Beranda / Ragam Berita / Lahirnya pelestari bahasa dari Sekolah Kampung

Lahirnya pelestari bahasa dari Sekolah Kampung

Plt. Sekda Kota Jayapura Evert Nicolas Merauje, S.Sos., M.Si mewakili Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo, S.H., M.H bersama kolega foto bersama peserta didik di Sekolah Kampung. (TIFAPOS/La Ramah)

 

Ringkasan Berita

• Sekolah Kampung didirikan oleh Pemerintah Kota Jayapura di Kampung Kayu Batu dan Kampung Kayu Pulau, dengan peserta sekitar 15 orang dari SD sampai SMP.

• Program berlangsung 24 pertemuan dan berfungsi sebagai pusat pengetahuan lintas generasi yang mengintegrasikan pengetahuan tradisional dengan metode modern.

• Implementasi Peraturan Daerah Kota Jayapura Nomor 5 Tahun 2022 dan Nomor 15 Tahun 2022 tentang Pemajuan Kebudayaan Asli Port Numbay dan Pemajuan Kebudayaan Daerah.

 

LAHIRNYA pelestari bahasa dari Sekolah Kampung merupakan inisiatif yang diambil oleh Pemerintah Kota Jayapura, untuk melestarikan bahasa daerah dan budaya lokal melalui pendidikan berbasis kearifan lokal.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan kebudayaan Kota Jayapura, Grace L. Yoku, S.Pd., M.Pd mengatakan, Sekolah Kampung didirikan di Kampung Kayu Batu dan Kampung Kayu Pulau, diikuti 15 orang dari SD sampai SMP dengan guru yang berasal dari kampung tersebut dan menguasai bahasa daerah.

Sekolah Kampung yang berlangsung 24 kali pertemuan ini, berfungsi sebagai pusat pengetahuan lintas generasi yang mengintegrasikan pengetahuan tradisional dan metode modern untuk memperkuat identitas masyarakat.

Inisiatif ini merupakan bagian dari implementasi Peraturan Daerah Kota Jayapura Nomor 5 Tahun 2022 tentang Pemajuan Kebudayaan Asli Port Numbay serta Peraturan Daerah Nomor 15 Tahun 2022 tentang Pemajuan Kebudayaan Daerah Kota Jayapura.

Pendekatan ini menekankan pemberdayaan masyarakat adat setempat melalui pendidikan lokal yang relevan dan bermakna, serta memperkuat penggunaan dan pelestarian bahasa daerah sebagai aset budaya penting.

Selain itu, terdapat usaha khusus seperti pembuatan buku ajar bahasa daerah (misalnya bahasa Tobati) dan revitalisasi bahasa berbasis sekolah sebagai langkah preventif menghadapi ancaman kepunahan bahasa lokal di Kota Jayapura.

“Di Kota Jayapura, terdapat tujuh bahasa daerah yang terancam punah karena banyak penutur aktifnya telah meninggal dunia, dan generasi muda banyak yang mulai beralih menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa asing seperti Inggris,” ujar Yoku pada penutupan Sekolah Kampung di Kantor Kampung Kayu Batu, Sabtu, 27 September 2025.

Dampak langsung Sekolah Kampung adalah meningkatkan kesadaran dan kemampuan berbahasa daerah di kalangan generasi muda, menghidupkan kembali penutur aktif bahasa lokal, dan memfasilitasi transfer pengetahuan budaya dan kearifan lokal dari generasi tua ke muda.

Selain itu, sekolah ini juga memperkuat identitas komunitas dan menjaga kontinuitas budaya asli Port Numbay, yang mencakup bahasa, seni, dan tata cara adat masyarakat setempat.

Tantangan seperti pernikahan campur dan kecenderungan anak muda mempelajari bahasa luar tentu masih ada, namun melalui keberadaan Sekolah Kampung, masyarakat didorong untuk kembali menggunakan bahasa ibu di lingkungan mereka.

Sehingga Sekolah Kampung berkontribusi penting dalam menurunkan laju hilangnya bahasa daerah di Jayapura, namun diperlukan dukungan jangka panjang dan kesadaran kolektif untuk hasil optimal

Materi di Sekolah Kampung meliputi pelajaran yang menitikberatkan pada membaca, menulis, berhitung, dan keterampilan praktis dengan pendekatan yang disesuaikan dengan potensi dan kekayaan alam daerah setempat.

Materi pembelajaran tidak hanya soal bahasa, tapi juga budaya seperti cara memasak makanan tradisional, tari-tarian, pengobatan tradisional, kehidupan lokal.

Selain itu, mata pencaharian, dan upacara adat serta keterampilan praktis dengan pendekatan disesuaikan dengan potensi dan kekayaan alam daerah setempat, yang semuanya diajarkan dalam bahasa daerah.

Anak-anak juga belajar peran dalam upacara adat, mengenal barang-barang sakral, dan mempelajari mantra atau ucapan tradisional. Pembelajaran juga disusun agar tidak mengganggu waktu sekolah formal anak-anak, biasanya dilakukan di luar jam sekolah resmi.

“Kami menggelar lomba kepada peserta didik untuk mengukur kemajuan siswa secara objektif dan memberikan pengakuan atas pencapaian mereka, yang dapat meningkatkan rasa percaya diri. Kami juga berikan sertifikat. Selanjutnya Sekolah Kampung di Skouw,” ujar Yoku.

Plt. Sekda Kota Jayapura Evert Nicolas Merauje, S.Sos., M.Si mewakili Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo, S.H., M.H mengharapkan, menjadi wadah efektif dalam melestarikan bahasa ibu dan budaya lokal yang integral bagi identitas komunitas kampung, melalui pembelajaran yang autentik dan berbasis kearifan lokal.

“Sekolah Kampung menjadi salah satu langkah strategis dalam memberikan akses pendidikan yang merata dan berkualitas kepada masyarakat yang membutuhkan di Kota Jayapura,” ujar sekda.

 

(ldr)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *