Beranda / Opini / Pengaruh Hallyu “K-Drama” terhadap gaya berbahasa anak muda

Pengaruh Hallyu “K-Drama” terhadap gaya berbahasa anak muda

Infografis gaya bahasa Korea. (TIFAPOS/Ist)

Oleh : Jose J. Imbiri

TIFAPOS.id Globalisasi dan Perkembangan teknologi saat ini mempermudah penyebaran berbagai budaya asing masuk ke Indonesia, salah satu budaya yang paling populer terutama dikalangan anak muda yaitu Korean wave atau hallyu.

Korean Wave merupakan budaya, musik, film dan segala sesuatu dari Korea yang telah menyebar ke negara lain termasuk Indonesia.

Selama beberapa dekade terakhir, Hallyu atau gelombang korea menjadi fenomena global yang mengguncang dunia pada banyak aspek kehidupan, termasuk gaya hidup.

Korean Wave telah membawa pengaruh yang signifikan terhadap budaya lokal indonesia, terutama di kalangan generasi muda salah satunya adalah K-Drama.

Menurut jurnal dan kajian ilmiah, drama Korea atau K-Drama didefinisikan sebagai drama televisi yang diproduksi di Korea Selatan dalam format miniseri dengan jumlah episode biasanya antara 16 hingga 32 episode, yang menggambarkan kehidupan masyarakat Korea melalui cerita fiksi yang melibatkan berbagai emosi.

Drama ini disajikan secara bersambung dan ditayangkan di televisi Korea Selatan serta platform digital, dengan durasi tiap episode sekitar 40 hingga 70 menit

Drama Korea menampilkan berbagai genre, mulai dari romantis, sejarah, komedi, fantasi, hingga thriller, dengan kualitas produksi yang tinggi, akting yang matang, serta pemandangan lokasi syuting yang menarik.

Cerita dalam K-Drama biasanya berfokus pada tema kehidupan manusia, seperti persahabatan, kekeluargaan, cinta, intrik politik, dan pencarian jodoh, yang dikemas dengan konflik yang menegangkan sehingga membuat penonton terus penasaran.

Drama Korea mulai masuk ke Indonesia pada awal tahun 2000-an. Penayangan K-Drama pertama kali di Indonesia terjadi pada tahun 2002, ketika Trans TV menayangkan drama berjudul Mother’s Sea pada 26 Maret 2002, disusul oleh Indosiar yang menayangkan drama populer Endless Love pada 1 Juli 2002.

Drama Endless Love yang dibintangi Song Hye Kyo dan Won Bin ini berhasil menarik perhatian banyak penonton Indonesia dan menjadi pintu masuk bagi drama Korea lainnya seperti Full House, Boys Before Flowers, dan Princess Hours yang kemudian semakin memperkuat fenomena Korean Wave di Indonesia

Pengaruh K-Drama Terhadap Gaya Berbahasa

Sejak meningkatnya popularitas K-Drama di Indonesia, Hal ini berpengaruh pada gaya berbahasa anak muda.

Pengaruh Korean Wave terhadap gaya berbahasa anak muda Indonesia terlihat jelas dari pergeseran penggunaan bahasa yang semakin ekspresif dan mengadopsi beberapa struktur kalimat serta kosakata dari bahasa Korea.

Anak muda kerap menyisipkan istilah-istilah Korea seperti “oppa”, “unni”, “daebak”, “aigoo”, dan lain-lain, dalam percakapan sehari-hari untuk mengekspresikan keakraban, emosi, atau sekadar mengikuti tren yang sedang viral dari drama Korea.

Selain itu, pola interaksi sosial mereka juga mulai dipengaruhi oleh budaya Korea, seperti penggunaan panggilan kekerabatan dan honorifik yang menambah nuansa sopan santun ala Korea dalam komunikasi informal.

Namun, pengaruh ini juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kelestarian bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Pergeseran gaya berbahasa yang cenderung lebih dramatis dan emosional serta adopsi kosakata Korea yang berlebihan dapat menyebabkan kesalahan dalam penggunaan bahasa Indonesia dan menurunkan kualitas berbahasa di kalangan generasi muda.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat dan institusi pendidikan untuk mengimbangi pengaruh budaya asing ini dengan promosi bahasa dan budaya Indonesia agar identitas nasional tetap terjaga di tengah derasnya arus globalisasi dan budaya luar.

Di sisi lain, dampak Korean Wave juga memberikan efek positif, seperti meningkatnya minat anak muda untuk belajar bahasa Korea dan mengenal budaya Korea lebih dalam.

Hal ini membuka wawasan mereka terhadap keberagaman budaya dan mendorong sikap toleransi serta apresiasi budaya asing.

Jika dikelola dengan bijak, pengaruh Korean Wave dapat menjadi sarana pertukaran budaya yang memperkaya tanpa harus mengikis identitas budaya lokal

 

(Penulis adalah mahasiswa Jurusan Hubungan International Universitas Cenderawasih Jayapura)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *