Beranda / Ragam Berita / Masyarakat harus bangga dengan cagar budaya Gunung Srobu

Masyarakat harus bangga dengan cagar budaya Gunung Srobu

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Grace L. Yoku, S.Pd., M.Pd. (TIFAPOS.id/La Ramah)

TIFAPOS.id – Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Grace L. Yoku, S.Pd., M.Pd, mengatakan masyarakat Papua khususnya Kota Jayapura harus bangga dengan keberadaan situs Gunung Srobu.

Ia juga mengatakan, cagar budaya yang ada di Gunung Srobu , merupakan bagian penting dari identitas dan warisan budaya masyarakat Papua.

“Masyarakat harus merasa bangga dan berperan aktif dalam pelestariannya, yaitu pelestarian identitas budaya,” ujar Yoku di Kantor Wali Kota Jayapura, Senin (17/3/2025).

Ia juga mengatakan, cagar budaya berfungsi sebagai simbol identitas nasional dan mencerminkan sejarah serta nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dengan melestarikannya, masyarakat dapat menjaga hubungan dengan masa lalu dan tradisi mereka.

Selain itu, keberadaan cagar budaya meningkatkan kesadaran akan warisan bersama di antara anggota komunitas, memperkuat ikatan sosial, dan mendorong rasa kepemilikan serta kebanggaan terhadap warisan budaya.

Cagar budaya menyediakan sumber daya berharga untuk pendidikan dan penelitian, memberikan wawasan tentang kehidupan masa lalu dan perkembangan budaya serta teknologi.

Pelestarian cagar budaya dapat menarik wisatawan, yang pada gilirannya mendukung ekonomi lokal melalui peningkatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Mengelola cagar budaya juga dapat berfungsi dalam proses rekonsiliasi di masyarakat yang pernah mengalami konflik, dengan mempromosikan dialog dan pemahaman antar kelompok.

“Dengan memahami nilai-nilai ini, masyarakat diharapkan dapat lebih menghargai dan melestarikan cagar budaya sebagai bagian dari jati diri bangsa yang kaya akan keragaman,” ujar Yoku.

Gunung Srobu ditemukan sejak 2014 adalah cagar budaya di Kota Jayapura. Di sana lahirnya multikulturalisme, kehidupan bergotong royong, sifat menerima kelompok baru ketika terjadi akulturasi.

Situs ini seluas dua hektar berdiri megah di Teluk Youtefa, dengan ketinggian antara dua meter hingga 98 meter di atas permukaan air laut, yang dikelilingi Kampung Nafri, Kampung Enggros, dan Kampung Tobati.

Selama 450 tahun atau sejak tahun 1730 (masyarakat) tinggal di situ (Gunung Srobu) atau pada abad ke-4, yang saat itu masa peralihan dari prasejarah akhir ke masa sejarah.

Gunung Srobu menyajikan peninggalan budaya bercorak megalitik untuk kawasan wilayah Pasifik dianggap sangat lengkap dan komplit untuk memberikan gambaran sejarah peradaban manusia.

Di sana bisa melihat sejumlah struktur megalitik yang berkaitan dengan aktivitas pemujaan atau penguburan, tumpukan kerang yang sudah hampir mendominasi situs, seperti dolmen.

Selain itu, menhir, arca, besi, cangkang moluska, gigi manusia, gigi binatang, tulang, fragmen gerabah, dan memiliki peralatan batu yang sangat bervariasi.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *