Informasi pembukaan Liga AAFI Regional Jayapura. (TIFAPOS.id/Istimewa)
TIFAPOS.id – Liga Asosiasi Akademi Futsal Indonesia (AAFI) Regional Jayapura musim 2025 segera akan bergulir.
Liga ini dilangsungkan dalam format kompetisi penuh (full liga untuk semua kategori). Setiap tim akan bertemu dua kali dengan tim lainnya.
Liga ini dilaksanakan dua kategori usia, yaitu U13 dan U16. U13 menggunakan pemain kelahiran 2012, 2013, 2014 dan U16 pemain kelahiran 2009, 2010, 2011.
Peserta terbatas dengan jumlah, yaitu 8 tim U13 dan 8 tim U16. Waktu pertandingan 2×20 menit untuk U16 dan 2×15 menit untuk U13.
Untuk musim 2025 ini, AAFI Regional Jayapura mengenakan uang pendaftaran sebesar Rp 4.500.000 (free 18 jersey pemain dan 2 jersey goal keeper).
Persyaratan untuk mengikuti liga ini, yaitu harus memiliki akta klub futsal, memiliki pelatih berlisensi minimal level 1 nasional dan bersedia mendampingi tim selama bertanding, serta melunasi biaya pendaftaran.
Ketua AAFI Regional Jayapura, Matias Benoni Mano, S.Par., M.Kp, mengatakan pendaftaran dibuka dari 10 Februari s.d 10 Maret 2025.
“Liga ini sejatinya untuk pembinaan usia dini, bermain full liga bukan kompetisi satu hari,” ujar Matias Mano di Jayapura, Jumat (7/2/2025).
Ia juga mengatakan, melalui liga ini atlet futsal usia dini memiliki kompetensi sehingga hasil latihan bisa dievaluasi agar melahirkan atletik berbakat.
Liga AAFI Regional Jayapura ditujukan untuk akademi-akademi futsal untuk melakukan kompetisi.
Pembinaan atlet usia dini menjadi fokus utama demi menciptakan atlet berprestasi di tingkat daerah, nasional, hingga internasional.
Pembinaan yang sistematis sejak usia dini dinilai penting untuk mengembangkan potensi olahraga, karena usia dini adalah usia emas bagi anak-anak untuk mendapatkan pembinaan.
Ia menilai, fokus pada pembinaan atlet usia muda adalah strategi jangka panjang untuk mencapai prestasi hingga tingkat dunia.
“Untuk mencapai tujuan pembinaan yang baik diperlukan adanya wadah pembinaan yang dapat memenuhi kebutuhan atlet. Pelatih sebaiknya memiliki lisensi,” ujar Matias Mano.






