Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Grace L. Yoku, S.Pd., M.Pd. (TIFAPOS.id/La Ramah)
TIFAPOS.id – Kota Jayapura, Papua, saat ini membutuhkan tenaga peneliti di bidang arkeologi untuk memenuhi kebutuhan penelitian terhadap situs budaya.
Pemerintah daerah berupaya mengatasi kekurangan ini dengan menjalin kolaborasi dengan peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), namun mereka telah kembali ke Jakarta.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Grace L. Yoku, S.Pd., M.Pd, mengatakan kekurangan tenaga peneliti menjadi tantangan signifikan.
Terutama dalam pengembangan riset di Kota Jayapura, sehingga kolaborasi dengan berbagai pihak dianggap sebagai solusi kunci untuk mengatasi permasalahan ini.
“Saya berharap anak-anak muda di Kota Jayapura tertarik mengambil mata kuliah arkeologi,” ujar Yoku di Kantor Wali Kota Jayapura, Senin (17/3/2025).
Yoku menjelaskan, arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan manusia di masa lalu melalui analisis sistematis terhadap artefak dan data bendawi yang ditinggalkan.
Ini mencakup penemuan, dokumentasi, dan interpretasi artefak, prasasti, serta ekofak yang memberikan wawasan tentang kehidupan dan budaya manusia kuno.
Ia juga mengatakan, arkeologi bertujuan untuk memahami sejarah dan perubahan budaya manusia, serta perilaku masyarakat dari masa lalu, melibatkan rekonstruksi sejarah budaya dan cara hidup manusia berdasarkan sisa-sisa material yang ditemukan.
“Penelitian arkeologi umumnya dilakukan melalui teknik penggalian (ekskavasi) dan survei. Arkeolog juga menggunakan berbagai disiplin ilmu bantu seperti sejarah, antropologi, dan geologi untuk mendukung analisis mereka,” ujar Yoku.
Ia juga mengatakan, arkeolog adalah profesional yang terlibat dalam penelitian dan penemuan benda-benda bersejarah.
Mereka tidak hanya bekerja di lokasi-lokasi bersejarah tetapi juga dapat menemukan artefak di tempat-tempat tak terduga, seperti pekarangan rumah.
“Arkeologi memainkan peran penting dalam memperkaya pemahaman kita tentang sejarah manusia dan budaya kuno,” ujar Yoku.






