Beranda / Ragam Berita / Pembinaan ibu-ibu Darmika dan WHDI Papua dalam melaksanakan program kerja dan menyambut HUT ke-38 WHDI 2026: Bangun wanita tangguh berlandaskan spiritualitas dalam menghadapi tantangan zaman

Pembinaan ibu-ibu Darmika dan WHDI Papua dalam melaksanakan program kerja dan menyambut HUT ke-38 WHDI 2026: Bangun wanita tangguh berlandaskan spiritualitas dalam menghadapi tantangan zaman

Ketua WHDI Provinsi Papua, Ni Ketut Kabeningsih, S.Pd., M.M.Pd didampingi Ketua PHDI Provinsi Papua, I Komang A. Wardana, S.E., M.M foto bersama peserta dan narasumber Pembimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Papua. (TIFAPOS/La Ramah)

 

Ringkasan Berita

• Peran ganda kerja–keluarga, pengaruh teknologi digital, pergeseran nilai sosial akibat globalisasi di Papua diperkuat dinamika multikultural dan pesatnya pembangunan.

• Ketangguhan perempuan dinilai tidak cukup fisik dan intelektual, tetapi harus ditopang kekuatan spiritual yang kokoh.

• Ajakan kepada ibu-ibu Darmika dan WHDI agar perdalam ajaran Hindu, perkuat solidaritas, dan tingkatkan kepedulian sosial.

 

SEBANYAK 60 ibu-ibu dari 3 organisasi wanita hindu kabupaten/kota yang ada di Provinsi Papua mengikuti pembinaan bertajuk “Mewujudkan Wanita Tangguh Berlandaskan Spiritualitas dalam Menghadapi Tantangan Zaman”.

Kegiatan ini digelar dalam rangka melaksanakan program kerja memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-38 Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Provinsi Papua, bertempat di Wantilan Pura Agung Prajaloka, Kota Jayapura, Sabtu, 31 Januari 2026.

Peserta berasal dari pengurus WHDI Provinsi Papua, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Jayapura, WHDI Kota Jayapura, WHDI Kabupaten Keerom, WHDI Kabupaten Jayapura, serta panitia dan ibu-ibu Darmika.

Ketua WHDI Provinsi Papua, Ni Ketut Kabeningsih, S.Pd., M.M.Pd menegaskan kegiatan ini bukan sekadar slogan, melainkan panggilan nyata bagi wanita Hindu di tengah arus perubahan zaman yang kian deras.

“Wanita Hindu memiliki peran mulia dan strategis. Kita adalah pendidik pertama dalam keluarga, penjaga keharmonisan rumah tangga, serta penguat nilai-nilai dharma dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar Kabeningsih.

Menurutnya, era modern membawa tantangan beragam bagi perempuan, seperti tuntutan peran ganda antara pekerjaan dan keluarga, pengaruh teknologi digital yang masif, serta pergeseran nilai sosial akibat globalisasi.

Selain itu, tantangan ini semakin terasa dengan dinamika multikultural dan perkembangan infrastruktur yang pesat di Papua.

“Oleh karena itu, ketangguhan wanita tidak cukup hanya fisik dan intelektual, tapi harus ditopang kekuatan spiritual yang kokoh,” ujar Kabeningsih.

Kabeningsih berharap pembinaan ini mampu meningkatkan sradha (keimanan) dan bhakti (pengabdian) para peserta, agar bisa menghadapi setiap tantangan dengan bijaksana, penuh cinta kasih, dan tetap teguh pada dharma

“Saya ingin ibu-ibu Darmika dan WHDI memperdalam pemahaman ajaran Hindu, memperkuat solidaritas, serta menunjukkan kepedulian sosial yang lebih besar,” ujar Kabeningsih.

“Dengan semangat HUT ke-38 WHDI, diharapkan wanita Hindu Papua semakin tangguh, siap berkontribusi bagi Papua yang damai dan sejahtera,” sambungnya.

Ketua PHDI Provinsi Papua, I Komang A. Wardana, S.E., M.M menyambut baik penyelenggaraan kegiatan ini.

Ia menilai tema sangat relevan dengan kondisi kekinian, di mana perempuan Hindu memikul peran strategis tidak hanya di ranah domestik, tapi juga sosial, keagamaan, dan kebangsaan.

“Di tengah pesatnya perkembangan zaman, tantangan semakin kompleks: perubahan sosial, kemajuan teknologi, serta dinamika ekonomi-politik. Wanita tangguh secara spiritual akan melahirkan keluarga harmonis, masyarakat beretika, dan umat yang kokoh menjalankan ajaran agama,” ujar Komang.

Komang menekankan kehidupan modern menuntut wanita Hindu menjadi pribadi tangguh, bijaksana, dan berkarakter.

“Namun, ketangguhan itu harus berlandaskan spiritualitas dan dharma, agar kita tak kehilangan jati diri sebagai wanita Hindu,” ujar Komang.

Ia juga menambahkan komitmen PHDI Provinsi Papua dalam mendukung pembinaan umat, khususnya peran perempuan.

“Kemajuan umat Hindu tak lepas dari kontribusi ibu-ibu sebagai pendidik utama keluarga dan penjaga nilai luhur agama serta budaya Bali yang telah meresap di tanah Papua,” ujar Komang.

Narasumber dari Pembimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Papua, I Wayan Wira Adnyana, S.Ag menegaskan penguatan spiritualitas melalui Tri Kaya Parisudha (kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan).

Ia mengaitkan tema dengan konteks lokal Papua, yaitu wanita Hindu sering menjadi garda terdepan dalam pelestarian adat dan toleransi antarumat.

“Spiritualitas bukanlah pelarian, tapi senjata ampuh menghadapi disrupsi digital dan krisis identitas,” ujar Wayan.

Kegiatan berlangsung khidmat sepanjang pagi hingga siang, diakhiri doa dan ditutup oleh ketua whdi provinsi papua

Wayan berharap pembinaan ini menjadi momentum penting bagi umat Hindu Papua untuk memperkuat resiliensi perempuan di tengah gempuran modernitas.

(ldr)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *