TIFAPOS.id Dinas Kesehatan Kota Jayapura mendukung penuh program “Turun Kampung” yang digagas Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo, S.H., M.H, salah satunya Pemberian Makanan Tambahan (PMT).
PMT adalah kegiatan membagikan makanan tambahan kepada balita dan ibu hamil berupa kudapan atau makanan lengkap siap santap berbasis pangan lokal yang aman dan bermutu, mengandung nilai gizi sesuai kebutuhan sasaran, serta bukan pengganti makanan utama.
Sasaran PMT meliputi balita dengan berat badan tidak naik, berat badan kurang, kurus, dan ibu hamil dengan risiko kurang energi kronis (KEK).
Pemberian dilakukan setiap hari selama 4-8 minggu untuk balita dan 120 hari untuk ibu hamil, dengan komposisi sedikitnya 1 kali makanan lengkap dalam seminggu dan sisanya kudapan.
“PMT bertujuan meningkatkan status gizi balita dan ibu hamil, mencegah stunting, serta memperbaiki berat badan sesuai kurva pertumbuhan,” ujar Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, drg. Juliana Napitupulu di Jayapura, Sabtu (28/6/2025).

Pelaksanaan PMT melibatkan koordinasi dengan kader, pelatihan, pemantauan rutin, dan edukasi gizi serta kesehatan.
Sementara, PHBS adalah perilaku hidup bersih dan sehat yang dilakukan dengan kesadaran untuk menjaga kesehatan diri dan lingkungan.
Serta, mencegah penyakit melalui tindakan seperti mencuci tangan dengan sabun, menggunakan jamban sehat, mengonsumsi makanan sehat, dan memberantas jentik nyamuk.
Dalam konteks keamanan pangan dan pemberian makanan, penting menggunakan bahan kontak makanan yang higienis seperti sarung tangan plastik sekali pakai, penjepit makanan, dan sendok-garpu untuk menghindari kontaminasi langsung pada makanan.
PHBS juga mencakup edukasi dan pemberdayaan keluarga dan masyarakat agar mampu menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat di rumah tangga, sekolah, tempat kerja, dan fasilitas umum.
“Pemberian makanan tambahan dan bahan kontak PHBS (sikat gigi, pasta gigi, sabun batangan) pada masyarakat khusus pada (ibu hamil, balita, lansia) setiap kampung berjumlah 100 paket dari Promkes Dinas Kesehatan Kota Jayapura,” ujar drg. Juliana.
PMT memberikan tambahan energi dan protein yang signifikan, terutama dari sumber protein hewani seperti telur dan susu, yang berkontribusi besar terhadap perbaikan status gizi berdasarkan berat badan dan panjang badan balita.
Pemberian PMT secara rutin selama minimal 4 minggu hingga 3 bulan dengan komposisi makanan lengkap minimal satu kali per minggu dan kudapan bergizi di hari lainnya membantu menaikkan berat badan balita sesuai kurva pertumbuhan, mencegah stunting, dan memperbaiki status gizi dari gizi buruk atau kurang menjadi gizi baik.
PMT yang disertai edukasi, penyuluhan, dan konseling gizi kepada ibu dan keluarga mempercepat perubahan perilaku pemberian makan yang tepat, sehingga asupan gizi balita menjadi lebih optimal dan berkelanjutan.
Penelitian menunjukkan PMT modifikasi yang padat energi dan protein dari bahan lokal terjangkau efektif menurunkan jumlah balita gizi buruk dan meningkatkan jumlah balita dengan status gizi baik.
Meski tidak selalu mengubah status gizi secara drastis dalam waktu singkat, PMT dapat meningkatkan proporsi balita dengan perbaikan status gizi terutama berdasarkan rasio berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB), yang menandakan perbaikan kondisi kurus menjadi lebih baik.
“Pemberian makanan tambahan yang tepat sasaran, bergizi seimbang, dan didukung edukasi gizi terbukti efektif dalam meningkatkan status gizi balita, khususnya pada kelompok yang mengalami gizi kurang atau berisiko stunting,” ujar drg. Juliana.

Kesempatan tersebut, drg. Juliana menegaskan peran kader dan Posyandu dalam pelaksanaan program PMT sangat krusial dan multifungsi, yaitu sebagai penggerak dan fasilitator utama di Posyandu.
Tugasnya menyiapkan bahan penyuluhan dan makanan tambahan yang sesuai kebutuhan balita dan ibu hamil, serta menyampaikan informasi yang tepat kepada ibu-ibu tentang pentingnya PMT untuk mencegah stunting dan memperbaiki status gizi balita.
Kader melakukan persiapan sebelum hari buka Posyandu, seperti menyebarkan informasi hari pelayanan, membagi tugas antar kader, misalnya pendaftaran, penimbangan, pemberian PMT, penyuluhan, dan koordinasi dengan petugas kesehatan terkait pelaksanaan PMT.
Pada hari Posyandu, kader melaksanakan pelayanan PMT, termasuk pemberian makanan tambahan sesuai porsi dan usia balita, penimbangan, pencatatan pertumbuhan, serta penyuluhan gizi dan kesehatan kepada ibu dan keluarga.
Setelah hari Posyandu, kader melakukan pemantauan dan pelaporan terkait pelaksanaan PMT dan perkembangan status gizi balita, serta melakukan evaluasi untuk perbaikan layanan selanjutnya.
Kader juga berperan dalam edukasi dan motivasi masyarakat, menggerakkan ibu-ibu dan keluarga agar mau rutin membawa balita ke Posyandu dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, sehingga PMT dapat efektif meningkatkan status gizi balita.
Kolaborasi kader dengan petugas gizi puskesmas dan TP PKK penting untuk memastikan PMT yang diberikan tepat sasaran, bergizi, dan berkelanjutan.
“Kader Posyandu adalah ujung tombak dalam pelaksanaan PMT, mulai dari persiapan, pelaksanaan, hingga monitoring dan edukasi, yang secara langsung memengaruhi keberhasilan program peningkatan status gizi balita di masyarakat,” ujar drg. Juliana.

Dia juga mengatakan, evaluasi keberhasilan program PMT dengan pemantauan berat badan balita secara rutin setiap bulan untuk melihat kenaikan berat badan yang mengikuti kurva pertumbuhan normal pada KMS (Kartu Menuju Sehat).
Pencatatan dan pelaporan oleh kader Posyandu terkait pelaksanaan PMT, konsumsi makanan tambahan oleh balita, serta perkembangan status gizi.
Evaluasi aspek proses dan output, meliputi persiapan, pelaksanaan, pemantauan, dan pencatatan. Bila balita belum menunjukkan perbaikan, dilakukan pemeriksaan ulang dan rujukan jika ada masalah kesehatan yang memerlukan penanganan khusus.
Pengukuran tinggi/panjang badan dilakukan pada awal dan akhir pelaksanaan PMT untuk menilai perubahan status gizi jangka panjang, terutama terkait stunting.
Analisis efektivitas program berdasarkan indikator seperti efektivitas, efisiensi, kecukupan, perataan distribusi, responsivitas, dan ketepatan sasaran. Evaluasi ini melibatkan wawancara dan observasi untuk mendapatkan gambaran menyeluruh.
Pemantauan konsumsi makanan tambahan untuk memastikan balita benar-benar mengonsumsi PMT dan bukan anggota keluarga lain, yang menjadi salah satu kendala dalam keberhasilan program.
“Evaluasi bulanan PMT mengutamakan pemantauan berat badan balita, pencatatan dan pelaporan yang sistematis, serta penilaian proses pelaksanaan untuk memastikan program berjalan efektif dan tepat sasaran,” ujar drg. Juliana.
Dia menambahkan selama program Wali Kota Jayapura “Turun Kampung” Dinkes Kota Jayapura menghadirkan berbagai pelayanan kesehatan gratis.
Layanan yang disiapkan, yaitu pelayanan IRS (penyemprotan pada dinding rumah untuk membasmi jentik nyamuk), pelayanan foging (pengasapan) untuk membasmi Nyamuk dilaksanakan (H-2) sebelum wali kota turun kampung.
Selain itu, pelayanan kesehatan umum berupa skrining kesehatan oleh tim kesehatan (petugas dari Puskesmas), pelayanan dokter spesialis (dokter penyakit dalam, dokter anak, dokter penyakit kulit, dokter mata), dan Pelayanan kesehatan 24 jam PSC 119.
Semua unit layanan kesehatan dibuka untuk melayani masyarakat selama kegiatan berlangsung, sehingga mempercepat akses dan pemerataan layanan kesehatan dasar secara langsung ke masyarakat kampung.
Hal ini memperkuat tujuan program “Turun Kampung”, yang ingin mendekatkan pelayanan pemerintah kepada warga dan memberikan dampak nyata di bidang kesehatan.
Program ini juga menjadi bagian dari sembilan program unggulan 100 hari kerja Wali Kota Jayapura, yang fokus membangun kampung dengan berbagai fasilitas dan layanan publik yang lebih baik.
Dinas Kesehatan Kota Jayapura melibatkan dokter spesialis, dengan membuka semua unit layanan kesehatan yang ada, termasuk layanan dokter spesialis, untuk melayani masyarakat secara langsung di kampung-kampung yang dikunjungi.

Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo, S.H., M.H berharap program PMT dan bahan kontak PHBS dapat meningkatkan kesehatan dan gizi balita secara optimal, terutama dalam mencegah stunting dan mendukung tumbuh kembang anak.
Wali kota menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, kader posyandu, dan masyarakat agar program ini berjalan efektif dan berkelanjutan khususnya memenuhi kebutuhan nutrisi balita.
Kader kesehatan dan motivator aktif mengajak masyarakat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai bagian dari pencegahan penyakit dan peningkatan kualitas hidup.
Edukasi kepada orang tua tentang pentingnya gizi seimbang dan cara penyajian makanan tambahan yang tepat dam pemanfaatan bahan pangan lokal untuk PMT sebagai strategi penanganan masalah gizi di komunitas.
Serta, pemberdayaan masyarakat dan keterlibatan semua pihak untuk menyelesaikan masalah gizi kurang secara komprehensif, tidak hanya pemberian makanan langsung tapi juga peningkatan kemandirian keluarga.
“Program PMT dan PHBS menjadi langkah nyata dalam menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas melalui dukungan gizi yang memadai dan pola hidup bersih serta sehat di masyarakat,” ujar wali kota.






