Kepala Bidang SMP Disdikbud Kota Jayapura, Purnama Sinaga, S.Pd., M.M.Pd sekaligus panitia kegiatan menyampaikan sambutan. (TIFAPOS/La Ramah)
Ringkasan Berita
• Perkuat komitmen pencegahan stunting pada remaja.
• Stunting bukan hanya masalah kesehatan, tapi pendidikan. Risiko prestasi rendah, gangguan konsentrasi, putus sekolah.
• Kepala sekolah/pengawas sebagai garda terdepan.
PEMERINTAH Kota Jayapura melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bidang SMP sosialisasi dan advokasi kebijakan pencegahan stunting beserta pendampingan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Kegiatan ini berlangsung dua hari, dari 12 s.d 13 Maret 2026, di Grand Abe Hotel Jayapura, dihadiri kepala sekolah dan pembina UKS, dengan narasumber dari Dinas Kesehatan Kota Jayapura.
Stunting, yang didefinisikan sebagai kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis, masih menjadi ancaman serius di Papua, khususnya Kota Jayapura.
Sosialisasi ini membekali peserta dengan kebijakan terintegrasi yang menggabungkan pendidikan kesehatan, penyediaan gizi seimbang serta pengelolaan UKS yang efektif.
Para peserta diajak memahami peran UKS sebagai pusat deteksi dini melalui antropometri, yaitu pengukuran rutin tinggi dan berat badan siswa.
Selain itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi sorotan, dengan penekanan pada kolaborasi sekolah-puskesmas untuk distribusi makanan sehat dan edukasi gizi.
Kepala Bidang SMP Disdikbud Kota Jayapura, Purnama Sinaga, S.Pd., M.M.Pd mengatakan, kegiatan ini penting untuk memperkuat komitmen pencegahan stunting di kalangan pelajar usia remaja.
Ia juga menegaskan stunting bukan sekadar masalah kesehatan, melainkan isu pendidikan yang penting.
“Anak stunting berisiko mengalami prestasi belajar rendah, gangguan konsentrasi, dan rentan putus sekolah. Oleh karena itu, kepala sekolah dan pengawas harus menjadi garda terdepan dalam pencegahan ini,” ujar Purnama.
Selain itu, sosialisasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin nol kelaparan dan kesehatan baik, melalui pendidikan holistik yang mengintegrasikan aspek akademik dan kesehatan.
Kegiatan ini juga memastikan setiap SMP di Kota Jayapura menerapkan pencegahan stunting melalui UKS aktif, sekaligus menjadi model pencegahan yang berkelanjutan.
Langkah konkret meliputi penimbangan rutin siswa setiap bulan, edukasi gizi melalui kelas terintegrasi, dan kerja sama dengan puskesmas setempat.
Pendampingan UKS difokuskan pada deteksi dini, sehingga kasus stunting dapat ditangani sejak dini sebelum berdampak permanen pada tumbuh kembang remaja.
“Kami berharap meningkatkan peran satuan pendidikan melalui kolaborasi kemitraan stakeholder, sehingga stunting bisa dicegah dan angka anak putus sekolah menurun drastis,” ujar Purnama.
Sekretaris Disdikbud Kota Jayapura, Yopi Y. Hanuebi, S.Pd., M.Pd mewakili Kepala Disdikbud Rocky Bebena, S.Pd., M.Pd mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi (GN PPG) dan Program Indonesia Sehat.
“Sekolah sehat bukan lagi slogan, tapi aksi nyata. Pencegahan stunting kini terintegrasi dalam Kurikulum Merdeka Belajar, dilengkapi monitoring bulanan untuk memastikan efektivitasnya,” ujar Hanuebi.
Hanuebi menambahkan, dampak stunting tidak bisa dianggap remeh. Selain menghambat pertumbuhan fisik, kondisi ini memengaruhi kemampuan kognitif remaja, yang pada gilirannya berpotensi menurunkan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
(ldr)







