Ilustrasi toga. (TIFAPOS/123rf)
Oleh: Yanuar
TIFAPOS.id – Apa yang sebaiknya dilakukan mahasiswa tiap semester akhir agar setelah lulus, ia mudah diterima bekerja?
Sebagai HR, saya akan jelaskan bagaimana cara mahasiswa dapat meningkatkan kemampuannya saat kuliah agar memiliki kompetensi pendukung karir nantinya.
Saya ceritakan tentang diri saya sendiri, bagaimana saya bisa meraih posisi terbaik dalam pekerjaan.
Dulu, sewaktu kuliah semester akhir, saya dan teman-teman pernah ngobrol sambil makan pecel lele lesehan didaerah Alun-Alun Kidul, Yogyakarta. Kami bercerita tentang mimpi masa depan. Sampai giliran saya bercerita;
“Kalau aku ingin ke Jakarta, sih. Cari kerja disana. Peluang kerja dan sukses lebih tinggi sepertinya dibandingkan dikota yang lebih kecil” ucap saya.
Lalu, teman saya nyeletuk sambil tertawa.
“Woi..jangan ngimpi. Jakarta itu tempatnya keras, saingan banyak, belum tentu jadi. Itu kakak kelas kita saja si Mas Anwar, IPK cumlaude aja gagal cari kerja di Jakarta, malah sekarang usaha peternakan ayam di Bantul” ucap dia sambil tertawa sembari menggigit kepala ikan lele kedalam mulutnya.
Terus terang saya kesal mendengarnya, ingin marah rasanya namun saya sadar kalau ini hanya mimpi dan angan-angan akan masa depan yang belum terwujud oleh kami, para mahasiswa semester akhir.
Sambil menyeruput es jeruk, saya menimpali ucapan teman saya.
“Gak apa, namanya juga mimpi. Apa saja boleh, cuma kalau aku bisa sukses gimana? Hayuk taruhan?” Saya tertawa dan kemudian disambut tawa pula oleh teman-teman saya.
“Boleh-boleh. Taruhan saja, kalau Yanuar sukses di Jakarta, pokoknya aku kasih tuh PS ku” kata teman saya.
Kenapa Play Station? kami mahasiswa terkadang butuh hiburan main PS, nah, teman saya yang suka nyeletuk ini memang sudah kaya dari lahir, Bapaknya anggota DPRD di semarang. Kalau kami bosan biasanya datang ke kostnya untuk sekedar bermain PS.
Ada satu hal yang sebenarnya dilupakan oleh teman-teman saya. Mereka tidak pernah tahu bahwa sejak semester lima, saya sudah mulai membuat Career path sederhana, corat-caret di buku kuliah. Saya sudah merencanakan karir saya dimasa depan.
Isi career path saya;
1. Ingin bekerja diindustri apa
2. Perusahaan lokal/MNC
3. Wilayah pekerjaan
4. Bidang profesi
5. Kelebihan dan kekurangan skills dan kompetensi
6. Bagaimana cara menutupi gap kekurangan tersebut
7. Actions atau list to-do
Saya list semua item diatas.
Cara membuat career path bagaimana?
Sedari awal saya sudah mengetahui dan memiliki target untuk bekerja diperusahan yang bergerak dalam industri finansial milik asing (MNC) di Jakarta, bidang pekerjaan saya adalah Human Resources.
Saya tahu bahwa target diatas cukup berat dan menantang sekali, saya sadar banyak sekali area gap pengembangan yang perlu ditutupi. Caranya menutupi hal tersebut adalah dengan membuat list actions dan timeline.
Pertama, saya tahu bahwa saya ingin bekerja di perusahaan asing, komunikasi perusahaan tersebut pasti memakai english.
Action yang saya lakukan waktu itu adalah mendaftar business english class dari level intermediate sampai advance dengan durasi satu semester.
Setelah selesai kursus english saya iseng-iseng mengambil ujian TOEIC dan TOEFL dan lulus dengan predikat sempurna. Saya mengantongi sertifikat TOEIC dan TOEFL.
Kedua, karena saya ingin bekerja dibidang finansial, waktu itu saya juga paralel mengambil kursus excel intermediate dan VBA.
Dua kursus excel saya lahap sampai habis. Akhirnya? Saya menguasai excel advanced dan memiliki certificate completion dari salah satu lembaga kursus dibawah naungan lisensi microsoft.
Walaupun akhirnya, ternyata excel skills yang saya miliki tidak terlalu dibutuhkan dibidang HR. Namun tidak mengapa, investasi namanya.
Ketiga, saya mengambil kelas High Impact Presentation skills dan public speaking dari lembaga kursus Dale Carnegie.
Saya ingin menguatkan skills communication dan public speaking serta presentation skills dengan baik. Karena saya tahu bahwa bekerja di MNC pasti dibutuhkan komunikasi yang baik dan aktif.
Selain itu, kursus komunikasi dan speaking juga berguna dan bermanfaat untuk persiapan menghadapi interview.
Sebenarnya ada beberapa hal yang saya lakukan untuk upgrade diri, namun tiga cara diatas adalah core tools untuk upgrade diri. Saya mulai upgrade diri dan membuat career path sejak semester 5 sampai akhir.
Sampai beberapa tahun kemudian kami lulus wisuda. Saat penyematan wisuda, mata saya sempat memerah dan menangis, bukan karena berpisah dengan teman-teman semasa kuliah namun lebih kearah kebingungan.
Bagaimana masa depan? Dapat pekerjaan dengan cepat atau tidak? Apakah saya akan gagal? Apakah saya akan berhasil? Kalau gagal bagaimana? Pokoknya semua pertanyaan itu berkecamuk dalam pikiran dan otak saya. Hal ini sangat wajar ada dipikiran fresh grade.
Setelah lulus kuliah, saya ke Jakarta. Ditolak lamaran dan interview selama 3 bulan sudah biasa, namun semangat tidaklah surut, saya anggap penolakan lamaran dan interview itu sebagai pembelajaran gratis.
Saya jadi tahu apa kelemahan saya saat interview. Setelah 3 bulan berjibaku, akhirnya saya mendapatkan pekerjaan pertama sebagai Management Trainee (MT) disebuah perusahaan MNC milik US di daerah Rasuna Said.
Pekerjaan pertama yang akan menghantarkan saya kepijakan selanjutnya.
Satu bulan bekerja, saya menelepon teman saya di Yogya dan mengabarkan bahwa saya sudah diterima kerja walaupun belum sukses-sukses amat, disini saya bisa membuktikan bahwa saya bisa.
Hasilnya? PS 2 dikirimkan via paket ke kost saya di Jakarta. Senangnya.
Pesan saya untuk kalian;
Lakukan persiapan extra untuk mendukung karirmu sedini mungkin. Buatlah career path, contoh career path ada diinstagram saya. Silakan cek story IG.
Saya saja yang membuat career path dengan mengupgrade skills via kursus masih kelimpungan sewaktu mencari kerja, apalagi kandidat yang tidak mengupgrade skills? Investasikan waktu kamu untuk upgrade skills sebaik mungkin.
Quotes dari saya;
Perencanaan karir dimulai saat kamu belum memakai topi toga, bukan setelah memakai toga.
(Penulis adalah seorang Head Talent Management dan Human Resources)
Sumber: Quora






