Plt. Asisten I Setda Kota Jayapura, Evert Nicolas Merauje, S.Sos., M.Si didampingi Plt. Kadisdikbud Kota Jayapura, Rocky Bebena, S.Pd., M.Pd meluncurkan buku cerita rakyat Port Numbay jilid 2 dengan membuka papan selubung. (TIFAPOS/La Ramah)
Ringkasan Berita
• Peluncuran buku cerita rakyat Port Numbay jilid 2.
• Pembuatan buku untuk pendokumentasian, pelestarian, dan revitalisasi cerita-cerita lokal.
• Meningkatkan literasi generasi muda yang masih rendah.
DINAS Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura Bidang Kebudayaan resmi meluncurkan buku cerita rakyat Port Numbay jilid 2 di Hotel Suni Abepura, Selasa, 11 November 2025.
Kepala Bidang Kebudayaan, Grace L. Yoku, S.Pd., M.Pd mengatakan, buku ini berisi sebanyak 30 cerita rakyat yang menjadi warisan budaya penting bagi masyarakat Port Numbay (Kota Jayapura).
Yoku, menjelaskan bahwa tujuan pembuatan buku untuk pendokumentasian, pelestarian, dan revitalisasi cerita-cerita lokal.
Selain itu, buku tersebut menggunakan dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa ibu, agar dapat dinikmati dan dipahami oleh berbagai kalangan, terutama generasi muda.
Adapun, proses pembuatan buku berlangsung selama tiga bulan dengan narasumber utama berasal dari kampung pemilik cerita untuk memastikan isi buku tetap autentik dan sesuai dengan kebudayaan asli masyarakat Port Numbay.
“Distribusi buku ini ditujukan untuk anak-anak sekolah sebagai muatan lokal untuk bahan ajar, sehingga dapat memperkaya bahan pembelajaran sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya daerah,” ujar Yoku.
Yoku mengharapkan anak-anak memahami dan menyebutkan bahasan dengan baik dan benar, serta masyarakat umum dapat turut serta dalam usaha pelestarian bahasa daerah yang kian terancam.
Kasubag Umum Balai Bahasa Papua, Yohanis Sanjoko, S.Pd., M.A mengapresiasi atas inisiatif Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura yang telah mengangkat akar budaya Port Numbay melalui buku ini.
Yohanis menilai langkah ini penting untuk meningkatkan literasi generasi muda yang masih rendah.
“Adanya buku cerita rakyat ini, diharapkan literasi di kalangan pemuda di kampung semakin meningkat seiring dengan rasa bangga dan cinta kepada budaya mereka sendiri,” ujar Yohanis.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXII Papua, Desy Polla Usmany menegaskan pentingnya upaya ini sebagai awal kebangkitan bahasa yang semakin terlupakan.
Desy mengatakan, buku yang diprakarsai oleh Kabid Kebudayaan (Grace Linda Yoku) dapat menjadi role model bagi kabupaten di Papua dalam hal pelestarian kebudayaan, di mana aspek bahasa menjadi hal utama yang harus dipertahankan.
“Saya berharap pemerintah daerah dapat mengadakan mobil keliling, sebagai sarana agar buku dan materi kebudayaan bisa lebih mudah diakses oleh masyarakat,” ujar Desy.
Plt. Asisten I, Evert Nicolas Merauje, S.Sos., M.Si, yang mewakili Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo, S.H., M.H mengatakan, peluncuran buku merupakan salah satu ikhtiar mewujudkan kota yang maju.
Ia menegaskan bahwa mereka tidak ingin masyarakat hanya mengenal Kota Jayapura dari aspek luar, namun juga dari cerita dan budayanya.
Merauje memberikan pesan khusus kepada generasi muda agar jangan lupa asal usul tapi rawatlah identitasmu. Pesan ini penting agar akar budaya dan bahasa daerah tetap lestari dan menjadi sumber kekuatan dalam menghadapi perubahan zaman.
“Peluncuran buku cerita rakyat Port Numbay jilid 2 ini menjadi langkah strategis yang menggabungkan pendidikan, budaya, dan literasi sebagai pondasi pembangunan daerah yang berkelanjutan,” ujar Merauje.
(ldr)








