Beranda / Ragam Berita / Menggali dan mengembangkan potensi generasi muda melalui FTBI

Menggali dan mengembangkan potensi generasi muda melalui FTBI

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Grace L. Yoku, S.Pd., M.Pd foto bersama kolega dalam sosialisasi FTBI 2025. (TIFAPOS/La Ramah)


FESTIVAL Tunas Bahasa Ibu (FTBI) adalah sebuah gerakan nyata dalam melestarikan bahasa daerah sebagai warisan budaya bangsa.

Kegiatan ini tidak hanya sekadar lomba, tetapi juga media untuk membentuk karakter dan kecintaan siswa terhadap budaya lokal serta menumbuhkan rasa bangga akan jati diri bangsa.

Lewat lomba-lomba seperti mendongeng, membaca puisi, pidato berbahasa daerah, menulis dan membaca cerita pendek, stand up komedi, dan nyanyian rakyat, siswa dapat mengekspresikan potensi dan bakatnya serta belajar tampil percaya diri dan berpikir kritis.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Grace L. Yoku, S.Pd., M.Pd mengatakan, FTBI adalah fasilitasi strategis untuk menggali dan mengembangkan potensi anak-anak cerdas berkarakter, yang akan menjadi generasi unggul dan pemimpin masa depan Indonesia Emas 2045.

Festival ini juga mengajarkan semangat gotong royong dan saling menghargai.

Selain itu, orang tua, khususnya ibu, memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan rumah yang menghargai bahasa daerah, dengan membiasakan penggunaan bahasa daerah di rumah.

Serta mengajarkan melalui lagu dan permainan, serta mengajak anak berpartisipasi dalam kegiatan budaya, sehingga memperkuat ikatan kekeluargaan dan kebersamaan.

Festival ini dianggap vital di tengah tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi, yang seringkali membuat bahasa daerah kehilangan tempatnya.

Pelestarian bahasa daerah dianggap penting karena merupakan identitas budaya yang menyimpan pengetahuan lokal dan kearifan yang relevan dengan kehidupan saat ini.

“FTBI adalah ajang untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap bahasa ibu dan budaya asli mereka sekaligus mendorong mereka untuk terus menggunakan dan melestarikannya sebagai warisan bangsa,” ujar Yoku.

Untuk itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura lewat Bidang Kebudayaan menyelenggarakan FTBI yang diawali dengan sosialisasi.

Sosialisasi yang berlangsung di Hotel Suni Abepura, Jumat, 22 Agustus 2025 dihadiri guru SD, SMP, akademisi, dan pemerhati kebudayaan.

Lomba yang akan berlangsung pada tanggal 11 s.d 12 September 2025, diikuti 120 peserta diantaranya jenjang SD kelas 4 dan 5 serta jenjang SMP kelas 7 dan 8.

Bahasa yang dilombakan di mana sekolah itu berada , misalnya di Jayapura Utara menggunakan bahasa Kampung Kayu Batu dan Tahima Siroma Kayo Pulau.

Begitu juga sekolah yang berada di Muara Tami diwajibkan menggunakan bahasa Skouw, di wilayah Abepura menggunakan bahasa Kampung Nafri, wilayah Heram menggunakan bahasa Sentani.

Sementara sekolah yang berada di wilayah Jayapura Selatan diwajibkan menggunakan bahasa Kampung Kayu Batu dan Tahima Siroma Kayo Pulau serta Nafri.

“Penggunaan bahasa ibu pada anak memiliki dampak yang sangat penting bagi perkembangan bahasa dan kemampuan komunikasi anak,” ujar Yoku.

Dijelaskannya, bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasai anak dan menjadi dasar utama pembentukan kemampuan berbahasa lisan dan ekspresi oral mereka.

Selain itu, penggunaan bahasa ibu yang baik dan melibatkan anak dalam komunikasi di lingkungan keluarga dapat meningkatkan kemampuan mendengar, berbicara, dan menyimak anak secara signifikan.

Anak yang aktif menggunakan bahasa ibu seringkali lebih percaya diri dalam berbicara dan berinteraksi dengan orang lain, serta lebih mudah beradaptasi dalam lingkungan sosial yang menggunakan bahasa yang sama.

Bahasa ibu juga berperan dalam melestarikan budaya dan identitas komunitas, sehingga anak-anak secara tidak langsung turut menjaga keberlangsungan bahasa dan tradisi budaya mereka.

Namun, ada juga tantangan jika penggunaan bahasa ibu tumpang tindih dengan pengaruh bahasa lain atau media digital tanpa manajemen yang baik.

Hal ini bisa menyebabkan kebingungan bahasa pada anak, komunikasi tidak efektif, dan gangguan konsentrasi.

Dalam proses pendidikan, penggunaan bahasa ibu membantu pemahaman konsep belajar dan meningkatkan motivasi belajar anak, terutama pada usia dini.

“Penggunaan bahasa ibu berdampak positif pada perkembangan bahasa, kemampuan komunikasi, kepercayaan diri, dan pelestarian budaya anak, asalkan penggunaan bahasa ibu dilakukan secara konsisten dan optimal baik di lingkungan keluarga maupun pendidikan,” ujar Yoku.

 

(lrh)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *