Oleh : Jose
TIFAPOS.id Bukankan nasib mereka akan sejahtera jika di bawah Indonesia? Kata siapa lebih sejahtera?
Pertanyaan seperti ini kira-kira setara dengan orang Belanda bertanya: “Mengapa Ratu Wilhelmina setuju Indonesia merdeka? Bukankan kalian akan lebih sejahtera di bawah Belanda?”
Lucu, ya? Tapi ternyata masih ada yang berpikir serupa. Mari kita luruskan.
Pertama-tama, mari kita ingat bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Ini bukan slogan kosong, tertulis tegas dalam Pembukaan UUD 1945, yang menyatakan bahwa penjajahan di dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Timor Leste bukan bagian dari Indonesia. Mereka dijajah oleh Portugal, sementara kita oleh Belanda, dua sejarah yang sudah lama berjalan di jalurnya masing-masing.
Jadi, ketika Indonesia menginvasi Timor Leste pada tahun 1975, tepat setelah mereka merdeka dari Portugal, itu jelas melanggar prinsip internasional.
Invasi ini bertentangan langsung dengan Bab I Piagam PBB, yang melarang penggunaan kekuatan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik suatu negara.
Tidak heran jika PBB, lewat Majelis Umum dan Dewan Keamanan, mengecam keras dan mendesak Indonesia segera menarik pasukannya.
Lalu datanglah narasi lama: “Tapi kalau gabung Indonesia, mereka bisa lebih sejahtera”.
Oh, jadi sekarang kemerdekaan bisa ditawar dengan janji kesejahteraan? Ini logika yang sama dengan berkata “Kenapa kamu keluar dari hubungan toksik? Kan dia kaya.”
Sejahtera itu penting, tapi tidak ada artinya tanpa hak untuk menentukan nasib sendiri. Jangan sampai kita terjebak dalam pola pikir kolonial versi lokal.
Jadi, buat yang masih bingung antara kemerdekaan dan kesejahteraan? Silakan disusun ulang logikanya, dan mungkin, kalau perlu diperiksa kompas moralnya juga.
(Penulis adalah pengguna media sosial yang aktif menuliskan opininya di Quora)
(lrh/sumber: Quora)






