Plt. BPBD Kota Jayapura, Nofdi J. Rampi, S.Sos., M.M menyampaikan sambutan. (TIFAPOS/La Ramah)
TIFAPOS.id Pemerintah Kota Jayapura melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah gencar menyosialisasikan mitigasi bencana kepada masyarakat.
Sosialisasi ini bertempat di Kelurahan Kota Baru, Distrik Abepura, Kamis (8/5/2025) terkait mitigasi bencana banjir dan kebakaran, dengan narasumber Plt. Dinas Pemadam Kebakaran Kota, Dr. Robert Johan Betaubun, S.Pd., M.M.
Kegiatan sosialisasi melibatkan kolaborasi antara pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan warga setempat untuk mencapai hasil yang efektif dan berkelanjutan.
“Sosialisasi mitigasi banjir dan kebakaran bertujuan meningkatkan pemahaman dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi dan mengurangi risiko kedua bencana tersebut,” ujar ketua panitia kegiatan, Armando Rumbekwan, S. STP.

Ia juga mengatakan, sosialisasi melibatkan masyarakat aktif dalam penentuan jalur evakuasi dan titik evakuasi serta penyusunan upaya pengurangan risiko banjir di wilayah rawan seperti pesisir.
Metode sosialisasi meliputi ceramah, diskusi, tanya jawab, pelatihan, dan simulasi untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi banjir.
Adapun materi yang disampaikan mencakup langkah pencegahan, penanggulangan sebelum dan sesudah banjir, serta pentingnya sarana prasarana evakuasi.
Mitigasi kebakaran, sosialisasi dan pelatihan pemadaman kebakaran skala kecil menggunakan alat pemadam api ringan (APAR) dan alat tradisional seperti karung goni dilakukan di halaman kantor distrik.
Materi juga mencakup pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) dan cara penanggulangan kebakaran rumah dan lahan. Pelatihan dilakukan secara langsung dengan demonstrasi dan praktik pemadaman api oleh warga yang diikuti seluruh peserta.
Kegiatan ini meningkatkan kesadaran dan kemampuan warga dalam mengurangi risiko banjir dan kebakaran serta meminimalkan kerugian.
“Saya berharap partisipasi aktif masyarakat dalam kesiapsiagaan, edukasi langkah-langkah mitigasi, pelatihan praktis, dan pembentukan tim evakuasi mandiri guna mengurangi dampak bencana secara signifikan,” ujar Rumbekwan.

Plt. BPBD Kota Jayapura, Nofdi J. Rampi, S.Sos., M.M, mengatakan cara terbaik meningkatkan kesadaran warga tentang mitigasi bencana yaitu edukasi berkelanjutan melalui kunjungan lapangan untuk memberikan informasi yang mudah dipahami tentang jenis bencana, risiko, dan langkah mitigasi.
Selain itu, pelatihan dan simulasi bencana secara rutin agar masyarakat terbiasa dengan prosedur evakuasi dan penanganan darurat, sekaligus meningkatkan keterampilan praktis mereka.
Pemberdayaan masyarakat dengan membentuk kelompok tanggap bencana dan melibatkan tokoh masyarakat untuk memobilisasi dan menyebarkan informasi kesiapsiagaan.
Keterlibatan media dan kampanye publik yang intensif untuk membentuk opini dan menyebarkan pesan kesiapsiagaan secara luas dan menarik.
Ia juga mengatakan, integrasi pendidikan mitigasi bencana dalam kurikulum sekolah agar generasi muda memahami risiko dan cara mitigasi sejak dini.
Serta , pengembangan kebijakan dan penyediaan sumber daya oleh pemerintah, termasuk sistem peringatan dini dan fasilitas pendukung kesiapsiagaan masyarakat.
Ia berharap, pendekatan komprehensif yang menggabungkan edukasi, pelatihan, pemberdayaan komunitas, dan dukungan kebijakan ini efektif membangun kesadaran dan kesiapsiagaan warga dalam menghadapi bencana.
“Mencegah bencana seperti banjir, longsor, dan kebakaran bukan hanya tugas dari pemerintah, tapi dibutuhkan juga peran aktif masyarakat untuk menjaga agar sampai terjadi bencana,” ujar Nofdi.

