Beranda / Opini / Mendukung Taiwan berarti mendukung kebebasan: Mengapa dunia tidak boleh diam?

Mendukung Taiwan berarti mendukung kebebasan: Mengapa dunia tidak boleh diam?

Ilustrasi. (TIFAPOS/Rani Welmince Ruatakurei)

Oleh : Rani Welmince Ruatakurei

TIFAPOS.id Bayangkan sebuah negara kecil yang berhasil membangun demokrasi dari puing-puing konflik, yang warganya hidup dalam kebebasan memilih pemimpin, menyuarakan pendapat tanpa takut dibungkam, dan menikmati ruang publik yang hidup.

Negara itu adalah Taiwan. Dan, hari ini kebebasan mereka terancam. Bagi sebagian orang, Taiwan hanyalah sebuah pulau kecil di ujung peta Asia.

Namun, di balik ukurannya yang mungil, Taiwan menyimpan makna besar bagi dunia, yaitu harapan bahwa demokrasi bisa tumbuh di tengah tekanan, bahwa nilai-nilai kebebasan tidak mengenal batas geografis.

Sejak terpisah dari daratan Tiongkok pasca perang saudara pada 1949, Taiwan memilih jalan berbeda. Ia tidak memilih kekuasaan absolut, tapi kedaulatan rakyat.

Ia tidak mengekang, tapi merangkul kebebasan. Namun, justru karena pilihan itu, Taiwan terus menghadapi tekanan berat dari Beijing.

Dari intimidasi militer hingga serangan siber, dari blokade diplomatik hingga kampanye disinformasi semua dilakukan demi satu pesan: Taiwan harus tunduk.
​
Tapi, ini bukan hanya soal Taiwan. Ini soal kita semua. Ketika sebuah demokrasi yang hidup dan damai diancam dengan kekerasan, dunia punya dua pilihan: diam, atau berdiri.

Dan, sejarah sudah terlalu banyak mencatat, diamnya dunia sering kali jadi awal dari runtuhnya nilai-nilai yang kita anggap suci.
​
Diam berarti membiarkan logika kekuasaan menggantikan logika prinsip, bahwa yang kuat boleh memaksa yang lemah, bahwa demokrasi bisa dibungkam tanpa konsekuensi.

Jika Taiwan dibiarkan sendirian, maka pesan yang sampai ke negara-negara lain pun jelas, jangan bermimpi tentang kebebasan, karena dunia tidak akan membelamu.
​
Kita juga tidak bisa menutup mata bahwa Taiwan adalah bagian penting dari dunia modern, terutama dalam industri semikonduktor yang menggerakkan hampir seluruh teknologi yang kita gunakan hari ini.

Instabilitas di Taiwan berarti kerentanan global dari ekonomi hingga keamanan.
​Mendukung Taiwan bukan berarti menantang perang.

Ini tentang menunjukkan bahwa dunia masih punya hati nurani. Bahwa kita bisa mempererat solidaritas, memperkuat hubungan, dan mengatakan dengan lantang bahwa kebebasan bukan barang yang bisa ditukar.
​
Ini saatnya kita menolak bersikap apatis. Bukan hanya pemerintah yang punya peran, tapi kita sebagai warga dunia, karena jika kita diam hari ini, siapa yang akan berbicara untuk kita esok ketika kebebasan kita sendiri dipertaruhkan?
​
Mendukung Taiwan berarti berdiri untuk kebebasan. Untuk harapan dan ntuk kemanusiaan.

Dan, dalam dunia yang makin bising oleh ambisi kekuasaan, keberpihakan terhadap nilai-nilai ini adalah bentuk keberanian paling murni yang bisa kita tunjukkan bersama.

 

 

(Penulis adalah mahasiswa jurusan Hubungan International Universitas Cenderawasih Jayapura)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *