Staf Ahli Bidang Politik, Hukum, dan Pemerintahan Dr. Robert Johan Betaubun, S.Pd., M.M meresmikan Lokasabha V PHDI Kota Jayapura dengan menabuh gong. (TIFAPOS/La Ramah)
Ringkasan Berita
• Lokasabha sebagai momen spiritual-moral untuk satukan tekad dan kuatkan jati diri organisasi.
• Evaluasi laporan pertanggungjawaban pengurus masa bakti 2021-2026, penyusunan program kerja 5 tahun ke depan, penilaian kinerja pengurus lama, pemilihan pengurus baru periode 2026-2031.
• Wujudkan SDM Hindu mandiri, cerdas, sejahtera, dan berkeyakinan kuat pada jati diri Hindu.
PARISADA Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Jayapura menggelar Lokasabha V di Wantilan Praja Loka Pura Agung Surya Bhuvana Skyline Jayapura, Sabtu, 7 Februari 2026.
Kegiatan bertema “Sinergi Parisada Bersama Pemerintah dalam Membangun Kota Beriman dan Modern” ini dihadiri 70 peserta, dari pengurus lembaga agama Hindu Kota Jayapura, peninjau dari ketua lembaga agama provinsi, tokoh umat, serta panitia.
Lokasabha V digelar sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD-ART) hasil Mahasabha XII tahun 2021, yang diadakan setiap lima tahun sekali.
Agenda utama mencakup evaluasi laporan pertanggungjawaban pengurus masa bakti 2021-2026, penyusunan program kerja lima tahun ke depan, penilaian kinerja pengurus lama, serta pemilihan pengurus baru untuk periode 2026-2031.
Ketua panitia, Ni Ketut Kabeningsih, S.Pd., M.M.Pd, yang juga menjabat sebagai Ketua WHDI Provinsi Papua, berharap lokasabha ini meningkatkan pembinaan umat Hindu.
“Kita ingin wujudkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Hindu yang mandiri, cerdas, sejahtera, dan memiliki keyakinan kuat pada jati diri sebagai umat Hindu,” ujar Kabeningsih.
Ketua PHDI Kota Jayapura, Drs. I Wayan
Nugati, menekankan Lokasabha bukan sekadar forum formal, melainkan momen spiritual dan moral untuk menyatukan tekad serta memperkuat jati diri organisasi.
“Kota modern tanpa fondasi iman kuat akan kehilangan arah. Sebaliknya, iman tanpa adaptasi kemajuan membuat kita tertinggal,” ujar Nugati.
Nugati menegaskan empat pilar utama PHDI Kota Jayapura dalam lokasabha ini, yakni membangun SDM Hindu cerdas digital tapi teguh pada etika susila.
Mendorong pemberdayaan ekonomi kreatif berbasis komunitas, menjadi jembatan kerukunan di Tanah Papua serta menjadikan PHDI organisasi transparan dan adaptif di era digital.
“Kita bisa bangun umat Hindu mandiri, cerdas spiritual-sosial, dan berdaya dukung pembangunan Kota Jayapura,” tambahnya.
Ketua PHDI Provinsi Papua, I Komang A. Wardana, S.E., M.M mengatakan tema lokasabha selaras dengan kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura.
“Kota beriman dan modern berarti seimbang antara kemajuan fisik-teknologi serta peningkatan spiritualitas. Pembangunan bukan hanya materi, tapi spiritualitas yang ditunjukkan masyarakat religius mengimplementasikan nilai agama sehari-hari,” ujar Komang.
Komang menambahkan, kota beriman berarti merawat kerukunan, toleransi, dan cegah konflik antarumat beragama sambil hormati perbedaan tanpa menghilangkan tradisi, tapi adopsi teknologi dan kearifan lokal budaya Kota Jayapura.
“Tingkatkan ‘Ajeg Dharma’ di Bumi Cenderawasih secara kontekstual. Tunjukkan umat Hindu sebagai warga taat hukum, cinta perdamaian, dan kontributor kemajuan kota,” ujar Komang.
Staf Ahli Bidang Politik, Hukum, dan Pemerintahan Dr. Robert Johan Betaubun, S.Pd., M.M mewakili Wali Kota Jayapura Abisai Rollo, S.H., M.H menegaskan peran strategis Parisada dalam pembinaan umat Hindu berbasis Tri Hita Karana.
Menurutnya, prinsip ini menjaga harmoni manusia-Tuhan, manusia-sesama, dan manusia-alam, yang dianggap nilai luhur ini krusial jaga kerukunan, toleransi, dan persatuan di Kota Jayapura.
Ia menekankan sinergi pemerintah-Parisada untuk bangun karakter masyarakat beriman, berahlak, berbudaya, sekaligus adaptif terhadap zaman dan teknologi.
“Sinergi ini kunci wujudkan kota yang tak hanya maju secara fisik, tapi juga kuat spiritual. Pemkot Jayapura komitmen dukung organisasi keagamaan. Mari bersama wujudkan Jayapura sebagai kota toleran, berprestasi, dan berlandaskan iman,” ujar Robert.
Kegiatan dirangkai ritual pelepasan burung oleh umat Hindu, melambangkan pembebasan makhluk hidup. Ritual ini bertepatan dengan hari suci Tumpek Uye, yang menghormati hewan dan tunjukkan kasih sayang.
(ldr)








