Perbincangan di Waroeng Katekese Paroki Kristus Terang Dunia Waena menghadirkan narasumber dari berbagai profesi. (TIFAPOS/Ist)
Oleh : Butet Beatrix
TIFAPOS.id Lebih kurang 2,5 jam, Livestreaming Video Podcast Warung Katekese Musim ke-3, episode 5 telah tuntas dilaksanakan pada hari Minggu malam (11/5/2025), yang mengambil tempat di aula St. Ignatius, Paroki Kristus Terang Dunia.
Tayangan Edisi Hari Minggu Panggilan mengambil tema “Peziarah Pengharapan: Anugerah Kehidupan” menghadirkan para narasumber dari berbagai profesi yang jarang disorot tapi memiliki peran yang sangat penting bagi keimanan, kemanusiaan, dan kelestarian bumi kita sesuai dengan panggilan hidupnya.
Mereka bukan hanya bekerja untuk penghidupannya, tapi juga menjawab panggilan Tuhan untuk menjadi tanda harapan, pelindung ciptaan, dan penyelamat nyawa di tengah dunia yang penuh tantangan ini.
Hadir mewakili kaum Klerus Pastor Robby Hodo, Pr, yang sedikit menjelaskan tentang sejarah Peringatan Hari Doa Sedunia untuk Panggilan Hidup dalam Gereja Katolik yang dilatarbelakangi oleh Konsili Vatikan II, dan bertujuan untuk mendorong doa dan refleksi mengenai panggilan hidup, baik panggilan awam, panggilan hidup bakti maupun panggilan imamat.
Pastor Robby dalam penjelasannya memaparkan secara gambling terkait Minggu Panggilan yang dirayakan setiap tahun pada Minggu ke IV Paskah atau juga dikenal sebagai Minggu Gembala yang Baik, merupakan kesempatan bagi umat Katolik untuk merenungkan panggilan hidup mereka, baik panggilan khusus (Imam, Diakon, dan Biarawan/biarawati) maupun panggilan umum untuk hidup sebagai umat beriman yang setia.
Pastor Robby juga dengan sukacita menceritakan perjalanan panggilan hidupnya menjadi seorang Imam yang dipengaruhi oleh kehadiran Gereja Katolik dan jumlah imam yang cukup banyak di daerah tempat asalnya di Flores.
Keinginan sang ayah dan motivasi yang kuat dari ‘Robby kecil’ pada akhirnya mengantarkan beliau menjadi seorang imam Katolik.
Perbincangan malam itu di Waroeng Katekese semakin seru dengan kehadiran suster Xaveria, DSY yang selalu menyapa umat dengan senyum khasnya yang menyejukkan hati para pasien Rumah Sakit Dian Harapan tempat suster berkarya.
Suster berdarah Minahasa ini menceritakan perjalanan hidupnya yang sedari kecil sudah tertarik ingin menjadi seorang Biarawati, sehingga beliau memantapkan hatinya untuk mulai menapaki panggilan itu dengan masuk asrama puteri sebagai awal perjalanannya.
Tidak mudah memang bagi beliau yang merupakan anak tertua dalam keluarga untuk memilih panggilan ini, namun tekadnya mengantarkan beliau hingga mengucapkan Kaul Kekalnya yang telah mencapai tahun yang ke-30.
Memasuki segmen ke-2, tim kreatif mendatangkan seorang umat di Paroki KTDW yang berprofesi sebagai Polisi hutan atau dulunya disebut ‘Jagawana’ yaitu Markus Don Bosco Iriando Nurak atau yang akrab disapa Pak Markus.
Dalam kisahnya, Pak Markus yang berlatar belakang pendidikan Pertanian ini tidak pernah terbayangkan akan menjadi seorang Rimbawan, semua berawal ditahun 1991 dimana beliau mengikuti tes menjadi petugas lapangan penghijauan.
Lima tahun kemudian, kebijakan pimpinan mengarahkannya untuk mengikuti formasi Polisi Kehutanan di Mapolda Papua dan dinyatakan lulus guna mengikuti pendidikan selama tiga bulan di SPN Jayapura dan dilanjutkan dengan pembekalan penataan hasil hutan di Balai Diklat, Manokwari, Papua Barat.
Sebagai seorang Katolik yang bertugas menjaga kelestarian kawasan hutan dan lingkungan di wilayah Provinsi Papua, merupakan tugas mulia bagi seorang rimbawan.
Meski kadang dalam tugas yang dijalankan terdapat kendala terutama yang berhubungan langsung dengan masyarakat setempat yang memang secara turun temurun telah mendiami wilayah hutan adat mereka, sehingga pendekatan secara persuasif oleh Pak Markus dan unit pelaksana tugas lainnya sangat diperlukan guna terjalin kerja sama yang baik.
Memaknai Minggu Panggilan dalam tugasnya, maka kehadiran Polisi hutan dalam menjaga dan melestarikan hutan bukan hanya memberikan arah untuk memanfaatkan kawasan hutan dan hasil hutan, namun juga berkesinambungan bagi generasi penerus.
Menjadi Polisi hutan adalah tanggung jawab moril sebagai seorang Katolik karena harus membangun relasi dengan Allah, sesama, diri sendiri dan kawasan lingkungan hutan itu sendiri. Polisi hutan hadir sebagai pengontrol pengawasan keberlangsungan hutan yang dilindungi.
Ditengah perbincangan, Nona Maria Imaculata Tiara yang bertugas sebagai Pengamat Klimatologi dari BMKG Balai V Wilayah Regional Papua, turut hadir memperkenalkan profesi yang dipilih sebagai panggilannya.
Ara yang merupakan sapaan akrab beliau menjelaskan secara mendetail terkait tupoksi dari BMKG sebagai sebuah instansi vertical yang bertanggung jawab penuh atas kondisi Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika di seluruh Indonesia.
Sebagai seorang observer Klimatologi, beliau bertanggungjawab pada pengamatan iklim dalam jangka waktu Panjang. Nona Ara yang dalam kesehariannya melaksanakan tugas di stasiun pengamatan Genyem, bercerita awal mula memilih menjadi pengamat iklim tidak pernah ada dalam cita-citanya.
Menjadi tentara adalah tujuannya, namun pilihan itu berubah saat ia diajak oleh temannya selepas SMA untuk mengikuti seleksi sekolah kedinasan STMKG dan akhirnya diterima sebagai bagian dari 250 orang yang terpilih untuk mengikuti pendidikan selama empat tahun, dan akhirnya mengantarkan dirinya sebagai ASN yang bertugas mengamati iklim di wilayah Papua yang sangat berguna bagi masyarakat luas khususnya para nelayan dan petani.
Di akhir segmen ke-2, Ara berpesan kepada para OMK dan anak muda lainnya untuk selalu yakin dengan apa yang dilakukan dan tetap andalkan Tuhan dalam menjalankan panggilan hidup.
Disegmen ke-3, Waroeng Katekese menghadirkan seorang tamu yang berpostur tinggi tegap dan berpakaian orange lengkap dengan emblemnya, membuat suasana perbincangan semakin seru ditambah seduhan kopi racikan Imelda Elosak alias Nona Incess sebagai Co-Host bersama dengan Bung Rio Dosinaen selaku Host Reguler dan juga adalah Tokoh Pemuda Katolik Waen yang membawa kehangatan ditengah cuaca kota yang sedang rintik malam itu.
Perkenalan dengan Pak Hilarius Ranbalak atau Pak Boy sapaan akrabnya diawali seputar kegiatan beliau sehari-hari yang bertugas sebagai seorang Rescuer di Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Provinsi Papua.
“Petugas Basarnas sendiri akan turun ke lapangan saat suatu musibah atau kecelakaan terjadi dan dilaporkan kepada tim rescuer untuk dilakukan evakuasi,” ungkap Boy.
Lebih lanjut, Pak Boy menjelaskan untuk menjadi seorang Rescuer Basarnas maka wajib mengikuti latihan dasar selama 3 bulan sebelum benar-benar terjun langsung ke lapangan.
Menanggapi panggilan hidup sebagai seorang rescuer di Basarnas sejak 2002, Pak Boy mengatakan tugas ini merupakan misi kemanusiaan, apalagi sejak masih menjadi OMK di Paroki, beliau aktif mengikuti kegiatan-kegiatan kemanusiaan.
Sebagai seorang Katolik yang menjalankan tugas untuk merescue & evakuasi, terkadang Pak Boy mengalami kendala dan tantangan, namun beliau selalu mengandalkan Tuhan untuk melaluinya dengan mendaraskan doa Bapa Kami dan Salam Maria agar k dapat menyelesaikan misi kemanusiaan dengan baik.
Menutup perbincangan seputar minggu panggilan, suster Xaveria berpesan bahwa setiap panggilan pasti punya kesulitan, namun kita tetap percaya bahwa Tuhan yang memanggil pasti Tuhan pun tidak akan meninggalkan kita.
Di akhir perbincangan di segmen 3, Pastor Robby Hodo, Pr menggarisbawahi bahwa panggilan hidup itu misteri. Panggilan itu sudah ada dalam diri kita masing-masing, tinggal bagaimana respon hati kita dengan panggilan itu.
Pernyataan penutup dari kedua rohaniawan ini sekaligus mengakhiri tayangan Waroeng Katekese malam itu. Pilihan panggilan hidup menjadi penjaga tanda-tanda zaman, menjadi penjaga Taman Allah dan menjadi pembawa harapan dalam suasana kritis adalah sebuah keniscayaan Ilahi.
Tayangan episode ini menjadi sangat spesial karena bagaimana iman dan pekerjaan bertemu, bagaimana garam dan terang dunia itu sungguh nyata bahkan di laboratorium klimatologi, di tengah hutan belantara atau di lokasi bencana yang penuh debu dan air mata.
(Penulis adalah Aktivis Paroki Kristus Terang Dunia Waena)






