Mahasiswa mata kuliah Hukum dan Regulasi Bisnis Jurusan Akuntansi FEB Uncen saat praktik. (TIFAPOS/Ist)
Oleh: Cristina Kiambe, Virginia M. Taime, Lea H. Wairara, Magdalena P. S. Yowei, Della G. Fonataba.
TIFAPOS.id – Noken, tas tradisional khas Papua, kini tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga semakin dilirik dalam industri fashion nasional.
Berbagai peragaan busana telah menampilkan noken sebagai bagian dari desain modern, membuka peluang ekonomi bagi pengrajin.
Namun, di balik tren tersebut, masih ada tantangan besar yang dihadapi para pelaku usaha asli Papua (OAP) dalam produksi dan pemasaran noken.
Sejak Desember 2012, UNESCO menetapkan noken sebagai warisan budaya tak benda. Pengakuan ini memperkuat posisi noken sebagai identitas budaya Papua yang harus dilestarikan.
Seiring berkembangnya industri fashion, noken kini mulai diadaptasi oleh para desainer nasional dan dipamerkan dalam berbagai ajang fashion.
Salah satu contohnya adalah Festival Noken Tanah Papua, yang digelar Kementerian Kebudayaan di Sarinah, Jakarta Pusat.
Dalam festival ini, desainer seperti Yurita Puji, Agusta Bunay, dan Prita S Rogi menampilkan koleksi mode yang menggabungkan keunikan noken dengan desain modern.
Meski mendapat perhatian di dunia fashion, pengrajin noken masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam hal produksi dan pemasaran.
Dalam wawancara dengan Mama Ice, seorang pengrajin noken di Papua, ia mengungkapkan bahwa proses pembuatan noken membutuhkan waktu cukup lama.
“Saya sudah berjualan noken sejak 2018. Untuk membuat satu noken ukuran sedang, saya butuh waktu satu hingga dua hari. Modal yang dibutuhkan juga cukup besar, sekitar Rp500 ribu hingga Rp1 juta,” ujar Mama Ice.
Ia juga menyoroti minimnya dukungan dari pemerintah.
“Bantuan yang kami terima hanya berupa beberapa benang. Padahal, kami butuh modal lebih untuk bisa memproduksi dan memasarkan noken secara luas,” tambahnya.
Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan strategi yang melibatkan berbagai pihak.
Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah kolaborasi antara pengrajin dan desainer fashion, di mana desainer dapat langsung memesan noken dari pengrajin dan menggunakannya dalam koleksi mereka.
Selain itu, pembuatan platform e-commerce khusus juga bisa menjadi solusi agar pengrajin dapat menjual noken secara langsung kepada konsumen tanpa perantara.
Dengan strategi yang tepat dan dukungan penuh dari pemerintah serta industri kreatif, noken bukan hanya akan tetap menjadi warisan budaya, tetapi juga sumber penghasilan berkelanjutan bagi masyarakat Papua.
(Penulis adalah mahasiswa aktif mata kuliah Hukum dan Regulasi Bisnis Jurusan Akuntansi FEB Uncen)






