Mahasiswa Program Manajemen Pendidikan FKIP Universitas Cenderawasih Jayapura, Deris, S.Pd. (TIFAPOS/Ist)
Oleh : Deris, S.Pd
TIFAPOS.id Disiplin merupakan aspek penting dalam pembentukan karakter anak sejak usia dini. Menurut Hurlock (1990), masa kanak-kanak adalah periode kritis dalam perkembangan karakter karena pada masa ini anak membentuk pola perilaku yang akan terbawa hingga dewasa.
Oleh karena itu, meningkatkan karakter disiplin sejak dini sangat berperan dalam menciptakan pribadi yang bertanggung jawab dan mandiri.
Perkembangan zaman dan teknologi tidak selalu berdampak positif bagi kehidupan, namun juga memberikan efek yang negatif bagi seseorang.
Muncul dan menyebarnya perilaku sehari-hari mencerminkan krisis nilai moral, budi pekerti atau karakter pada masa sekarang tentunya sangat memprihatinkan, kebanyakan penyimpangan ini terjadi kepada anak dengan usia sekolah.
Di era globalisasi dan modernisasi saat ini, banyak nilai-nilai baik dan karakter dalam kehidupan yang telah lama dijunjung tinggi mulai hilang, dengan perkembangan teknologi dan perkembangan jaman, moral remaja justru mengalami penurunan yang cukup drastis.
Pendidikan karakter pada anak usia dini memiliki peranan penting dalam membentuk kepribadian anak sejak dini.
Anak usia dini berada pada tahap perkembangan kritis, di mana pengalaman awal mereka sangat memengaruhi pembentukan nilai, sikap, dan perilaku yang akan menjadi dasar karakter mereka di masa depan.
Pendidikan karakter menjadi semakin relevan dalam konteks globalisasi dan tantangan sosial yang kompleks saat ini, di mana anak-anak perlu memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan jati diri mereka.
Di Indonesia, pendidikan karakter telah menjadi bagian integral dari kurikulum pendidikan anak usia dini sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini.
Namun, implementasi pendidikan karakter sering kali menghadapi tantangan, seperti kurangnya pelatihan guru, keterbatasan sumber daya, dan kurangnya keterlibatan orang tua.
Pendidikan karakter pada anak usia dini tidak hanya memengaruhi perilaku individu, tetapi juga memberikan dampak signifikan pada masyarakat secara keseluruhan.
Pendidikan karakter pada anak usia dini memiliki peran yang penting sebagai fase awal dalam menanamkan dan membentuk karakter, mengingkat sedang dalam masa perkembangan.
Oleh karena itu, peran guru sangat signifikan dalam membentuk karakter peserta didik melalui proses pembelajaran di dalam pembelajaran.
Guru adalah pihak yang langsung berinteraksi dengan peserta didik selama di sekolah. Guru memiliki tanggung jawab untuk memberikan contoh dan menjadi teladan bagi peserta didik dalam perilaku yang baik, karena jika tidak peserta didik cenderung meniru apa yang mereka saksikan.
Peran guru dan orang tua sebagai orang-orang dewasa yang ada dalam kehidupan anak usia dini wajib menjadi teladan yang baik. Guru dan orang tua harus siap menjadi role model dalam pengembangan karakter anak.
Adanya contoh teladan dari orang dewasa akan memudahkan anak usia ini untuk memahami pentingnya karakter dalam kehidupan ke seharian.
Kemudian, guru perlu senantiasa mengembangkan diri melalui berbagai pelatihan agar memiliki kemampuan dalam menanamkan nilai-nilai karakter pada anak.
Penanaman nilai ini bisa sejalan dalam proses pembelajaran namun keterampilan guru dalam mempersiapkan pembelajaran yang memiliki muatan nilai karakter menjadi sangat penting.
Disiplin yang diterapkan sejak dini juga akan membantu anak mengembangkan kemampuan regulasi diri (self-regulation).
Menurut Lickona (1991), kemampuan ini merupakan inti dari pendidikan karakter karena anak akan belajar mengendalikan emosi, menunda kepuasan, dan mengikuti aturan tanpa harus selalu diawasi.
Anak yang memiliki kontrol diri yang baik cenderung lebih berhasil dalam kehidupan sosial maupun akademik.
Metode yang digunakan untuk mengajarkan disiplin pada anak usia dini harus disesuaikan dengan tahap perkembangan mereka.
Penggunaan cerita, permainan edukatif, dan kegiatan rutin adalah beberapa cara yang efektif. Misalnya, menceritakan kisah tokoh yang disiplin atau menggunakan lagu dan visual yang menarik untuk memperkenalkan konsep waktu dan tanggung jawab.
Penting juga untuk menghindari cara-cara yang bersifat otoriter atau penuh ancaman. Disiplin yang sehat dibangun melalui dialog, kasih sayang, dan rasa saling menghargai.
Dengan demikian, anak tidak merasa tertekan, tetapi justru memahami bahwa disiplin adalah bentuk kasih sayang yang membimbing mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Kesimpulan
Meningkatkan karakter disiplin pada anak usia dini adalah fondasi penting dalam pembentukan kepribadian yang kuat, mandiri, dan bertanggung jawab.
Para ahli seperti Hurlock, Piaget, Erikson, Montessori, dan Lickona sepakat bahwa masa usia dini adalah periode emas dalam menanamkan nilai-nilai dasar kehidupan, termasuk disiplin.
Disiplin yang ditanamkan sejak dini bukan berarti kekakuan atau hukuman keras, melainkan pembiasaan perilaku positif yang dilakukan secara konsisten, penuh kasih sayang, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Dengan bimbingan dari lingkungan terdekat terutama keluarga dan pendidik anak akan belajar mengatur diri, memahami aturan, serta mengembangkan kontrol diri dan tanggung jawab.
Disiplin bukan hanya bermanfaat untuk kehidupan sosial dan emosional anak, tetapi juga berdampak positif terhadap prestasi akademik dan kesuksesan di masa depan.
Oleh karena itu, semua pihak orang tua, guru, dan masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pembentukan karakter disiplin anak sejak usia dini.
Melalui contoh nyata, rutinitas yang terstruktur, dan pendekatan yang hangat namun tegas, sehingga anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, berdaya juang tinggi, dan siap menghadapi tantangan hidup.
(Penulis adalah Kepala TK Kartika VI-1 Persit Kota Jayapura, saat ini sebagai mahasiswa Program Magister Manajemen Pendidikan FKIP Universitas Cenderawasih Jayapura)






