Ilustrasi. (TIFAPOS/Ana Korry Siregar)
Oleh : Ana Korry Siregar
TIFAPOS.id Kerja sama regional ASEAN Plus Three (APT), yang terdiri dari negara-negara anggota ASEAN ditambah Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan, merupakan salah satu bentuk diplomasi multilateral paling strategis di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara.
Forum ini tidak hanya menjadi platform diskusi dan koordinasi dalam isu-isu ekonomi, politik, keamanan, dan sosial-budaya, tetapi juga menjadi jembatan penting dalam membangun konektivitas regional yang inklusif dan berkelanjutan.
Indonesia, sebagai negara terbesar dan paling berpengaruh di ASEAN, memiliki peran sentral dalam mengarahkan kebijakan dan agenda kerja sama ini.
Namun, dalam perjalanannya, manfaat dari kerja sama ASEAN Plus Three seringkali lebih dirasakan di pusat-pusat ekonomi besar seperti Jakarta, Surabaya, atau kota-kota besar lainnya di Jawa dan Sumatera.
Di sisi lain, wilayah timur Indonesia, khususnya Papua, masih berada dalam bayang-bayang ketimpangan pembangunan yang mencolok.
Papua adalah wilayah yang sangat kaya akan sumber daya alam, namun masih tertinggal dalam hal infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial secara umum.
Ketertinggalan ini bukan hanya merupakan masalah domestik Indonesia, tetapi juga menjadi sorotan internasional, terutama dalam hal pemenuhan hak-hak masyarakat adat, pembangunan yang inklusif, dan konflik sosial yang berkepanjangan.
Dalam konteks ini, ASEAN Plus Three dapat dijadikan sebagai sarana strategis untuk membawa isu pembangunan Papua ke dalam skema kerja sama regional yang lebih luas.
Misalnya, kerja sama pembangunan infrastruktur antara Indonesia dan Jepang yang telah terjalin selama ini melalui proyek-proyek seperti MRT di Jakarta, seharusnya bisa diperluas untuk mencakup Papua dengan mengembangkan infrastruktur transportasi, listrik dan komunikasi di wilayah tersebut.
Jepang, sebagai negara yang sangat maju dalam hal teknologi dan perencanaan kota, dapat menjadi mitra utama dalam membangun kota-kota baru yang ramah lingkungan, terintegrasi, dan berbasis pada kebutuhan lokal di Papua.
Lebih jauh lagi, keterlibatan Tiongkok dalam inisiatif Belt and Road (Jalur Sutra Baru) yang memiliki keterkaitan dengan ASEAN Plus Three, juga dapat dimanfaatkan untuk membangun Papua sebagai titik strategis dalam konektivitas regional antara Asia Tenggara dan Pasifik Selatan.
Papua, yang secara geografis dekat dengan wilayah Pasifik, memiliki potensi besar untuk menjadi pusat perdagangan, logistik, dan energi baru jika pembangunan diarahkan secara sistematis dan inklusif.
Investasi dari Tiongkok dalam bidang infrastruktur energi, pelabuhan, dan konektivitas digital dapat membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal Papua serta mengurangi ketimpangan wilayah.
Namun, tentu saja, kerja sama semacam ini harus dijalankan dengan prinsip kehati-hatian, transparansi, dan keberpihakan terhadap masyarakat lokal agar tidak menimbulkan eksploitasi sumber daya dan konflik baru.
Selain itu, Korea Selatan juga merupakan mitra potensial dalam kerja sama pendidikan dan pelatihan vokasi. Negara ini terkenal dengan kemajuan teknologi informasi dan pendidikan berbasis inovasi.
Melalui skema kerja sama ASEAN Plus Three, Indonesia dapat mendorong program pertukaran pelajar, beasiswa, dan pelatihan teknis bagi pemuda Papua agar mereka memiliki akses yang setara terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi terkini.
Pendidikan adalah kunci dalam membebaskan Papua dari ketertinggalan, dan kemitraan dengan Korea Selatan dalam konteks ini, dapat memberikan dampak jangka panjang yang signifikan.
Hal ini juga sejalan dengan semangat APT untuk meningkatkan pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang inklusif di seluruh kawasan.
Lebih dari sekadar ekonomi dan pendidikan, ASEAN Plus Three juga menjadi forum penting dalam isu-isu keamanan non-tradisional seperti perubahan iklim, penanggulangan bencana, dan kesehatan masyarakat.
Papua, sebagai wilayah yang sangat rentan terhadap bencana alam seperti gempa bumi dan banjir, serta memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa, sangat membutuhkan dukungan teknologi dan kebijakan dari negara-negara maju di Asia Timur dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Misalnya, Jepang yang berpengalaman dalam sistem peringatan dini gempa bumi dan manajemen bencana berbasis masyarakat, dapat menjadi mitra yang ideal untuk mengembangkan sistem serupa di Papua.
Demikian pula, kolaborasi dalam bidang kesehatan antara ASEAN Plus Three dapat diarahkan untuk memperbaiki layanan kesehatan dasar di wilayah terpencil di Papua, termasuk peningkatan fasilitas, distribusi tenaga medis, dan pengiriman alat kesehatan yang canggih.
(Penulis adalah mahasiswa jurusan Hubungan International Universitas Cenderawasih Jayapura)






