Manggar Istanti, M.Pd, Gr ketika melaksanakan layanan bimbingan dan konseling dengan topik mengelola dan mengendalikan emosi marah pada peserta didik di kelas. (TIFAPOS/Istimewa)
TIFAPOS.id – Memupuk kecerdasan emosional (EQ) sedini mungkin dapat membantu anak lebih siap menghadapi tantangan dalam hidup, bahkan saat sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan mereka.
Namun, dengan latar belakang budaya yang kaya khususnya di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Jayapura, Kota Jayapura, Papua, seringkali menghadapi tantangan emosi yang kompleks.
“Sebagai seorang konselor sekolah, mengamati bahwa banyak siswa di kelasnya seringkali meledak dalam kemarahan,” ujar Guru Bimbingan dan Konseling SMP Negeri 2 Jayapura, Manggar Istanti, M.Pd, Gr di Jayapura, Senin (7/10/2024).
Anak dengan EQ yang baik, akan lebih mudah bersosialisasi, menyelesaikan masalah, dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, karena kecerdasannya mampu memahami, menggunakan, dan mengelola emosi.
Sebagai Ketua Komunitas Belajar Noken X-Penda (SMPN 2 Jayapura), ia menyadari bahwa setiap siswa memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan emosi mereka, dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan budaya yang unik.
“Saya memutuskan untuk menerapkan pembelajaran berdiferensiasi (metode pembelajaran yang berfokus pada siswa dan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan belajar setiap peserta didik) dalam layanan bimbingan dan konselingnya,” ujarnya.
Kecerdasan emosional (EQ) memiliki peran penting dalam mengubah karakter peserta didik menjadi lebih baik, bahkan berkembang secara optimal.
Ia memulai dengan membuat kelompok diskusi kecil. Setiap kelompok terdiri dari siswa dengan gaya belajar dan tingkat kematangan emosi yang berbeda.
Dalam kelompok pertama, ada anak-anak yang sangat ekspresif. Ia memberikannya (anak) kesempatan untuk melukiskan perasaannya. Melalui gambar, anak-anak bisa mengungkapkan kemarahannya yang terpendam.
Di kelompok kedua, ada anak-anak yang lebih suka menulis. Ia menyarankannya untuk menulis jurnal. Melalui tulisan, anak-anak bisa merenungkan penyebab kemarahannya dan mencari solusi.
Sementara itu, anak-anak yang lebih suka bergerak, diajak untuk melakukan aktivitas fisik seperti lari atau bermain olahraga. Aktivitas fisik ini, membantu mereka menyalurkan energi negatifnya.
“Selain itu, saya juga melibatkan orang tua siswa dalam proses pembelajaran ini. Saya mengadakan pertemuan dengan orang tua untuk berbagi informasi tentang pentingnya mengelola emosi anak dan cara mendukung anak di rumah,” ujarnya.
Setelah beberapa bulan, dilanjutkannya, perubahan mulai terlihat. Anak-anak menjadi lebih tenang setelah melukiskan perasaan dan pikiran mereka. Anak-anak pun lebih jarang marah setelah melakukan aktivitas fisik.
“Saya menyadari bahwa dengan pembelajaran berdiferensiasi, setiap siswa bisa menemukan cara terbaik untuk mengelola emosi mereka,” ujar Manggar yang juga salah satu guru SMP masuk dalam 46 karya terbaik dalam potret cerita Kurikulum Merdeka yang dilaksanakan oleh Kemdikbudristek Jakarta pada Juli 2024.
Pelangi Mulai Terlihat di Balik Kemarahan
Anak dengan kecerdasan emosional, biasanya cenderung lebih tenang dan konsentrasi saat belajar, sehingga tidak mengganggu ketenangan siswa yang lain dalam belajar.
“Mereka belajar untuk menerima perbedaan, menghargai diri sendiri, dan membangun hubungan yang lebih baik dengan orang lain,” ujar Manggar yang juga sebagai Ketua MGBK Kota Jayapura.
Tidak hanya membatasi gangguan di dalam kelas, hubungan siswa dengan guru dan temannya menjadi lebih baik, meningkatkan prestasi akademik, dan pola pikir berkembang yang positif.
“Ketika ledakan emosi benar-benar terjadi, mereka akan cenderung beralih ke aktivitas yang lebih produktif, seperti membaca dan menulis,” ujarnya.
Unsur Pembelajaran Berdiferensiasi
– Pengelompokan: Anak-anak dikelompokkan berdasarkan gaya belajar dan tingkat kematangan emosi.
– Aktivitas: Setiap kelompok diberikan aktivitas yang sesuai dengan gaya belajar mereka, seperti melukis, menulis, atau aktivitas fisik.
– Peran Guru: Sebagai fasilitator yang membimbing siswa dalam menemukan cara mereka sendiri untuk mengelola emosi.
– Keterlibatan Orang Tua: Orang tua dilibatkan dalam proses pembelajaran untuk mendukung anak di rumah.
– Keunikan Papua (latar belakang budaya): Cerita ini menyoroti kekayaan budaya Papua yang mempengaruhi cara anak-anak mengekspresikan emosi.
– Pesan Utama: Setiap anak unik dan memiliki cara belajar yang berbeda. Dengan pembelajaran berdiferensiasi, guru bisa membantu anak-anak mencapai potensi terbaiknya.





