan motif tradisional Bali atau Papua, menciptakan harmoni budaya, yang mengajarkan seni dan agama saling melengkapi.

“Melalui lomba ini, kami belajar menghargai warisan leluhur. Ini tidak hanya tentang kompetisi, tetapi juga pendidikan yang bisa berkontribusi dalam melestarikan tradisi,” ujar Arnaya.

(lrm)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *