Beranda / Opini / Penggunaan metode Gasing pada mata pelajaran matematika dapat meningkatkan literasi numerasi siswa Sekolah Dasar

Penggunaan metode Gasing pada mata pelajaran matematika dapat meningkatkan literasi numerasi siswa Sekolah Dasar

Mahasiswa Program Magister Manajemen Pendidikan FKIP Universitas Cenderawasih Jayapura, Kori Emelda Sem. (TIFAPOS/Ist)

Oleh : Kori Emelda Sem

TIFAPOS.id  Pendidikan merupakan upaya yang disengaja dan terorganisir, yang bertujuan untuk mengembangkan pertumbuhan potensi dan kemampuan intrinsik setiap individu.

Menurut UU SISDIKNAS No. 20 Tahun
2003, tujuan pendidikan adalah untuk membentuk individu yang memiliki iman dan kepercayaan yang kokoh kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, memiliki otonomi dan kemandirian, aktif, sehat berilmu, kreatif, memiliki keterampilan komunikasi yang efektif, dan akhirnya menjadi anggota masyarakat yang demokratis dan bertanggung jawab.

Pendidikan merupakan proses untuk memaksimalkan seluruh spektrum kemampuan manusia. Setiap individu memiliki potensi dan bakat yang melekat. Tanggung jawab utama seorang pendidik adalah membantu siswa dalam menemukan dan mengembangkan kemampuan mereka sebaik mungkin.

Bidang pendidikan bertanggung jawab untuk membangun masyarakat yang mempertahankan standar pendidikan yang tinggi, terutama dalam mempersiapkan siswa agar menjadi individu yang berkualitas.

Peran guru sangat penting dalam meningkatkan sistem pendidikan secara keseluruhan. Guru memiliki peran sentral dalam kemajuan pendidikan.

Menurut Widyastono (2015:14), seorang guru adalah fasilitator yang berperan sebagai panduan, penggerak, dan pelayan bagi siswa. Siswa memperoleh berbagai pengetahuan dan keterampilan di bawah bimbingan seorang guru.

Keberhasilan seorang guru dalam meningkatkan kualitas pendidikan tergantung pada kinerja optimal mereka. Sebaliknya, jika guru tidak memenuhi kewajiban dasarnya dengan efektif, pencapaian pendidikan yang berkualitas akan terhambat.

Menurut Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, guru adalah pendidik profesional yang tugas utamanya adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, mengevaluasi, dan menilai siswa pada semua tingkat pendidikan.

Pasal 2 ayat (4) juga menjelaskan bahwa guru, sebagai profesional, berkontribusi pada peningkatan status dan fungsi guru sebagai penggerak pengetahuan, sehingga meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan di tingkat nasional.

Tanggung jawab seorang guru berkaitan erat dengan pencapaian tujuan pembelajaran yang diinginkan. Tanggung jawab seorang guru sangat penting dalam memastikan keberhasilan proses belajar yang efektif
dan efisien, yang pada akhirnya akan mengarah pada pencapaian tujuan pendidikan dan munculnya lulusan yang sangat kompeten.

Suparian (2008:12) mendefinisikan guru sebagai individu yang bertanggung jawab dalam meningkatkan kesejahteraan suatu bangsa dalam semua dimensi, termasuk
spiritual, emosional, intelektual, fisik, dan aspek lainnya.

Pembelajaran matematika menjadi fokus utama dalam pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Tujuan utama dari pengajaran matematika adalah memastikan bahwa siswa memiliki kemampuan yang kuat dalam memahami konsep-konsep matematika.

Di tingkat Sekolah dasar, mata pelajaran matematika sangat penting untuk diajarkan oleh guru karena memberikan manfaat yang besar bagi perkembangan siswa.

Hal ini membantu siswa dalam membangun fondasi belajar yang kuat berdasarkan konsep matematika yang benar, mengurangi ketakutan terhadap matematika sejak dini, dan memfasilitasi pembelajaran yang alami dan efektif dalam memahami materi matematika.

Surya Yohanes (2013:3) menyatakan bahwa hanyak siswa sering menganggap pembelajaran matematika sebagai momok belajar. Mereka mengalami kesulitan menyelesaikan soal-soal matematika karena
mereka tidak memahami konsep matematika dengan baik.

Sang Profesor mengatakan bahwa tidak ada
siswa yang bodoh sebaliknya, ada kemungkinan bahwa pendekatan pengajaran yang tidak tepat atau resmi telah menyebabkan pembelajaran matematika terlihat lebih menakutkan daripada menarik bagi siswa.

Akibatnya, banyak siswa malas mempelajari matematika karena mereka menganggapnya sebagai pelajaran yang menakutkan. Metode pembelajaran matematika yang salah membuatnya sulit bagi siswa untuk menyukainya. Mereka bahkan tidak mau belajar matematika karena mereka pikir itu menakutkan.

Oleh karena itu, penerapan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa usia SD sangat penting. Dalam hal pembelajaran matematika, memberikan perhatian khusus dan menangani proses pembelajaran sangat penting.

Dalam era perkembangan teknologi dan informasi, literasi numerasi menjadi pondasi
utama dalam membekali generasi muda dengan kemampuan matematika yang kuat.

Literasi matematika merujuk pada keterampilan dalam mengaplikasikan konsep-konsep, prosedur, informasi fakta, dan perangkat matematika untuk menyelesaikan tantangan dan situasi sehari-hari (Siahaan et al., 2023).

Peningkatan literasi numerasi siswa menjadi fokus utama pendidikan guna memberikan bekal yang memadai dalam menghadapi tantangan global. Dalam konteks ini, metode Gasing muncul sebagai pendekatan inovatif yang diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan pemahaman dan keterampilan matematika siswa.

Metode Gasing, yang awalnya dikenal sebagai permainan tradisional Indonesia, menawarkan pendekatan pembelajaran yang unik dan interaktif. Dengan menggabungkan unsur permainan dengan konsep matematika, metode ini menjanjikan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus efektif.

Artikel ini akan menyelidiki bagaimana implementasi metode Gasing dalam lingkungan pendidikan dapat memberikan dampak positif terhadap literasi numerasi siswa.

Melalui eksplorasi konsep-konsep dasar metode Gasing, pembaca akan diajak untuk
memahami secara mendalam bagaimana pendekatan ini dapat menjadi kunci untuk
mengatasi hambatan-hambatan dalam memahami numerasi.

Penulis juga akan membahas penerapan metode Gasing di dalam kelas, mengevaluasi hasil-hasil yang telah dicapai, dan menyoroti peran pentingnya dalam meningkatkan daya tangkap siswa terhadap konsep-konsep matematika.

Dengan memahami secara komprehensif kontribusi metode Gasing terhadap literasi
numerasi, artikel ini diharapkan dapat memberikan pandangan yang berharga bagi para pendidik, peneliti, dan praktisi pendidikan dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang berorientasi pada hasil dan dapat diadopsi secara luas untuk meningkatkan kualitas literasi numerasi di kalangan siswa.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Wibowo dkk menyimpulkan penerapan metode matematika Gasing dalam pembelajaran matematika tampaknya memberikan dampak positif terhadap pencapaian siswa dalam belajar.

Selain itu, siswa juga terlibat secara aktif,
penuh antusiasme, dan merasakan kegembiraan selama proses pembelajaran dengan metode Gasing. Mereka tidak hanya terpaku pada rumus-rumus, melainkan juga terbuka untuk mencoba pendekatan baru yang dihadirkan oleh metode Gasing.

Akibatnya, motivasi belajar siswa meningkat, yang pada gilirannya berdampak positif pada peningkatan hasil belajar siswa (Wibowo et al., 2022). Pengajaran menggunakan metode Gasing memberi arahan kepada siswa tentang strategi penyelesaian soal dengan pendekatan kreatif, yang pada gilirannya meningkatkan fungsi otak kanan dan merangsang kemampuan kreativitas anak.

Selain itu, penelitian lain yang dilakukan oleh Lestari dan Hardini di tahun 2022
menyimpulkan berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, terdapat
perbedaan dalam pemahaman konsep matematis peserta didik terkait materi perkalian dua digit, tergantung pada metode pembelajaran yang digunakan.

Hal ini terbukti dengan hasil uji-T yang menunjukkan nilai P-nilai sebesar 0,000, yang lebih rendah dari taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian juga menegaskan bahwa penerapan metode matematika Gasing lebih efektif daripada metode matematika konvensional dalam meningkatkan pemahaman konsep matematis peserta didik.

Bukti atas efektivitas ini diperlihatkan dengan nilai rata-rata N-Gain yang lebih tinggi pada Metode Matematika Gasing (Rata-rata N-Gain = 0,73) dibandingkan dengan metode matematika konvensional (Rata-rata N-Gain = 0,37) (Lestari & Hardini, 2022).

Matematika Gasing (gampang, asyik, menyenangkan) merupakan metode belajar
matematika yang dilakukan secara menyenangkan, asyik, dan mudah melalui serangkaian langkah-langkah untuk mencapai suatu tujuan.

Shanty dan Wijaya (2012) menggambarkan
matematika Gasing sebagai proses pembelajaran yang membuat peserta matrikulasi belajar dengan cara yang ringan, menyenangkan, dan menghibur (Armianti et al., 2016).

Penerapan Metode Gasing dalam proses pembelajaran akan menghasilkan pemahaman yang lebih lancar bagi siswa, tanpa merasa tertekan oleh rumus-rumus yang membingungkan. Mereka akan merasa nyaman dan antusias dalam belajar, tanpa perlu menghadapi beban menghafal banyak rumus (Putra & Artawan, 2014).

Menurut Ani & Fitri (Kusuma et al., 2019), metode pembelajaran matematika gasing terdiri dari lima tahap dalam proses pembelajaran.

Dialog simpel. Dalam masalah ini yang terturut yakni guru dan pelajar. Guru mengawali evaluasi secara berkomunikasi dengan simpel dengan pelajar sekitar materi yang hendak didalami.

Dari diskusi ini, diharap pelajar bisa memberi gagasannya, hingga muncul jalinan yang kuat di antara S dan R, hingga apa yang jadi tujuan yang di raih.

Berimajinasi dan berimajinasi. Guru menolong pelajar untuk berfantasi berkenaan peristiwa kejadian yang terkait dengan materi yang didalami.

Khayalan penting karenanya ada khayalan pelajar akan melahirkan sebuah ide, kreativitas, pengembangan dan perilaku yang aktual dalam kehidupannya.

Menyuguhkan contoh masalah yang berkaitan. Guru memberi latihan berbentuk beberapa soal simpel yang cuma memakai formula matematika. Ini mempunyai tujuan untuk perkuat kepenguasaan matematika pelajar. Latihan atau pelatihan, adalah sesuatu langkah mengajarkan yang bagus untuk memberikan rutinitas kebiasaan tertentu.

Langkah ini, bisa dipakai original (digunakan suggestion) untuk mendapat sesuatu kecakapan, keakuratan, peluang dan ketrampilan pelajar dengan
tujuan untuk perkuat kepenguasaan matematika pelajar.

Menyajikan materi secara dalam. Guru memberi arti fisis sesudah pelajar dirasakan
sanggup kerjakan semua beberapa soal simpel barusan. Pada tahapan ini, pelajar diharap sanggup untuk ketahui fenomena-fenomena apa yang di ulas dalam evaluasi matematika yang sudah didalami memberi arti pada tiap object atau butir soal.

Memberikan macam masalah. Guru memberi lagi masalah tetapi lebih bervariatif, masalah itu bisa berbentuk masalah narasi. Memberi variasi masalah pada evaluasi matematika memakai sistem matematika Gasing bisa tingkatkan kualitas pengetahuan pelajar, dan menggairahkan pribadi atau barisan dapat belajar dengan aktif.

Kelima tingkatan di atas, bisa memberikan deskripsi jika dengan memakai sistem
evaluasi matematika Gasing ini, sanggup membuat belajar matematika jadi lebih mudah, asyik dan menggembirakan, karena dalam evaluasi matematika tidak harus mengingatkan rumus matematika.

Dari hasil pembahasan konsep dan teori yang disajikan, dapat disimpulkan bahwa matematika Gasing adalah suatu metode pembelajaran matematika yang menekankan pendekatan yang menyenangkan, asyik, dan mudah untuk mencapai pemahaman matematika yang lebih baik.

Metode ini membantu siswa untuk belajar matematika dengan lebih lancar, tanpa merasa tertekan oleh hafalan rumus-rumus yang kompleks.

Pendekatan ini melibatkan lima tahap dalam proses pembelajaran, termasuk dialog sederhana, imajinasi, penyajian contoh soal yang relevan, pemahaman mendalam tentang materi, dan variasi soal.

Selain itu, metode ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa dan
merangsang pembelajaran yang lebih aktif, sambil menghilangkan kebutuhan untuk
menghafal rumus matematika.

Dengan demikian, dengan menerapkan metode Gasing, ketertarikan siswa terhadap materi pelajaran meningkat (Rusliadi & Azhar A., 2022).

Penggunaan metode pembelajaran
matematika Gasing memiliki potensi untuk membuat proses pembelajaran matematika
menjadi lebih menyenangkan, efektif, dan memotivasi siswa untuk mengembangkan
pemahaman matematika mereka tanpa beban menghafal rumus-rumus.

Metode ini berfokus pada penguasaan konsep dan pemahaman yang mendalam, yang pada gilirannya dapat membantu siswa mengatasi ketakutan terhadap matematika.

Secara singkat, penulis menegaskan bahwa Metode Gasing efektif dalam meningkatkan
literasi numerasi siswa. Kombinasi antara permainan tradisional dan konsep matematika
menciptakan lingkungan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan.

Hasil penelitian menunjukkan peningkatan pemahaman konsep matematika dan pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari.

Rekomendasi untuk mengintegrasikan metode Gasing dalam kurikulum mencerminkan potensi signifikan metode ini dalam memperkuat literasi numerasi dan memotivasi belajar matematika.

Artikel ini, memberikan pandangan positif
terhadap peran metode Gasing sebagai alat pembelajaran inovatif dalam mengatasi
tantangan literasi numerasi siswa.

 

 

(Penulis adalah Guru TK Negeri Pembina Kota Jayapura, saat ini sebagai mahasiswa Program Magister Manajemen Pendidikan FKIP Universitas Cenderawasih Jayapura)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *