Kepala SMA PGRI Jayapura, Parjan. (TIFAPOS/Ramah)
TIFAPOS.id – SMA Negeri 7 Jayapura, Kota Jayapura adalah satu-satunya sekolah bertahanan iklim di Papua.
Hal ini menjadi kebanggaan bagi seluruh tenaga pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik, yang turut berkontribusi dalam memajukan pendidikan dengan program ketahanan iklim.
“SMA Negeri 7 Jayapura awalnya adalah SMA PGRI yang berhasil meraih 10 besar sekolah berketahanan iklim,” ujar Kepala SMA PGRI Jayapura Parjan di Jayapura, Selasa (2/9/2024).
SMA Negeri 7 Jayapura (gabungan dari SMA PGRI dan SMA KORPRI) baru saya ditetapkan sebagai sekolah negeri pada 22 April 2024 oleh Penjabat Wali Kota Jayapura Frans Pekey.
“Sekolah berketahanan iklim terlibat dalam menjaga lingkungan, seperti penghijauan, ketahanan pangan, hubungan masyarakat, dan ekonomi,” ujarnya.
Selain menjadi sekolah berketahanan iklim, SMA N 7 Jayapura juga mendorong dunia pendidikan di Kota Jayapura menjadi bagian dari gerakan inklusi sosial guna mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat.
“Berketahanan iklim agar bumi bisa terjaga sehingga memberikan kehidupan bagi mahluk hidup,” ujarnya.
Upaya ini dilakukan dengan mengintegrasikan isu krisis iklim dan pembangunan berkelanjutan lainnya dalam pembelajaran intra kurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler atau school project.
“Kami mengeksplorasi upaya pencegahan dan perencanaan bahaya lingkungan sekolah saat ini dalam konteks gerakan sekolah sehat,” ujarnya.
Dikatakan Parjan, curah hujan ekstrem, panas, kenaikan permukaan air laut, perubahan pola geografis dan musiman tanaman, hewan (terutama serangga) dan mikroba penyebab penyakit.
Lanjutnya, serta kerawanan pangan (termaksud perubahan kandungan nutrisi) menimbulkan bahaya kesehatan yang memperparah aktivitas sekolah sehari-hari.
Akibatnya, perubahan iklim menciptakan pemicu stres tambahan melalui gangguan terhadap proses pendidikan dasar yang memperparah siklus kemiskinan dan kesenangan kesehatan.
“Kami menggambarkan risiko terkait perubahan iklim terhadap infrastruktur sekolah dan akibatnya terhadap kesehatan anak-anak,” ujarnya.
Parjan berharap melalui program unggulan tersebut, masyarakat terutama orang tua yang anaknya memasuki usia SMA agar bersama-sama dengan memajukan pendidikan di Kota Jayapura.
“Bencana alam seperti banjir, longsor, kebakaran hutan, gempa bumi semakin sering terjadi, dan menjadi lebih ekstrem akibat perubahan iklim,” ujarnya.






