Beranda / Opini / Menggerakkan komunitas sekolah: Praktik baik P5 dalam pembuatan kompos dan ekobrik di SMKS YPK TIK Serui

Menggerakkan komunitas sekolah: Praktik baik P5 dalam pembuatan kompos dan ekobrik di SMKS YPK TIK Serui

Mahasiswa Program Magister Manajemen Pendidikan Universitas Cenderawasih Jayapura, Ni Wayan Putri Susanti. (TIFAPOS/Ist)

Oleh : Ni Wayan Putri Susanti

TIFAPOS.id Transformasi pendidikan di Indonesia melalui Kurikulum Merdeka memberikan peluang bagi satuan pendidikan untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, cinta lingkungan, dan mampu menghadapi tantangan zaman.

Salah satu implementasi penting dari kurikulum ini adalah melalui Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), yang bertujuan menanamkan enam dimensi karakter utama seperti gotong royong, kreatif, mandiri, bernalar kritis, berkebinekaan global, dan beriman serta bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menyatakan bahwa “P5 adalah ruang bagi peserta didik untuk mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam tindakan nyata dan kontekstual di lingkungan sekitarnya”.(Kemendikbudristek, 2022).

SMKS YPK TIK Serui, sebuah sekolah menengah kejuruan yang terletak di Kabupaten Kepulauan Yapen Papua, Provinsi Papua, telah berhasil mengimplementasikan P5 dengan pendekatan berbasis proyek yang berfokus pada keberlanjutan lingkungan.

Melalui kegiatan pembuatan kompos dan ekobrik, sekolah ini tidak hanya mengedukasi siswa tentang pentingnya pengelolaan sampah, tetapi juga membangun kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan sekitar.

Pembuatan Kompos: Mengolah Sampah Menjadi Pupuk Berkualitas

Pengelolaan sampah organik menjadi salah satu isu penting yang perlu mendapat perhatian, termasuk di lingkungan sekolah.

SMKS YPK TIK Serui menjawab tantangan ini melalui implementasi P5 dengan tema “Gaya Hidup Berkelanjutan”.

Salah satu kegiatan unggulan dalam proyek ini adalah pembuatan kompos dari sampah daun oleh siswa. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk mengurangi limbah organik, tetapi juga membentuk karakter siswa yang peduli lingkungan, mandiri, dan bertanggung jawab.

SMKS YPK Tik Serui terletak di lingkungan yang masih banyak dikelilingi pepohonan, sehingga potensi sampah daun sangat besar.

Biasanya, sampah daun hanya dikumpulkan lalu dibakar atau dibuang. Melalui kegiatan P5, siswa diajak untuk memandang sampah bukan sebagai limbah, tetapi sebagai sumber daya yang bisa diolah menjadi pupuk organik berkualitas.

Dengan membentuk kelompok kerja, siswa memulai proyek pembuatan kompos sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual dan kolaboratif.

Dengan bantuan bahan tambahan seperti EM4 dan gula, sampah organik tersebut difermentasi menjadi pupuk kompos yang kaya akan nutrisi.

Proses ini tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga menghasilkan pupuk yang dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman di lingkungan sekolah.

Setelah beberapa minggu, kompos yang dihasilkan berwarna hitam kecokelatan, gembur, dan tidak berbau menandakan bahwa kompos sudah matang dan siap digunakan. Kompos ini kemudian dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman di kebun sekolah.

Siswa-siswi SMKS YPK TIK Serui membuat kompos. Kompos ini kemudian dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman di kebun sekolah. (TIFAPOS/Ist)

Ekobrik: Inovasi Ramah Lingkungan dari Sampah Botol Plastik

Apa Itu Ekobrik?
Ekobrik adalah botol plastik bekas yang diisi padat dengan kertas, plastik lunak seperti kantong kresek, kemasan makanan, sedotan, dan plastik bekas lainnya.

Hasilnya adalah balok padat yang kuat dan dapat digunakan sebagai bahan bangunan, furnitur, atau elemen dekoratif. Metode ini tidak hanya membantu mengurangi limbah plastik, tetapi juga menjadi alat edukatif yang mengajarkan siswa tentang pentingnya tanggung jawab terhadap sampah.

Sebagai bagian dari upaya mengurangi sampah plastik, siswa SMKS YPK Tik Serui juga terlibat dalam pembuatan ekobrik. Mereka mengumpulkan sampah kertas dan memadatkannya ke dalam botol plastik bekas.

Botol-botol yang telah terisi padat ini kemudian digunakan sebagai bahan untuk membuat berbagai produk, seperti elemen dekoratif pada tulisan I Love SMK.

Kegiatan ini tidak hanya mengurangi sampah plastik, tetapi juga mengajarkan siswa tentang pentingnya kreativitas dan inovasi dalam mengatasi masalah lingkungan.

Botol-botol yang telah terisi padat ini kemudian digunakan sebagai bahan untuk membuat berbagai produk, seperti elemen dekoratif pada tulisan I Love SMK. (TIFAPOS/Ist)

Kolaborasi dan Keterlibatan Komunitas

Proyek pembuatan kompos dan ekobrik dimulai dari diskusi antara guru dan siswa mengenai isu lingkungan di sekitar sekolah.

Sampah daun yang menumpuk dan botol plastik yang sering terbuang menjadi latar belakang kegiatan ini. Keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari kolaborasi antara siswa dan guru.

Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa dalam setiap tahap kegiatan. Kerjasama ini menciptakan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

Dampak Positif dan Harapan ke Depan

Melalui kegiatan P5 ini, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan sampah, tetapi juga mengembangkan karakter sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila, seperti gotong royong, mandiri, dan peduli lingkungan.

Ke depan, SMKS YPK TIK Serui berharap dapat terus mengembangkan program ini dengan melibatkan lebih banyak pihak dan menciptakan inovasi-inovasi baru yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

Dengan langkah-langkah konkret dan kolaboratif, SMKS YPK Tik Serui telah menunjukkan bahwa pendidikan yang berbasis pada keberlanjutan lingkungan dapat membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

 

 

(Penulis adalah mahasiswa Program Magister Manajemen Pendidikan FKIP Universitas Cenderawasih Jayapura)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *