Ketua Umum MUI Kota Jayapura, KH. Zulham Ma’mun menyampaikan sambutan pada sosialisasi HIV/AIDS dan pemulasaran jenazah HIV/AIDS. (TIFAPOS/La Ramah)
Ringkasan Berita
• Meningkatkan kesadaran pencegahan, penanganan HIV/AIDS.
• Mengatasi stigma dan diskriminasi.
• Bagian dari peran MUI sebagai ujung tombak pencerahan masyarakat.
MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) Kota Jayapura menyosialisasikan HIV/AIDS dan pemulasaran jenazah HIV/AIDS di Hotel @Hom Premiere Abepura, Kota Jayapura, Rabu, 24 Desember 2025.
Tujuannya untuk mewujudkan Kota Jayapura sebagai kota jasa yang berbudaya, religius, maju, mandiri, dan sejahtera menuju Jayapura emas.
Sosialisasi ini dihadiri tokoh agama Islam, pimpinan pondok pesantren, pengurus organisasi Islam, pengurus takmir masjid, serta ketua dan pengurus MGMP satuan pendidikan.
Serta menghadirkan arasumber ahli, termasuk tenaga kesehatan dan pegiat HIV/AIDS, Sitti Nurdjaja Soltief, S.Kep., Ns., M.S., yang membahas aspek kesehatan dan pencegahan penyakit ini.
Narasumber lainnya adalah tokoh agama dan Ulama sekaligus Ketua Bidang Fatwa MUI Kota Jayapura, Ustadz Dr. Muhammad Nur, S.Hi., M.Ag yang menekankan perspektif keagamaan dalam menangani HIV/AIDS.
Praktisi pemulasaran jenazah, Ustadz Yazid Syaifuddin, S.Pd.I dan Ustazah Jaati Riansyah, M.Pd dari tim penyelenggara perawatan jenazah Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jayapura, memberikan panduan praktis tentang pemulasaran jenazah orang dengan HIV/AIDS (ODHIV) secara islami dan aman.
Ketua panitia kegiatan, Achmad Yunaidi, S.Pd., M.Si mengatakan sosialisasi ini dilatarbelakangi tingginya angka pertumbuhan kasus HIV/AIDS di Papua dan Kota Jayapura.
Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua hingga 30 Juni 2025 mencatat sebanyak 9.816 kasus di Kota Jayapura, terdiri dari 4.511 kasus HIV dan 5.305 kasus AIDS.
“Kegiatan ini penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pencegahan dan penanganan HIV/AIDS, serta mengatasi stigma dan diskriminasi,” ujar Yunaidi.
Ia juga mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya MUI Kota Jayapura untuk menjadi ujung tombak pencerahan di masyarakat.
Dengan melibatkan berbagai elemen, sosialisasi ini diharapkan dapat mengurangi angka kasus HIV/AIDS dan membangun kesadaran kolektif.
“Ini bukan hanya acara, tapi komitmen bersama untuk masa depan yang lebih baik,” ujar Yunaidi.
Ketua Umum MUI Kota Jayapura, KH. Zulham Ma’mun menegaskan masalah HIV/AIDS tidak hanya menjadi persoalan kesehatan, tetapi juga berdampak pada aspek sosial, keagamaan, dan kemanusiaan.
“Masih ditemukannya stigma, diskriminasi, serta kesalahpahaman di tengah masyarakat, termasuk dalam praktik pemulasaran jenazah ODHIV, menjadi tantangan serius yang perlu direspons secara bijak dan ilmiah,” ujar KH. Zulham.
KH. Zulham menambahkan tokoh agama, organisasi masyarakat Islam, guru, serta pengurus masjid memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi, penguatan moral, serta keteladanan kepada umat agar senantiasa mengedepankan nilai kasih sayang, empati, dan keadilan sosial.
KH. Zulham menyerukan agar semua pihak terlibat aktif dalam penanganan dan pencegahan HIV/AIDS.
“Mari kita bersama-sama berkontribusi untuk mengatasi penyebaran HIV/AIDS di Kota Jayapura. Dengan edukasi yang tepat, kita bisa membangun masyarakat yang lebih toleran dan peduli,” ujar KH. Zulham.
KH. Zulham berharap sosialisasi ini menjadi langkah awal untuk mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam upaya kesehatan masyarakat, sekaligus mendukung visi Kota Jayapura sebagai kota yang maju dan sejahtera.
“MUI Kota Jayapura berharap kegiatan serupa dapat dilanjutkan untuk mencapai target zero new HIV infections, karena Papua termasuk wilayah dengan prevalensi HIV/AIDS tinggi, sehingga inisiatif seperti ini sangat penting,” ujar KH. Zulham.
Pantauan TIFAPOS, peserta sosialisasi terlihat antusias mengikuti diskusi dan sesi tanya jawab.
Narasumber menjelaskan pemulasaran jenazah ODHIV harus dilakukan sesuai syariat Islam, dengan protokol kesehatan yang ketat untuk melindungi petugas dan keluarga.
Sitti Nurdjaja menekankan pentingnya tes dini, penggunaan kondom, dan menghindari perilaku berisiko untuk mencegah penularan.
Ustadz Muhammad Nur menambahkan dari sudut pandang agama, HIV/AIDS adalah ujian yang harus dihadapi dengan sabar dan solidaritas, bukan dengan penghakiman.
(ldr)