“Ilmu yang sudah didapat agar jangan disimpan sendiri tapi sampaikan juga kepada warga lainnya, agar memiliki kesamaan pemahaman dalam mitigasi bencana banjir dan kebakaran,” sambungnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Jayapura, Agustinus Ondi, S.Hut., M.Si, mengatakan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mencegah banjir dan kebakaran adalah pendidikan dan sosialisasi rutin.
Pembentukan dan pemberdayaan kelompok relawan banjir dan kebakaran di tingkat kampung/desa atau komunitas yang bertugas melakukan pencegahan dan penanggulangan secara mandiri.
Pelatihan kesiapsiagaan kebakaran dengan metode partisipatif seperti simulasi dan praktik langsung untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam menghadapi kebakaran.
Ia juga mengatakan, memanfaatkan teknologi digital dan media sosial untuk menyebarkan informasi edukatif secara kreatif dan interaktif, terutama melalui platform populer seperti YouTube, Instagram dan TikTok agar menjangkau generasi muda.
Pemasangan alat deteksi dan alarm kebakaran serta penyediaan fasilitas seperti tempat penampungan air di titik rawan untuk memudahkan respons cepat saat kebakaran terjadi.
Pemetaan wilayah rawan kebakaran dan peningkatan pengawasan melalui pos jaga atau menara pengawas untuk deteksi dini dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
Kampanye kesadaran berkelanjutan yang melibatkan kolaborasi antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas lokal untuk membangun budaya pencegahan kebakaran yang kuat dan berkelanjutan.
“Strategi-strategi ini jika dijalankan secara terpadu dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dalam mencegah dan mengurangi risiko kebakaran,” ujar Ondi.

Kesempatan tersebut, Ondi mengimbau masyarakat dalam mencegah banjir dan kebakaran, yaitu tidak menanam atau membangun di tanggul sungai karena dapat membuat tanggul rapuh dan mudah jebol saat hujan deras.
Tidak membuang sampah ke selokan atau sungai untuk menghindari penyumbatan saluran air. Hindari mendirikan rumah di pinggiran sungai agar tidak mengganggu tata kota dan mengurangi risiko banjir.
Melaksanakan program tebang pilih dan reboisasi untuk menjaga regenerasi hutan dan mencegah kerusakan lingkungan yang memperparah banjir.
Membuat sumur resapan dan biopori agar air hujan cepat meresap ke tanah serta rutin membersihkan saluran air secara gotong royong.
Memantau potensi hujan dan selalu siap siaga, termasuk evakuasi mandiri jika diperlukan, terutama di daerah rawan banjir lahar dingin.

Pencegahan Kebakaran, gunakan alat listrik yang memenuhi standar dan periksa instalasi listrik secara rutin. Jauhkan bahan mudah terbakar dari sumber api dan jangan membakar sampah atau lahan sembarangan.
Tidak membuang puntung rokok sembarangan yang dapat memicu kebakaran. Sediakan alat pemadam kebakaran di rumah dan pastikan mematikan sumber api, alat elektronik, dan kran air saat meninggalkan rumah.
Waspadai penyebab kebakaran seperti kompor, lilin, minyak tanah, dan obat nyamuk bakar. Bentuk relawan kebakaran di lingkungan untuk kesiapsiagaan dan bantu petugas damkar saat kebakaran terjadi.
“Imbauan ini ditujukan agar masyarakat lebih sadar dan aktif dalam menjaga lingkungan serta mengantisipasi bencana banjir dan kebakaran demi keselamatan bersama,” ujar Ondi.

Plt. Dinas Pemadam Kebakaran Kota, Dr. Robert Johan Betaubun, S.Pd., M.M sekaligus narasumber, mengapresiasi terlaksananya sosialisasi mitigasi bencana banjir dan kebakaran sebagai upaya pencegahan dan kesiapsiagaan.
“Saran dari masyarakat agar kabel tiang listrik PLN yang rendah diatur dengan baik agar tidak menghalangi mobil pemadam kebakaran saat memadamkan api,” ujar Robert.
Ia juga mengatakan, untuk memastikan peserta memahami dan menerapkan materi yang diberikan, yaitu melakukan evaluasi kompetensi dengan tes, tugas praktik, atau laporan yang mengukur pemahaman dan kemampuan penerapan materi dalam situasi nyata.
Menggunakan metode pengulangan dan review materi secara berkala untuk menguatkan pemahaman dan memastikan tidak ada peserta yang tertinggal.

Penjelasan yang praktis, jelas, dan singkat agar materi mudah dipahami dan diingat peserta. Peserta secara aktif melalui diskusi, tanya jawab, simulasi, dan kegiatan interaktif untuk menguji pemahaman mereka secara langsung.
Pendekatan pembelajaran berdiferensiasi dengan menyesuaikan metode dan bentuk evaluasi sesuai kebutuhan, minat, dan gaya belajar peserta agar hasilnya optimal, dan meminta peserta menyampaikan kembali inti materi sebagai cara untuk menguji sejauh mana mereka benar-benar memahami.
“Kombinasi metode evaluasi, pengulangan, keterlibatan aktif, dan penyesuaian pembelajaran ini dapat memastikan peserta tidak hanya memahami tapi juga mampu menerapkan materi yang diajarkan,” ujar Robert.






